Foto : Husnun Djuraid (ist)

BACAMALANG.COM – Karyanya dalam bidang jurnalis akan tetap hidup dan amalan baiknya sebagai penceramah pasti akan menolongnya saat menghadap Sang Khalik. Itulah yang penulis yakini saat mendengar kabar bahwa Husnun Nadhor Djuraid, senior kami menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (4/8/2019).

Sosok panutan yang satu ini memang dikenal hobi berolahraga, sesekali juga bermain bola bersama rekan – rekan wartawan lainnya. Namun siapa sangka, pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua KONI Kota Malang ini, collaps dan harus dilarikan ke IGD RS Dr Soetomo Surabaya saat mengikuti Samsung Surabaya Marathon 2019 10 K. Di rumah sakit milik Pemprov Jatim inilah, Husnun yang juga sering mengisi ceramah di masjid – masjid ini dinyatakan meninggal dunia.

Beberapa hari sebelumnya, pada 1 Agustus 2019 kemarin, Husnun masih sempat mengikuti perayaan ulang tahun Malang Post, media yang didirikannya. Dua hari sebelum, tepat pada tanggal 2 Agustus 2019, Husnun juga masih menghadiri rapat dengan pengurus Koni Kota Malang. Kepergian Husnun menghadap ke pangkuan Allah SWT pada hari ini, membuat rekan – rekannya terutama pengurus KONI tidak menyangka.

“Beliau tidak menunjukan pesan apapun. Tentu kami sangat kehilangan dan tak menyangka jika rapat (KONI) itu merupakan rapat terakhirnya. Beliau sangat aktif di KONI, tentu kami kehilangan sosok Pak Husnun. Beliau tidak hanya sekedar teman tetapi sahabat, dan bahkan sudah seperti saudara,” kata  Ketua Koni Kota Malang, Edy Wahyono.

Kabar kepergian wartawan kelahiran 15 Februari 1959 ini, juga membuat rekannya – rekannya ataupun orang yang mengenalnya ikut mengantarkan jenazahnya dari rumah duka di Jalan Digul nomor 2 Perum Srikandi, Bunulrejo Kecamatan Blimbing Kota Malang ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngujil, Jalan Binor sekitar pukul 14.30 WIB, siang tadi. Bahkan Wali Kota Malang Sutiaji, juga merasakan kehilangan sosok Husnun Djuraid.

“Saya sangat terkesan degan Pak Husnun, dia sosok yang sempurna, wartawan yang juga seorang ulama, gagasanya patut di contoh,  dan keilmuanya  sangat dalam. Karena itu kami sangat kehilangan,” terang Sutiaji.

Untuk diketahui, Husnun N Djuraid pada 60 tahun silam lahir di Bibis, Tandes Surabaya. Sejak SD, SMP hingga SMA, Husnun memilih bersekolah dibawah naungan Muhammadiyah di Surabaya. Setelah lulus, bekerja di perusahaan kayu milik temannya di Semarang, Jawa Tengah.

Setelah sempat bekerja beberapa saat, Husnun memutuskan untuk melanjutkan kuliah di FPOK (Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan) IKIP Semarang. Sambil menempuh perkuliahan, Husnun juga mengajar di beberapa sekolah di Salatiga dan Semarang. Sampai akhirnya, Husnun yang lulus dengan gelar SPd, diangkat sebagai guru PNS di STM Pembangunan Semarang.

Status sebagai PNS ini ternyata tak membuatnya puas. Ia pun akhirnya mencari tantangan baru dan menyalurka kegemarannya menulis. Pada tahun 1989, Dahlan Iskan menerimanya sebagai wartawan Jawa Pos oleh yang bertugas di Biro Semarang. Dunia jurnalistik inilah yang membuat Husnun keluar dari PNS.

Ketekunannya selama menjadi jurnalis di Semarang ini, membuat Husnun dipercaya Jawa Pos sebagai Kepala Biro sekaligus redaktur halaman Jateng dan DIY pada tahun 1993. Tidak sampai setahun, Husnun dipindah ke Malang sebagai Kepala Biro dan redaktur Jawa Pos di Malang. Ketika Jawa Pos menerbitkan harian Bhirawa dari Malang pada tahun 1990-an, Husnun pun ditunjuk sebagai redaktur pelaksana (Redpel).

Almarhum kini meninggalkan isterinya Sri Eko Puji Rahayu, seorang dosen UM jurusan tata busana.  Selain itu juga empat anaknya, yakni Fahrizal Tawakal (seorang ahli desain grafis berdomisili di Jakarta), Ade Arinal Zaki (guru SMK pariwisata di Batu), Amalia Kotsaria (dokter gigi), dan Aulia Ramadana (mahasiswa UM jurusan Akuntansi).


Editor : Prayoga