danone
talkshow bicara gizi untuk mencegah malnutrisi bagi anak penderita pjb (ist)

BACAMALANG.COM – Melalui talkshow bertajuk ‘Bicara Gizi’, Nutricia Sarihusada mengajak orang tua mengenali ciri untuk mendeteksi dini serta manajemen nutrisi pada anak dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB).

Masalah malnutrisi pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (dalam masa kandungan sampai anak berusia dua tahun) masih menjadi tantangan bagi masa depan anak-anak Indonesia. Kondisi medis khusus seperti PJB pada anak dapat mempersulit pemenuhan nutrisi yang diperlukan, sehingga apabila tidak ditangani dengan tepat, dapat berujung pada kondisi kekurangan nutrisi.

Nutricia Sarihusada sebagai bagian dari Danone Specialized Nutrition, dalam rangka Hari Jantung Nasional mengadakan acara ‘Bicara Gizi’ dengan mengajak para ahli, komunitas, serta wartawan dan bloggers di Kota Malang untuk berdiskusi mengenal tanda-tanda serta kebutuhan nutrisi anak dengan PJB untuk membantu tumbuh kembang yang optimal.

Bicara Gizi adalah program edukasi yang diinisiasi oleh Danone untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran nutrisi untuk mendukung kesehatan masyarakat di masa-masa penting kehidupan. Selain mengadakan talkshow edukasi, karyawan Danone di Indonesia juga berpartisipasi.

Corporate Communication Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin mengatakan asupan nutrisi anak harus dipenuhi melalui makanan. Hal itu akan membantu tumbuh kembang anak.

“Anak-anak harus tetap dipenuhi kecukupan gizinya melalui makanan dalam keadaan kesehatan apapun, karena asupan nutrisi melalui makanan akan membantu tumbuh kembang dan daya tahan tubuh mereka,” ujarnya dalam rilis yang diterima Bacamalang.com, Sabtu (19/10/2019).

Perlu diketahui, PJB diderita anak dengan kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang terjadi akibat adanya gangguan atau kegagalan perkembangan struktur jantung pada fase awal perkembangan janin. Nafas pendek atau nafas cepat, susah makan, keringat berlebihan saat makan, sianosis (kulit,bibir dan kuku berwarna kebiruan) dapat menjadi tanda adanya Penyakit Jantung Bawaan.

Berdasarkan letak dan tingkat keparahannya, lebih dari 34 jenis PJB telah teridentifikasi dan kebanyakan menghambat aliran darah pada jantung dan pembuluh darah sekitarnya atau dapat menyebabkan aliran darah yang abnormal dari atau jantung.

Konsultan Kardiologi Anak, Dr. Dyahris Koentartiwi, SpA(K) menjelaskan angka kejadian PJB di Indonesia mencapai 43.200 kasus.

“Di Indonesia, angka kejadian PJB diperkirakan mencapai 43.200 kasus dari 4,8 juta kelahiran hidup’, yaitu sekitar 7 – 8 diantara 1000 kelahiran setiap tahunnya. Bila tidak terdeteksi secara dini dan tidak ditangani dengan baik, resiko pasien tidak terselamatkan mencapai 50 % pada bulan pertama kehidupan. Selain itu, salah satu peningkatan morbiditas dan mortalitas yang berkaitan dengan malnutrisi pada anak dengan PJB, diperlukan deteksi dini dan pemberian nutrisi yang intensif sesuai pengawasan dokter.” Jelas

Secara umum penyebab timbulnya malnutrisi dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu: masukan kalori yang tidak adekuat, absorbsi dan pemanfaatan yang tidak efisien, dan atau peningkatan kebutuhan energi/kalori. Pada anak dengan PJB, asupan yang tidak memadai terjadi akibat kesulitan makan karena susah menghisap, menelan, lelah saat makan dan adanya pembatasan cairan membuat anak dengan PJB membutuhkan tatalaksana nutrisi yang berbeda.

Anak yang dilahirkan dengan kelainan jantung bawaan akan meningkatkan resiko kondisi gagal tumbuh karena asupan gizi yang tidak adekuat dan kesehatan yang tidak optimal serta ketergantungan pada bantuan medis di Rumah Sakit.

Sementara Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak Dr. Anik Puryanti, spA(K) memaparkan anak yang menderita PJB memerlukan asupan nutrisi yang intensif dan berkalori tinggi.

“Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan memerlukan asupan nutrisi yang intensif dan makanan tinggi kalori untuk memberikan optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan serta kualitas hidup yang lebih pada anak. Hal tersebut meliputi pemantauan dengan melakukan diagnosis status gizi dan masalah nutrisi; menentukan kebutuhan kalori, protein, jumlah cairan; menentukan rute pemberian nutrisi; jenis makanan; serta monitoring keberhasilan. Dengan pendekatan tersebut, anak dengan PJB diharapkan dapat terhindar dari kondisi serius seperti malnutrisi dan stunting yang dapat memperburuk kesehatannya,” ujarnya.