Foto: prosesi pemberangkatan jenazah ke makam bungkuk singosari. (ist)

Pagi itu menjelang pukul 04.00 dini hari, Rabu 11 Muharram 1441 H, bertepatan dengan 11 September 2019 M, aku dibangunkan seorang santri senior sekaligus guru yang mengajariku Al Qur’an di pondok. Saat itu aku tengah nyenyak tidur di salah satu kamar lantai bawah Pondok. Guru itu bernama Cak Imam Hambali (santri kesayangan Kiai Badawi Umar). Sambil mengguncang-guncangkan punggungku, Cak Imam memberi tahukan Kiai Badawi wafat. pada jam-jam itu adalah saat dimana beliau membangunkan santri untuk sholat tahajud. “Kiai Badawi sedo! Kiai Badawi sedo!”

Aku terkejut dan segera bangun mendengar suara itu. Kulihat Cak Imam bersimpuh menangis senggugukan. Akupun sedih dan bingung mendengar berita itu sebab sebelumnya tak ada kabar serius mengenai Kiai Badawi. Namun aku tak mampu meneteskan air mata sebagaimana Cak Imam. Air mataku beku mendengar Kiai Badawi wafat. Kepergian Kiai Badawi untuk selamanya begitu mengguncangkan jiwaku. Aku teringat “hutangku” pada Kiai Badawi. Aku teringat sebuah pesan beliau agar tetap mondok dan menjadi santri yang baik, karena sebelumnya berkali-kali aku ditegur oleh Kiai. Beberapa menit kemudian Cak Imam mengumumkan di speaker Langgar Genteng, terdengar sebuah isakan tangis ketika Cak Imam berkata “Innalillahi wa inna ilaihi roojiun”, seketika itu pecah dan seluruh santri terbangun bingung, ada apakah ini? Warga berdatangan juga menanyakan keberadaan sekarang dan kapan akan dimakamkan.

Menjelang subuh semua santri menangis serentak. Mereka amat bersedih hati telah kehilangan Kiai Badawi yang mereka cintai dan hormati. Suara tangis itu terdengar dari luar pondok hingga radius puluhan meter. Beberapa warga pun berdatangan, karena kedekatan Kiai dengan warga sungguh dekat. Lebih-lebih warga yang ikut berjamaah di Langgar Genteng. Kiai selalu hadir setiap ada undangan warga, Kiai suka membantu warga, Kiai juga memberikan pekerjaan atau peluang usaha untuk warga, hingga pengobatan gratis untuk warga yang sakit.

Ketika hari mulai terang, banyak orang datang ke pondok untuk mengkonfirmasi wafatnya Kiai sekaligus meminta informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pemakaman beliau. Misalnya, dimana beliau akan dimakamkan dan jam berapa upacara pemakamannya. Aku sendiri tidak ikut terlibat dalam pembicaraan penting itu. Aku masih kecil dan tidak banyak tahu apa-apa.

Namun begitu, setelah ada keputuskan Kiai akan dimakamkan pada hari itu juga ba’da Dzuhur di sebelah barat masjid Bungkuk, sesuai dengan isyarat beliau seminggu sebelumnya ingin dimakamkan di Bungkuk. Padahal seminggu sebelumnya Kiai masih menghadiri 100 hari Kiai Tholhah Hasan, para tamu yang hadir masih tidak percaya bahwa Kiai benar-benar sedo. Mereka bercerita panjang lebar tentang sosok Kiai Badawi Umar yang mereka idolakan, beberapa cacak alumni yang datang juga masih menangis atas kepergian Kiai untuk selamanya.

Semakin siang semakin banyak yang berdatangan ke Ndalem, untuk sholat jenazah. Bergantian datangnya tamu dan antrian panjang untuk Sholat jenazah. di Pesantren putri juga tampak padat ibu-ibu dan mbak-mbak yang berdesakan untuk sholat jenazah. Cak Imam memerintahkan untuk santri agar memberikan tempat bagi tamu yang datang dari jauh. Dan para Kiai besar yang selama ini saya lihat hanya dari foto-foto pun juga berdatangan. Alhamdulillah kami bisa melihat langsung dan bersalaman kepada beliau-beliau.

Saya masih ingat sekitar 2 minggu yang lalu saya mengantarkan Kiai, saya sebagai sopir beliau, dan beliau selalu turun untuk parkirkan mobil, terkadang saya malu dan bahkan pernah ditegor ustadz yang lain yang belum tahu bahwa Kiai selalu turun mobil dan memberikan aba-aba ketika keluar dari gerbang pondok. Saat itu Kiai tampak sehat dan kemudian mempersiapkan beberapa lembaran uang kecil untuk diberikan ketika ada polisi cepek.

Penulis: M. Irsyad