Foto : Mohamed Ali Galai Elfouly. (ist)

BACAMALANG.COM- Setiap tahunnya, jumlah mahasiswa asing yang menempuh studi di Indonesia terus bertambah dan membutuhkan sarana untuk ajang interaksi.

Guna memudahkan interaksi mahasiswa asing yang tengah menempuh pendidikan di Indonesia, akan dibuat website asosiasi mahasiswa internasional.

Hal ini dikatakan Mohamed Ali Galai Elfouly, mahasiswa lembaga Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang terpilih sebagai Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) International Student Assosiation (ISA).

“Kami ingin bisa berinteraksi dengan sesama mahasiswa asing yang tengah menempuh pendidikan Indonesia dengan mudah. Sehingga jika terjadi sesuatu mereka bisa menghubungi kami. Selain itu, bisa sebagai tempat untuk menyebarluaskan informasi tentang asosiasi ini,” ungkap Fouly, Rabu (7/11).

Seperti diketahui, selain keluar sebagai pemenang dalam lomba cerdas cermat keIndonesiaan di rangkaian acara International Student Summit (ISS) 2019 yang diadakan oleh Kemenristekdikti, Mohamed Ali Galai Elfouly, mahasiswa lembaga Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terpilih sebagai Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) International Student Assosiation (ISA).

Gelar Wapresma itu disandang Fouly, sapaan akrabnya, pada 3 November saat berlangsungnya pertemuan mahasiswa internasional di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).

Agenda ini merupakan ajang pertemuan tahunan mahasiswa asing yang tengah belajar budaya dan bahasa Indonesia. Fouly terpilih dalam konferensi pemilihan Presiden maupun Wakil Presiden mahasiswa internasional ISA.

Selain Fouly, ada lima orang lagi yang mendaftar menjadi calon presiden mahasiswa. Mereka dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), bahkan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Adapun negara asalnya dari Thailand, Sudan, Mesir, hingga Korea. Di hari kedua konferensi, Hussein Gebreel Musa dari UMY asal Sudan yang akhirnya terpilih menjadi presiden mahasiswa ISA.

Di kepengurusannya setahun ke depan, Fouly akan membuat website asosiasi mahasiswa internasional.

Fouly telah memilih satu orang di tiap kota untuk menjadi koordinator. “Melalui website ini, nantinya saat kita (mahasiswa asing) telah pulang ke negaranya masing-masing, dan telah menduduki jabatan-jabatan penting di negaranya, perlu kita sebarluaskan informasi tentang mereka. Karena mereka pernah berproses bersama dan juga pernah menjadi bagian dari asosiasi ini, saat berkuliah di Indonesia,” pungkas Fouly. (Hum/Had)