Foto : Budidaya jamur (ist)

BACAMALANG.COM – Saat ini permintaan pasar akan jamur cukup besar, dan petani atau pembudidaya jamur kewalahan menyediakan pasokan.

Terkait hal tersebut, pembudidaya Jamur minta diberikan bantuan peralatan pengolah jamur dan pelatihan kepada dinas terkait, agar hasil produksi bisa dimaksimalkan.

Hal ini dikatakan Teguh Santoso pembudidaya jamur Tiram di Bumiaji Kota Batu kepada awak media Selasa (3/9/2019).

“Permintaan jamur sangat banyak, sampai kami kewalahan memenuhi. Makanya kami minta diberikan bantuan peralatan untuk pengolahan dan pelatihan agar hasil optimal,” tegas Teguh.

Teguh menuturkan, potensi jamur Tiram di Kecanatan Bumiaji Kota Batu layak mendapatkan atensi untuk pengembangan.

Hal ini karena terbukti sukses menjadi sumber nafkah warga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Mewakili pembudidaya lainnya, Teguh menjelaskan pembudidaya jamur Tiram disini mengeluh karena belum bisa membeli peralatan untuk mengolah jamur Tiram menjadi Crispy.

Selain itu, mereka juga sambat untuk pengurusan ijin produk jamur Crispy yang memakan waktu lama dan mahal.

Pembudiaya jamur menilai harga mesin pengolah (packaging) produk jamur Crispy harganya mahal.

Teguh Santoso menceritakan, dirinya mulai menjalankan budidaya sejak tahun 2012, setelah berhenti menjadi pemain sepak bola Persema.

Setelah berhenti, ia mencoba berjuang menekuni usaha budidaya jamur Tiram, dengan modal pas-pasan. 

Berkat kesabaran dan ketekunan, ia sekarang bisa eksis menjadi petani Jamur Tiram yang sukses.

Tidak tanggung-tanggung, sekarang ia mampu memproduksi sebanyak 3.000 bag log (bibit jamur dalam plastik), dengan omset rata-rata Rp. 8 juta per bulan.

Bahkan penjualan jamur bisa tembus sampai luar Malang yaitu sampai Mojokerto, Kediri dan Lamongan.

Dikatakannya, kemampuan produksi Jamur Tiram (krispi) mencapai 40 bungkus setiap hari.

Menariknya, permintaan jamur krispi dan bibit jamur Tiram sangat tinggi, sehingga kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar.

Karenanya, ia berupaya mengajak pemuda kampung untuk ikut menbudidayakan jamur Tiram, karena prospektif dan menjanjikan.

Pihaknya kewalahan memenuhi permintaan pasar yang terlalu banyak. Makanya kami mengajak anak muda disini ikut bersama bertani Jamur Tiram.

Selain peralatan, ia juga membutuhkan pelatihan cara budi daya untuk memaksimalkan produksi.

“Selayaknya petani jamur Tiram mendapatkan pelatihan karena usaha ini bisa menjadi alternatif lapangan kerja bagi anak muda,” pungkasnya.

Pewarta : Had Tris