Foto : Peringatan 1 Muharam di Gunung Kawi (ist)

BACAMALANG.COM – Tradisi peringatan 1 Muharam Gunung Kawi Kabupaten Malang menjadi atraksi wisata budaya tahunan yang sakral dan eksotik sekaligus wujud rasa syukur atas karunia yang maha kuasa.

Plt Bupati Malang, Sanusi menerangkan prosesi adat di Gunung Kawi harus tetap lestari. Sanusi memuji masyarakat yang masih merawat tradisi hingga kini.

“Ini merupakan agenda nasional. Saya ingin para generasi muda melestarikan budaya kawi yang sudah menasional,” ujar Sanusi.

Sanusi menuturkan agar para pengelola pariwisata bisa membuat pengunjung senyaman mungkin.

Untuk itu peningkatan kualitas SDM menurutnya harus digalakkan.

“Nanti melalui dinas pariwisata untuk mengedukasi masyrakat agar berperilaku sopan kepada semua  wisatawan dan juga membuat wisatawan yang datang ke sini ini nyaman. Sehingga nanti kembali lagi,” ungkap Sanusi.

Foto : Petingatan 1 Muharram (ist)

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang, Made Arya Wedhantara mengatakan, sudah melakukan berbagai macam sosialisasi untuk meningkatkan pengetahuan para pelaku usaha pariwisata.

“Sudah berkali-kali kami lakukan sosialisasi, seminar dan sertifikasi kepada pengelola tempat wisata. Di Kabupaten Malang menunjukkan tak hanya wisata alam. Namun, lengkap dengan wisata budayanya,” jelas Made.

Seperti diketahui, Pesarean Gunung Kawi, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, sudah dipadati para peziarah dan wisatawan sejak pagi, Minggu (1/9/2019).

Khalayak dari berbagai generasi usia dan gender membaur menjadi satu berjalan menuju arah pesarean.

Para pedagang di sana turut meraup berkah atas melubernya jumlah kunjungan wisata di Pesarean Gunung Kawi.

Membludaknya kunjungan di Pesarean Gunung Kawi karena mereka ingin menyaksikan pawai sengkala peringatan 1 Muharram atau Suro.

Pengunjung dibuat terpana dengan keberadaan ogoh-ogoh.

Bentuknya macam-macam. Ada ogoh-ogoh berbentuk kuda, buto, garuda, dan tokoh pewayangan.

Di depan ogoh-ogoh, para penari tunjukkan keindahan tarian. Serasi dengan harum semerbak dupa yang tercium sepanjang hari.

Ternyata, setiap kelompok merupakan bagian dari 14 RW di Desa Wonosari.

Tariannya beragam. Mulai dari tari Jawa, Bali hingga kesenian Banjari.

“Butuh waktu satu bulan untuk merangkai konsep ogoh-ogoh ini,” ungkap Hendro warga setempat.

Puncak kemeriahan Gebyar Suro Pesarean Gunung Kawi terletak pada pembakaran sengkala.

Pembakaran dilakukan di pelataran Tribun Gunung Kawi.

Masyarakat yang sudah menanti sejak pagi hari dibuat tak sabar dengan atraksi yang melibatkan pembakaran ogoh-ogoh berbentuk buto berwujud menyeramkan.

Maknanya, buto sengkala itu dibakar sebagai representasi penghapusan nafsu angkara murka dan segala sifat buruk dalam diri.

Dengan harapan, hanya menyisakan sifat baik yang juga membawa menuju kehidupan lebih bermanfaat.

Pewarta : Had Tris