Foto : Kibarkan merah putih (ist)

BACAMALANG.COM – Bak menjalani replika nasib Pejuang dan Pahlawan Republik Indonesia yang penuh kegetiran dan kepahitan dalam merebut kemerdekaan.

Begitulah kata singkat untuk menggambarkan perjuangan dari pemuda karang taruna Desa Jombok, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, dalam membangun tempat bendera hingga pengibaran bendera besar baru-baru ini.

Betapa tidak, apa yang dilakukan selama sekitar satu Minggu oleh sekelompok pemuda Karang Taruna Desa Jombok Ngantang, sempat dicibir warga lain, karena mereka berulangkali naik turun gunung Gendero sembari membawa material dan perkakas untuk membangun tempat bendera berukuran besar.

Andita (25), selaku Ketua Karang Taruna Desa setempat menuturkan, pihaknya merasa bersyukur karena meski penuh perjuangan dan kerja keras akhirnya acara berjalan lancar dan sukses.

Tidak kurang ada total 120 orang ikut dalam kegiatan heroik ini.

Secara rinci peserta terdiri dari 30 mahasiswa KKN Universitas Tri Buana Tunggadewi Malang, 20 mahasiswa KKN UMM, 57 pemuda pemudi Desa Jombok, 4 perangkat desa beserta kepala desa dan 9 perwakilan warga desa.

Tidak Kuat Naik, Separuh Peserta Gugur

Ironisnya, karena tidak kuat melewati Medan jalan yang terjal dan menanjak, separuh dari peserta tidak sanggup meneruskan perjalanan.

Gunung Gendero mempunyai tinggi 1040 mdpl dengan view yang menarik.

Jika kita bisa mencapai puncak, maka bisa menikmati pemandangan Gunung Kelud, Gunung Arjuno, Gunung Kawi, Gunung Anjasmoro dan Gunung Dworowati.

Pemandangan plusnya adalah kita bisa menikmati pemandangan Waduk Selorejo, juga 70 persen wilayah Kecamatan Ngantang, Kasembon dan Kediri.

Andita pun berharap, agar setiap anggota karang taruna bisa semakin kompak dalam mengembangkan semua potensi yang ada di Desa Jombok.

Ia mengungkapkan dengan adanya gebrakan ini, semoga pihak pemerintah desa menunjukkan kepeduliannya terhadap gagasan-gagasan yang digaungkan oleh pemuda. Yaitu dengan memberi suport maksimal baik secara moril maupun materiil.

Hal ini dikarenakan pemuda ibarat anak ayam yang kehilangan induknya, karena harus pontang panting menjalankan kegiatan dengan tenaga dan finansial yang swadaya dan mandiri.

Foto : Upaya pengibaran (ist)

Banyak Kendala

Andita menjelaskan, untuk bisa merealisasikan rencana mengalami beberapa kendala yang tidak sedikit.

Yaitu pada saat gladi bersih dan saat proses pembangunan tempat bendera kekurangan jumlah penggarap.

Hingga akhirnya pagi hari sebelum acara, dilakukan pemasangan bendera kecil di sepanjang jalan menuju puncak Gunung Gendero.

Dikatakan Andita, rencana setelah ini, pihaknya akan membuat kelompok sadar wisata.

Direncanakan dalam tim ini nanti diisi dengan anggota yang loyal dan total dalam mengembangkan potensi wisata yang ada di desa Jombok terutama Gunung Gendero.

Andita mengungkapkan, pihaknya nanti akan mendesak pemerintah desa memberi perhatian lebih, dengan menyisihkan sebagian anggaran dana desa untuk pengembangan tempat wisata di Gunung Gendero.

Berkat kerja keras dan perjuangan tidak kenal lelah, akhirnya kegiatan patriotik ini menuai komentar positif dari warga.

Warga merasa kagum dan bangga dengan usaha jibaku pemuda karang taruna Jombok hingga acara berjalan sukses dengan hasil yang bagus.

Dianggap Gila

Apresiasi dan respon warga seolah menjadi pengobat hati, karena sebelumnya warga menilai perilaku pemuda karang taruna dinilai aneh dan bahkan mirip orang gila.Karena mereka setiap hari mengangkut aneka material seperti batu bata, pasir, semen, bambu dan kerangka besi ke puncak gunung Gendero.

Untuk total biaya, Andita menjelaskan dari awal belanja material sampai pembangunan dan dokumentasi menghabiskan kisaran Rp 6 juta. Pemakaian biaya lebih banyak untuk membeli rokok dan minuman suplemen penambah stamina.

Terkadang mereka juga membeli roti, namun sangat irit, karena khawatir kehabisan dana sebelum acara selesai. Andita merasa sedih karena sebagai ketua karang taruna tidak bisa memberikan apa-apa ke teman-teman yang loyal, yang rela bersusah payah dan capek menggarap tempat tiang bendera.

Termasuk merasa iba karena teman-temannya terpaksa meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menyukseskan acara. Sementara untuk menjalankan kegiatan ini hanya diberi upah rokok dan minuman suplemen.

Bahkan untuk konsumsi rokok sangat terbatas, karena untuk satu pak harus disedot beramai-ramai. Ukuran bendera yang dikibarkan berukuran 6 x 10 meter.

Andita khawatir jika ukuran bendera terlalu besar tiang bendera bisa patah karena tempat bendera masih baru dicor.

Ia berencana untuk peringatan 17 Agustus tahun depan membuat bendera dengan ukuran lebih besar dan nantinya dikibarkan di bukit Kingkong tidak jauh dari Gunung Gendero.

“Semoga apa yang kami lakukan mendapat atensi dari pemerintah desa dan pihak lain, agar di tahun depan bisa mengibarkan bendera berukuran lebih besar. Semua ini diharapkan bisa menumbuhkan rasa heroisme dan cinta tanah air,” tukas Andita.

Pewarta : Had Tris