Foto : Tropical Forest (ist)

BACAMALANG.COM – Kabar bahagia bagi kamu para penggemar musik reggae, pasalnya salah satu band kenamaan Tropical Forest telah merilis single terbarunya dan video klip ‘Mahameru’. Single pembuka dari album ketiga Tropical Forest yang tengah dalam proses pengerjaan ini, resmi diluncurkan dalam momen spesial Jambore Musik Kemerdekaan Peduli Semeru di kawasan Ranupani, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Minggu (18/08/2019) lalu.

Event tahunan yang dimotori oleh Gimbal Alas Indonesia ini, turut dihadiri sejumlah rekan musisi Jatim, para pegiat alam, pendaki, dan tentu saja tuan rumah warga Ranupani. Elemen ini menyatu dalam suasana alam Semeru dan semangat Ke-Indonesiaan. Spirit yang diusung dalam lagu ‘Mahameru’.

“Tetap menyuarakan alam. Nature Sound: Culture, Nature & Art,” ujar Unyil, sang vokalis Tropical Forest.

Sedikit banyak, penciptaan lagu ini didasari oleh pengalaman pribadi Unyil yang sudah beberapa kali mendaki Semeru. Alam liar yang selalu memberi atmosfir baru bagi jiwa, bagaimana berkomunikasi dengan lingkungan tanpa merusak, dan penghormatan kepada kebudayaan lokal dalam hal ini Suku Tengger.

“Single dan video klip ini adalah kesatuan. Bercerita tentang pengalaman personal perjalanan ke puncak tertinggi di Jawa: Mahameru, di Gunung Semeru. Baik lagu maupun di video klipnya, kita tidak menyoroti bagaimana pendakian yang dianggap benar atau salah. Karena TNBTS selaku pengelola kawasan sudah punya peraturan yang jelas. Kita fokus ke sisi spiritual selama pendakiannya,” jelas Unyil.

Lirik Mahameru ditulis oleh Unyil sendiri pada 2019. Dalam proses rekaman, Tropical Forest menggaet Grave Records. Mixing-mastering oleh Republik Uye Studio (Bastian Cozy). Sementara video klip mulai digarap pada Ramadhan 2019. Keseluruhan pengambilan gambar berlokasi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Disutradarai oleh Didit Pras dan editor Ahmad Istiqlal. Tropical Forest berkolaborasi dengan pegiat alam Totok Wahono dari Gimbal Alas Indonesia sebagai main cast dalam video klip ini.

“Ada nuansa baru dalam kami bermusik di lagu Mahameru, dan album ketiga nanti. Baik dalam tema, maupun sound. Konsepnya berubah banget. Kami menyebutnya Reggae Ambience,” kata Unyil.

Meski banyak memasukkan unsur ambience sound, band yang terbentuk pada 2003 ini masih berpegang pada benang merah musikalitas reggae yang mereka usung semenjak album pertama (Bumi Merintih, 2010) dan album kedua (Nature Scene, 2016).

“Kita ingin karakter bermusik yang berbeda dari album sebelumnya. Bisa dikata, kita berkesperimen di musik. Kita masukkan soul forest dalam ambience tersebut. Saya rasa akan memperkuat lirik-liriknyanya nanti. Akan banyak nuansa baru yang akan dibangun. Pendengar akan merasa seolah-olah berada di alam bebas,” pungkas Unyil.

Semenjak berdiri pada 2003 lalu, Tropical Forest mulai menapaki jalur indie pada 2008 dengan mengeluarkan karya EP Self Tittled. Kiprah band yang digawangi Unyil (vokal), Andre (bass), Sandri -Koko (gitar), Daffa (keyboard) dan Miko (drum) ini tak hanya dikenal dalam bermusik, namun pergerakan mendukung berbagai komunitas lokal yang utamanya menyuarakan kepedulian terhadap isu lingkungan. (*)