Foto : Akademisi Universitas Brawijaya Kota Malang Rachmat Kriyantono, Ph.D. (ist)

BACAMALANG.COM – Akhir-akhir ini kehidupan berbangsa dan bernegara terasa memprihatinkan karena tercabik-cabik oleh upaya melakukan pecah belah persatuan NKRI dengan bingkai isu SARA (Suku Agama dan Ras).

Sebut saja contoh adalah kasus Ustad Abdul Somad soal salib dan kerusuhan akibat isu sara Papua.

Sebagai konsep solusi untuk memperkokoh kembali persatuan dan kesatuan bangsa, akademisi Universitas Brawijaya menilai pentingnya menjalankan konsep Islam Nusantara bagi umat Islam.

Hal ini karena Islam Nusantara, merupakan suatu cara menjalankan syariat dengan tanpa kehilangan jati diri/identitas ke-Indonesia-an kita.

Hal ini dikatakan akademisi Universitas Brawijaya Kota Malang Rachmat Kriyantono, Ph.D dalam interview via WhatsApp, Rabu (4/9/2019).

“Islam Nusantara, merupakan suatu konsep yaitu menjalankan syariat dengan tanpa kehilangan jati diri/identitas ke-Indonesia-an kita,” tegas pria yang sehari-harinya menjabat sebagai Ketua Program Studi S2 Komunikasi UB (2017-sekarang) itu.

Dikatakannya, menjalankan syariat Islam, adalah sama dengan menjaga Identitas bangsa.

Dipaparkannya, agama Islam itu sudah jadi dan sempurna (QS 5:3). Demikian pula dengan Nusantara itu sudah jadi. Yakni sudah ada sistem pemerintah dan sosial yang mapan, bahkan menjadi super power di era itu (mulai Kutai, Sriwijaya, Singosari, hingga Majapahit).

Lakum dinukum waliyadin (toleransi beragama) sudah ada, ekonomi, seni budaya juga sudah mapan. Selanjutnya Islam masuk. Islam bertemu dengan Nusantara.

“Sudah jadi bertemu sudah jadi. Jika salah mengoplosnya (meramunya) maka bisa tidak berbentuk. Inilah bijaknya wali songo. Mereka para habaib/sayyid yang menyebarkan Islam. Mereka pintar meramu, jangan sampai Islam mengganggu tatanan sosial yang sudah mapan ini. Islam itu rahmatan lil aalamin, bukan merusak tatanan,” terangnya.

Diungkapkannya, namun jangan sampai pula syariat Islam tidak dijalankan .

Menurut Rahmat, para wali ini pun mengenalkan Islam dengan meramu titah Allah bahwa ‘tidak ada paksaan dalam agama’ (QS 2:256), diramu dengan perintah ‘tegakkan amar ma’ruf nahi munkar dan fastabiqul khairat’ (QS 3:104, 110), diramu dengan ‘umat Islam itu ummatan wasathan (QS 2:143, di tengah menjaga keseimbangan), diramu dengan “perintah lita’aruf dalam perbedaan” (QS 49:13), diramu dengan “dalam berdakwah gunakan bahasa kaumnya” (QS 14:4), diramu dengan “perintah tegakkan kalimat tauhid” (QS 7:158; QS 41:6), maka hasil ramuan ini menghasilkan akulturasi yang indah, damai dan rahmatan lil aalaamin, yakni menjadikan budaya sebagai infrastruktur/instrumen menjalankan syariat.

Budaya bukan syariat sehingga dipilih budaya yang tidak bertentangan dengan syariat. Budaya adalah produk interaksi masyarakat Nusantara yang tertanam jauh sebelum Islam datang. Sehingga budaya adalah identitas bangsa.

Tanpa identitas, maka tiada kebanggaan. Tanpa kebanggaan, suatu bangsa mudah goyah. Inilah Islam Nusantara, suatu cara menjalankan syariat dengan tanpa kehilangan jati diri/identitas ke-Indonesia-an kita.

“Jadilah orang Indonesia yang beragama, bukan umat beragama yang ada di Indonesia”, Sehingga dimanapun kita berada, ke- Indonesia-an ini tetap melekat. Ke-Indonesia-an ini yang bisa menjadi perekat satu persaudaraan dalam NKRI,” jelas Rahmat.

Islampun mengajarkan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah insaniah (persaudaraan sesama manusia sesama ciptaan Tuhan meski berbeda agama, ras, budaya), dan ukhuwah wathoniah (persaudaraan dlm satu tanah air).

Hadratussyech KH Hasyim Asyari pada tahun 1916 juga pernah mengatakan, Hubbul waton minal iman”, cinta tanah air sebagian iman.

Karena itu, penting bagi kita untuk memahami sejarah sesuai jargon JASMERAH (Jangan Sekali-kali Meninggalkan sejaRAH), kata Bung Karno. Termasuk memahami jasmerah tentang penyebaran Islam di Nusantara.

Pewarta : Had Tris