Foto : Dr Sabkhan Rosidi, Direktur Pascasarjana IBU (ist)

BACAMALANG.COM – Wacana dan rencana Indonesia akan mengimpor rektor asing menuai tanggapan pro dan kontra di kalangan akademisi di Malang Raya.

Salah satunya adalah komentar pedas dan kritis dari DR Sakban Rosidi, M.Si, Direktur Sekolah Pascasarjana, IKIP Budi Utomo Kota Malang.

Menurut Sakban, gagasan buka peluang jabatan rektor PTN bagi orang asing adalah cermin kegagalan dan bahkan keputus-asaan Menristekdikti.

Setelah melalui berbagai kebijakan akrobatik, yang tak mampu mendongkrak bahkan sekadar sikap ilmiah, profesional dan inovatif dosen dan mahasiswa, jalan pintasnya adalah memperkerjakan orang asing.

Mirip klub-klub sepakbola profesional Indonesia. Agak bertaburan pelatih dan pemain asing.

Apa bisa memajukan persepabolaan kita? Bergantung tolok-ukur yang digunakan.

Sebagai profesi, bisnis dan hiburan, persepakbolaan kita sangat menjanjikan.

Sepakbola sebagai piranti perjuangan belum seperti yang digagas oleh Letkol Ir Soeratin Sosrosoegondo.

Jika bertanding melawan klub Belanda, PSSI tidak boleh kalah. Begitulah perintah lisan Soeratin, salah satu pendiri sekaligus Ketua PSSI pertama.

Membayangkan rektor PTN kita adalah orang asing, seperti membayangkan PSSI dipimpin oleh orang asing. PTN dan PSSI adalah representasi NKRI.

Urusannya tak hanya memenangkan persaingan dan pertandingan, tetapi sudah menyentuh ranah nilai patriotisme dan nasionalisme.

Saya curiga, logika pembangunan pendidikan, termasuk pendidikan tinggi kita sepertinya sudah salah arah dan strategi.

Arah kita selalu mengejar ketertinggalan, bukan merintis jalan baru.

Strategi kita selalu menetapkan program studi dan jenis pendidikan, dan memaksa peserta didik tak peduli dan tak pernah berusaha mengetahui secara objektif apa bakat dan minatnya memasuki program studi dan jenis pendidikan yang telah disediakan.

Tanpa revolusi arah kebijakan pendidikan, maka posisi Indonesia akan tetap mengejar ketertinggalaan.

“Tanpa revolusi strategi pendidikan, maka kelas-kelas sekolah dan ruang-ruang kuliah akan tetap menyia-nyiakan bakat dan minat siswa dan mahasiswa. Dosen dan mahasiswa bukan hanya barisan orang kecewa, tetapi bahkan sudah menjadi barisan orang putus-asa,” tegas Sakban.

Pewarta : Had Tris