Foto : Rektor Unira, Hasan Abadi (ist)

BACAMALANG.COM – Wacana dan rencana Indonesia akan mengimpor rektor asing memantik tanggapan pro dan kontra di kalangan akademisi di Malang Raya.

Salah satu tanggapan kritis dan pedas dilontarkan DR Sakban Rosidi, M.Si, Direktur Sekolah Pascasarjana, IKIP Budi Utomo Kota Malang menilai hal tersebut sebagai kegagalan dan bahkan keputus-asaan Menristekdikti.

Berbeda dengan Sakban, Rektor Unira Malang, DR. Hasan Abadi, SAg MAP menyatakan mendatangkan rektor dari luar negeri bermanfaat untuk percepatan PTN Indonesia menjadi world Class university.

Namun selayaknya insan akademik tidak melupakan akar budaya bangsa agar nasiolisme dan cinta tanah air tidak meluntur.

“Pada intinya saya setuju saja adanya wacana itu. Hal ini penting untuk percepatan menjadi world Class university, namun jangan lupakan akar budaya bangsa,” tegas Hasan dalam wawancara via WhatsApp, belum lama ini.

Pria yang dinyatakan lulus dengan predikat ‘sangat memuaskan’ dalam ujian terbuka promosi doktor Program Doktor Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini mengatakan, jika rektor asing yang akan memimpin PTN di Indonesia, tidak ada masalah, karena memang perlu terus berkompetisi untuk menjadi world class university.

Namun jangan lupa pendidikan tinggi di Indonesia tidak boleh “jomplang”, perlu juga di perguruan-perguruan tinggi swasta dikirimi dosen-dosen asing yang bermutu yang dibiayai oleh negara.

Juga, anggaran pendidikan perlu lebih banyak diberikan ke pihak PTS, jangan sampai PTS dianaktirikan, karena bagaimanapun PTS ini membantu pemerintah dalam membangun SDM yang tidak bisa dijangkau semua oleh PTN.

Yang juga perlu diperhatikan jangan sampai nanti PTN itu kemudian setelah mendapat rektor asing, kemudian hilang akar budaya bangsa.

Lebih baik kalau pemerintah itu mencontoh Jepang dan China, dimana budaya akademiknya bisa berubah lebih baik tapi budaya bangsanya tetap kuat.

Bandingkan dengan Singapura yang sepertinya sudah mulai kehilangan identitas kebangsaannya. “Kita bisa mencontoh China dan Jepang karena budaya bangsa tetap kuat meski budaya akademik bagus karena mengadopsi dari luar,” tukas Hasan.

Pewarta : Had Tris