Foto : Sajian seismitas. (ist)

BACAMALANG.COM – Berdasar laporan data yang dikeluarkan BMKG Karangkates dalam Kajian Seismitas tanggal 13-19 September 2019, terjadi peningkatan intensitas gempa bumi.

Dalam sajian Seosmitas wilayah Jatim 13-19 September 2019 dari stasiun Geofisika Malang, disebutkan jika terjadi 21 kali gempa di Jatim dan sekitarnya atau pada Minggu ketiga di bulan September.

Gempa pertama terjadi pada 15 September 2019 dengan kekuatan M 3,8 dirasakan di Donomulyo dengan intensitas I-II MMI.

Sedangkan pada tanggal 19 September 2019 terjadi gempa M 5,6 dirasakan di Denpasar dengan intensitas IV-V MMI , Pacitan III MMI, Cilacap dan Malang II MMI.

Sementara untuk tanggal 19 September 2019 terjadi dua kali gempa.

Gempa ketiga dengan M 6.0 dirasakan di Madura, Malang III MMI, Cilacap, DIY, Lumajang, Tuban, Trenggalek dan Surabaya dengan intensitas II-III MMI.

Sementara sumber gempa pertama berada pada M 3,8 di selatan Malang, gempa kedua M 5,6 di Timur laut Rembang dan gempa ketiga M 6.0 di timur laut Rembang.

Terkait hal tersebut Musripan Kepala BMKG Karangkates memberikan beberapa himbauan sebagai peringatan dan kewaspadaan bagi warga Malang Raya.

Dikatakannya, dengan sering terjadinya gempa-gempa di Jawa timur tentu itu adalah sebagai bukti di bawah terjadi pertemuan lempeng tektonik indo-Australia dan Eurasia sangat aktif sehingga terjadi gempa bumi.

Musripan menuturkan, untuk masyarakat dihimbau harus memahami kondisi tersebut.

Masyarakat harus bisa melakukan evakuasi mandiri untuk wilayah pantai apabila terjadi gempa bumi dan berpotensi Tsunami.

Sehubungan dengan hal itu BMKG telah melakukan berbagai hal.

Diantaranya meliputi pemberian informasi tentang gempa bumi kepada masyarakat secara lengkap dan mendetail.

Selain itu juga memberikan informasi terkait gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami.

Tidak hanya itu, BMKG juga menjalankan penempatan peralatan EWS sebanyak 15 unit.

Tindakan BMKG lainnya adalah melakukan edukasi melalui SLG (Sekalah Lapang Geofisika) bersama BPBD.

“Upaya sosialisasi juga kami lakukan lewat program Goes to schooll yang diharapkan masyarakat semakin memahami upaya penyelamtan secara swadaya jika terjadi bencana tsunami atau gempa,” pungkas Musripan.

Pewarta : Had Tris