Foto : Peringatan 1 Suro di Balekambang (ist)

BACAMALANG.COM – Segala karunia Illahi dan buah baik dari perjuangan para leluhur wajib disyukuri dan dilestarikan.

Warga yang baik adalah mampu menguri-uri (melestarikan) tradisi leluhur, termasuk salah satunya adalah menjalankan peringatan tanggal 1 Suro bagi warga Srigonco Bantur.

Hal ini dikatakan oleh Kepala Desa Srigonco, Bambang Setyono kepada para jurnalis, Senin (29/7) siang.

Ia mengungkapkan, selain merupakan tradisi Jawa, hal itu juga adalah warisan turun temurun nenek moyang.

Dikatakan, selain larung sesaji juga diadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Untuk judul ceritera dalam pagelaran wayang kulit nanti, tentu saja diharapkan bisa membuat guyub rukun masyarakat desa Srigonco, Balekambang dan sekitarnya.

Terkait program pembangunan di desa berpenduduk 4647 jiwa ini, Kades menjelaskan, untuk program pembangunan tahun 2019 saat ini, salah satunya membangun embung/tandon air di Dusun Krajan.

Adapun tujuan dibangunnya embung dengan alokasi DD (Dana Desa) ini, yakni untuk mengairi kawasan persawahan warga desa Srogonco.

“Biar perekonomian masyarakat lebih mapan dan sejahtera. Dan yang terpenting persatuan kesatuan, rasa guyub rukun serta semangat dalam bergotong royong membangun desa meningkat,” jelas Bambang.

Foto : Kepala Desa Srigonco, Bambang Setyono (ist)

Seperti diketahui, sekilas tentang sejarah pantai Balekambang merupakan pantai yang indah dan sudah dikenal warga lokal sejak tahun 1978-an.

Pada tahun tersebut, seorang perangkat desa Srigonco membuka akses jalan sehingga orang dari luar desa tersebut lebih mudah mencapai Balekambang.

Lima tahun kemudian, Pantai Balekambang diresmikan oleh Bupati Malang kala itu yaitu Eddy Slamet.

Semenjak itu, nama Pantai Balekambang makin melambung.

Keindahan yang ditawarkannya cukup menarik wisatawan sehingga terus berkembang dan kini menjadi salah satu andalan wisata pantai di Kabupaten Malang.

Konon, orang yang pertama membuka hutan di Pantai Balekambang bernama Syaikh Abdul Jalil, seorang ulama “sakti” yang berasal dari Yogyakarta.

Saat ini, makam Syaikh Abdul Jalil yang berlokasi sekitar 1 kilometer dari Pantai Balekambang, banyak diziarahi oleh umat muslim dari berbagai daerah.

Pada bulan Suro/Muharram, jumlah jamaah yang berkunjung baik untuk memperingati tahun baru hijriyah maupun wisatawan biasa yang ingin menyaksikan prosesi ‘Suroan’ melonjak.

Pewarta : Had Tris