Foto : Event Indonesia Blade Cabang Malang. (ist)

BACAMALANG.COM – Kebanyakan masyarakat  memandangnya pisau  sebagai senjata tajam yang berbahaya. Padahal, sejatinya pisau itu hanya alat bantu dalam kehidupan. Dengan artian pisau diciptakan untuk mempermudah  dalam membantu dalam kehidup dan digunakan sesuai peruntukannya.

Di Tanah Air misi kita adalah memberitahu bahwa pisau adalah alat bantu kerja bukan senjata,” kata Viki Wijaya, salah satu pengurus Indonesia Blade Cabang Malang, Sabtu ,(21/12/2019).

Pisau memiliki nilai seni tinggi, tidak dibuat asal tajam. Akan tetapi, didesain sedemikian rupa dengan mempertimbkan kegunaannya. Selain memberi pengetahuan tentang pisau kepada anggotanya, Indonesian Blade juga menjadi wadah bagi para pandai besi untuk meningkatkan mutu hasil karya pandai besi agar bisa diakui pasar Internasional serta menjalin hubungan persaudaraan .

Indonesian Blade hadir untuk menjadi wadah berkarir bagi pandai besi yang ingin membuat pisau bermutu untuk menembus pasar internasional,” ucapnya.

Awalnya, Blade Malang rutin melakukan pertemuan sebagai upaya mempererat tali silaturahmi dan berbagi informasi seputar pisau dari para pecinta pisau, pengguna pisau, pembuat pisau, hingga kolektor pisau yang ada di Malang Raya dan se – Indonesia.

Sebagai ajang silatuhrahmi peserta diikuti dari berbagai Kota Jakarta ,Banyuwangi  dan Kota – kota yang ada di Jawa Timur.

Menurutnya, saat ini masih mengadopsi standar dan aturan dari International Knife Throwers Hall of Fame (IKTHOF), Amerika Serikat, baik untuk standardisasi pisau maupun aturan-aturan kompetisi.

Panjang pisau 30,5-40,6 cm, sementara beratnya minimal 250 gram. “Modelnya macam-macam, hanya sama di berat dan panjang,” ujar Viki Wijaya. 

Cara melempar pun tidak sembarangan. Paling tidak ada tiga teknik yang dinilai paling benar. Pertama, teknik spin atau memutar. Teknik ini paling mudah, terutama untuk pemula. Kemudian, teknik half spin atau setengah memutar. “Saat dilempar, pisau melayang lurus. 

Sesaat sebelum mencapai sasaran, pisau berbalik dengan posisi mata pisau mengarah pada sasaran,” ujarnya.

Terakhir teknik no spin atau tanpa putaran. Sejak awal dilempar, mata pisau sudah mengarah ke sasaran dan tidak berputar.

Dalam kompetisi, jarak lempar dibatasi, dari 2 meter sampai 7 meter. Jarak ganjil dan genap masing-masing ada cara tersendiri bagaimana memegang pisau, begitu pula dengan teknik lempar yang dipakai.

“Kalau pakai teknik spin pada jarak genap, pisau harus dipegang pada bagian blade atau ujung runcing. Sebaliknya, jika jarak ganjil, pisau dipegang pada handle,” katanya.

Harapannya, dengan event ini  terbangun solidaritas kebersamaan  sesama pecinta seni pisau se – Indonesia  dan bisa diwadahi sebagai event nasional dalam membawa nama baik Kota Malang Raya dalam mendukung sektor wisata. (Yon)