Foto : Plt Bupati Malang (ist)

BACAMALANG.COM – Derasnya gempuran budaya asing yang masuk ke Indonesia dikhawatirkan menggerus eksistensi budaya lokal.

Sebagai upaya untuk memperkenalkan dan mengajak generasi muda melestarikan dan mencintai budaya asli Indonesia, Pemkab Malang mengadakan Festival Karya Tari Jaran Kepang di Pendopo Kabupaten Malang di Kepanjen beberapa waktu lalu.

Festival Karya Tari (FKT) diikuti sembilan grup dan Festival Jaran Kepang (FJK) diikuti sebanyak 22 grup

Setelah melalui perjuangan dan seleksi ketat akhirnya terpilih tiga penampil terbaik yaitu dari Festival Karya Tari (FKT) dan Festival Jaran Kepang (FJK).

Untuk kategori FKT : Tiga Penampil Terbaik diraih pertama Kecamatan Kepanjen (Sumber Songo), kedua Kecamatan Wonosari (Sesaji Jawi), ketiga Kecamatan Ngajum (Raden Ajeng Putri).

Grup Sumber Songo Kepanjen juga meraih predikat Penata Tari Terbaik FKT dan Penata Musik Terbaik.

Sedangkan, Raden Ajeng Putri Ngajum juga menyabet predikat Penata Busana Terbaik.

Sementara untuk kategori FJK terpilih tiga Penampil Terbaik meliputi Kecamatan Wonosari, Kecamatan Ngajum dan Kecamatan Pakisaji.

Untuk Penata Tari Terbaik diraih Kecamatan Pakisaji, Penata Musik Terbaik diraih Kecamatan Wonosari, dan Penata Busana Terbaik diraih Kecamatan Kasembon.

Plt. Bupati Malang, Drs. H.M. Sanusi, MM bersama istri dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang turut hadir dalam event spesial ini.

Plt Bupati memberi atensi positif kegiatan ini karena sebuah bangsa akan berdiri kokoh salah satunya berasal dari kemampuan bangsa tersebut menjaga dan menghargai kebudayaannya sendiri.

Generasi terdahulu selalu berupaya menanamkan nilai-nilai positif kebudayaan lokal, yang disaat bersamaan hadir sebagai jati diri bangsa Indonesia.

Kesenian Tari Jaran Kepang adalah salah satu kesenian otentik Jawa Timur.

Secara estetika dan dalam penampilan, tarian ini memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri dari gerakannya tersebut serta lekat dengan sisi spiritual masyarakat Jawa kuno.

Tetapi pada perjalanan waktu, dengan semakin minimnya pengetahuan dan minat masyarakat terhadap kesenian Jaranan, maka sekarang para pelaku kesenian ini juga semakin sedikit.

Maka melalui pelaksanaan kegiatan ini, diharapkan eksistensi tari Jarang Kepang dapat kembali memasyarakat seperti masa kejayaannya, sehingga tidak hilang ditelan zaman karena kesenian ini merupakan aset yang juga harus dilestarikan.

“Diharapkan kegiatan ini dapat semakin melestarikan seni dan budaya daerah sekaligus menjadikannya sebagai aset yang memiliki nilai jual khususnya dalam rangka membantu perkembangan dunia pariwisata,” tegas Sanusi.

Pewarta : Had Tris