Foto : Ketua LBH Peradi Malang Raya, Iwan Kuswardi. (yog)

BACAMALANG.COM – Guna menguak tabir kasus mutilasi di Pasar Besar Malang, Penasihat Hukum (PH) Iwan Kuswardi SH MH, selaku PH dari terdakwa mutilasi terdakwa Sugeng Santoso (49) warga Jodipan Gang III, Kota Malang, akan menghadirkan ahli pidana materiil pada sidang berikutnya.

“Agar dapat mengungkap kasus mutilasi melibatkan Sugeng, kami akan menghadirkan ahli pidana materiil dalam persidangan selanjutnya,” tutur Ketua LBH Peradi Malang Raya, Iwan Kuswardi usai sidang lanjutan mutilasi, Senin (13/1/2020) petang.

Iwan menuturkan, hingga persidangan yang baru usai ini belum bisa diketahui kapan peristiwa tepatnya Sugeng melakukan mutilasi. Berdasarkan pengakuan Sugeng, peristiwa itu dilakukan satu hari sebelum puasa. Sedangkan dari hasil autopsi, diketahui dilakukan pada hari ketiga puasa.

“Sebenarnya yang cocok ini yang hasil autopsi, namun kita tidak bisa memaksa Sugeng karena dia ingatnya satu hari sebelum puasa. Itu berarti tanggal 5 (Mei 2019), itu tidak cocok dengan hasil otopsi,” terang Iwan.

Dengan begitu, Iwan menilai Jaksa Penuntut Umum (JPU) gagal dalam menentukan waktu pelaksanaan mutilasi yaitu tanggal 7 Mei 2019, sebab Sugeng tetap bersikukuh dilakukan pada tanggal 5 Mei 2019.

“Dari visum juga diketahui jika jasad korban dipotong post mortem. Ini karena bukti pembunuhan tidak ditemukan disebabkan jasad hancur,” pungkasnya.

Selain itu, lanjut Iwan, Sugeng juga mengaku melakukan mutilasi dalam kondisi kepala dan tangan korban tidak bergerak. Untuk itu, pihaknya mengusulkan untuk dihadirkan ahli pidana materiil pada sidang berikutnya.

Kehadiran ahli pidana materiil ini, nantinya bisa menerangkan berdasarkan ilmu yang dikuasai terhadap dakwaan dari jaksa kepada Sugeng. “Saya akan hadirkan guru besar dari Universitas Brawijaya Malang,” jelasnya.

Langkah yang dilakukan Iwan ini, dikarenakan pihaknya masih berkeyakinan jika Sugeng bukanlah pelaku pembunuhan terhadap korban seperti yang dituduhkan oleh jaksa.

“Saya khawatir Sugeng ini bukan pelaku pembunuhan, namun hanya menjadi kambing hitam. Fakta lain adalah dari sekitar 14 saksi yang dihadirkan, sampai sekarang belum satupun yang melihat pelaku pembunuhan,” tutup Iwan. (Had).