Foto : Akademisi UB, Rachmat Kriyantono, Ph.D (ist)

BACAMALANG.COM – Menristek RI bersikukuh menjalankan kebijakan impor rektor, dan menuai beragam tanggapan dari akademisi di tanah air.

Ada hal positif dari wacana ini yakni tergugahnya kesadaran anak bangsa untuk berkompetisi karena harus diakui Perguruan Tinggi di Indonesia masih jauh ketinggalan dalam lingkup Internasional.

Hal ini dikatakan akademisi Universitas Brawijaya Kota Malang Rachmat Kriyantono, Ph.D dalam interview via WhatsApp, Selasa (3/9/2019).

“Di beberapa negara, dekan dan rektor asing sudah biasa. Ada hal positif dari wacana ini yakni tergugahnya kesadaran anak bangsa untuk berkompetitif,” tegas pria yang sehari-harinya menjabat sebagai Ketua Program Studi S2 Komunikasi UB (2017-sekarang).

Dikatakannya, harus diakui, Perguruan Timggi Indonesia masih jauh ketinggalan dalam lingkup Internasional.

“Saya kira bisa saja rektor asing berkompetisi melamar jabatan rektor. Tentu harus jelas standar kriterianya. Mungkin dengan ini, potensi-potensi SDM kita bisa muncul,” terang alumnus Ilmu Komunikasi FISIP Airlangga ini.

Dipaparkannya, yang urgent juga adalah, jangan sampe kualitas pikir SDM dipacu tapi melupakan adab ke-Indonesia-an.

Hal ini yang harus ada dalam kurikulum pendidikan untuk menjadi standar penting kualitas universitas.

Pria jebolan Doctor of Communication & Public Relations (Ph.D) School of Communication, Edith Cowan University, Western Australia (2011) ini menjelaskan jika rektor asing harus memenuhi beberapa kriteria.

Yaitu Rektor harus memiliki Unique selling point tentang inovasi apa yang akan dihasilkan. Bila perlu ada target waktu pencapaian. Jika tidak tercapai bisa dipecat.

Kedua, ia harus memahami dan mengadopsi nilai kultural kita dalam program-programnya.

Ketiga, mempunyai program regenerasi kepemimpinan, yakni mencetak SDM kita untuk bisa menggantikan dengan kualitas yang bersaing.

“Jadi rektor asing ini mediator mencetak pola pikir inovatif pada anak bangsa,” tutur Rachmat.

Pewarta : Had Tris