Foto : Dr. Sakban Rosidi, M.Si. (ist)

BACAMALANG.COM – Media massa Malang Raya dan nasional sedang viral dengan berita pembunuhan di ladang tebu di Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang Senin (9/9/2019).

Peristiwa tragis ini memantik atensi publik, akademisi dan pakar psikologi sosial.

Seperti diketahui, remaja berinisial ZL (17) nekat menusuk pria yang memalaknya karena tersulut emosi.

Bukan hanya karena meminta paksa barang berharga yang dimilikinya, tapi korban juga diyakini hendak memperkosa pacarnya.

Fakta ini terungkap dari terbunuhnya Misnan (35), akibat luka tusuk di ladang tebu Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Senin (9/9/2019) siang.

Terkait kejadian tragis ini, pakar psikologi sosial berpesan kepada publik khususnya anak muda (pelajar) agar tidak berpacaran di tempat sepi dan gelap.

Demikian dikatakan dosen filsafat pendidikan, Pascasarjana IKIP Budi Utomo, Dr. Sakban Rosidi, M.Si. dalam wawancara via WhatsApp Rabu (11/9/2019) siang.

“Itu seperti mengundang penjahat. Bukan hanya penodong dan begal, tetapi juga pemerkosa,” terang Sakban.

Selanjutnya pria yang juga Direktur Sekolah Pascasarjana, IKIP Budi Utomo Malang ini mengungkapkan agar pelajar tidak membawa senjata tajam, walaupun beralasan untuk pelajaran prakarya.

“Pelajar tidak boleh bawa pisau untuk prakarya, karena berkemungkinan disalahgunakan dalam perkelahian dan tawuran,” tegas akademisi moderat tetapi kritis ini.

Sakban menilai secara sosiologis, ini merupakan kasus ruwet karena tersangka, sedikit banyak telah menyumbang pada kejadian perkara.

Hal ini terlihat dari pilihan tempat berduaan, senjata tajam dalam begasi motor, serta ketiadaan saksi selain tersangka dan pacarnya.

Walhasil baru ada satu versi urutan dan motif kejadian. “Polisi pasti bertindak profesional, tidak hanya bersandar pada pengakuan tersangka, tetapi juga pihak lain yang terlibat,” jelasnya.

Sakban menuturkan, polisi juga pasti tidak mengandalkan fakta sesaat dan setempat, tetapi juga hubungannya dengan kejadian-kejadian sebelumnya.

“Terlepas dari persoalan hukum, kejadian ini menggambarkan bagaimana kasus kejahatan dan kebermoralan saling berkelindan,” tegas Sakban.

Dikatakannya, juga karena tersangka adalah seorang pelajar, maka juga jelas kalau penyerapan nilai moral dan norma sosial telah gagal, tidak hanya oleh tersangka, pacar tersangka, maupun korban penusukan dan begal yang kabur.

“Mestinya kalau serius mau jaga kehormatan pacar, ya jangan diajak pacaran di tempat sepi dan gelap. Ajak belajar demi masa depan, berpenampilan santun, tidak cenderung mesum. Iya kan?” jelas Sakban.

Bukan hanya memberikan pesan moral terkait perilaku ZL, Sakban juga mewanti-wanti siapa pun termasuk begal yang berhasil kabur.

“Banyak pilihan hidup kok malah jadi begal. Ingat, nasib sial selalu menghantui begal. Bisa terbunuh mengenaskan, dan mungkin pula diamuk massa, ditangkap polisi masuk penjara tanpa kesempatan hidup tentram bahagia. Perlu diingat, tidak ada jalan lain menuju kebahagiaan, terkecuali melalui kebaikan,” pungkas Sakban.

Pewarta : Had Tris