Microsoft Rilis Survey Kesopanan Warganet Indonesia, Ini Kata Pakar Linguistik UIN Malang

Foto: Wanita Indonesia pengguna internet (netizen). (ist)

BACAMALANG.COM – Atas adanya rilis survey kesopanan Warganet Indonesia oleh Microsoft, Pakar linguistik dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr Agwin Degaf MA, mengatakan definisi kesopanan yang diterjemahkan Microsoft harus diperjelas lagi termasuk indikator dan penilaian pendukung lainnya.

“Definisi kesopanan atau kesantunan antar budaya tentu berbeda-beda. Yang dimaksud kesopanan oleh Microsoft itu apa dulu. Harusnya diperjelas lagi,” kata Dr Agwin Degaf MA, baru-baru ini.

Ia menyoroti hasil survey yang dirilis Microsoft dalam Laporan Digital Civility Index (DCI). DCI menemukan data buruknya kesopanan (civility) warganet Indonesia dalam menggunakan internet.

Microsoft menyusun laporan tersebut, berdasarkan survei yang diikuti oleh 16.000 responden dari 32 wilayah, yang mana 503 orang responden berasal dari Indonesia. Hasilnya, warganet Tanah Air menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara, alias paling tidak sopan di wilayah tersebut.

Laporan Tingkat Kesopanan Digital

Diketahui, laporan DCI dari Microsoft, merupakan hasil riset yang mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dari seluruh dunia, saat berkomunikasi di dunia maya.

Ia menyontohkan budaya masyarakat di India yang lazim memuji penampilan seseorang dengan mengatakan ‘alangkah gemuknya kamu!’. Lawan bicara tidak akan marah sebab di India, berat badan merupakan indikator kemakmuran dan kesehatan seseorang.

Berbeda dengan di Inggris, ujaran tersebut mengindikasikan penghinaan atau kritik kepada seseorang yang dianggap orang kurus tidak memperhatikan kesehatannya.

“Saat ini sedang marak juga penggunaan istilah body shaming atau dalam kamus Cambridge dikenal sebagai fat shaming. Pada suatu budaya, ujaran dengan menyebut bentuk tubuh mungkin termasuk tindakan mempermalukan atau olok-olokan, namun belum tentu di kultur lainnya hal tersebut berlaku. Siapa tahu dulu ketika misalnya secara tidak sengaja bertemu kawan yang lama tidak berjumpa dan dia berujar “wah kok kamu tambah gemuk,” bebernya.

“Kita tidak marah karena menyadari ujaran tersebut sekedar basa-basi belaka, tidak benar-benar menyampaikan informasi bahwa lawan bicaranya secara fisik bertambah gemuk, namun setelah mengenal istilah body shaming tadi kita kemudian menjadi marah dan menganggap kawan Kita tadi mengatakan sesuatu yang tidak sopan,” katanya.

Dimensi SOSIO-KULTURAL

Pria kelahiran Lamongan (33 tahun) tersebut meminta masyarakat mengembalikan definisi santun dan tidak santun kepada dimensi sosial dan kultural masing-masing pengguna bahasa.

“Tidak serta merta istilah dari Barat kemudian bisa cocok diterapkan dalam konteks sosial dan kultural yang berbeda. Tidak bisa begitu,” tegasnya.

Terdapat cerita tentang seorang dosen asal Inggris yang sedang menunggu bis di halte. Cerita ini disampaikan Agwin dalam wawancara dengan sebuah media online.

Di sana, dia (dosen asal Inggris) bertemu salah satu mahasiswanya dan si mahasiswa bertanya “mau kemana bu?” Bagi orang Inggris, pertanyaan tersebut sangatlah mengganggu dan tidak sopan. Hanya saja si dosen kemudian menyadari bahwa dalam kultur China, pertanyaan “mau kemana” adalah wujud keramahan tanpa mengharapkan jawaban eksplisit.

Dosen tersebut juga belajar bahwa sapaan di Inggris biasanya menyebutkan cuaca, seperti ‘Hai, hari ini dingin ya?’ Sedangkan di China, mereka menyapa dengan mengatakan ‘Hai, apakah Anda sudah makan siang?’, yang sesungguhnya bukan benar-benar undangan mengajak makan, tetapi lebih kepada indikator atas kemakmuran.

Di Indonesia, lazim untuk mengatakan “Saya lihat-lihat yang lain dulu ya” di salah satu toko pakaian misalkan, daripada secara eksplisit mengatakan “baju jelek gini harganya mahal banget” yang tentu akan sangat tidak sopan.

Si pemilik toko tentu juga sudah paham bahwa dengan mengatakan “Saya lihat-lihat yang lain dulu”, si calon pembeli tidaklah tertarik dengan barang-barang yang ada di tokonya.

“Di Inggris Kita tidak bisa mengatakan ‘kami akan menelepon lagi dalam dua hari kedepan’ namun pada kenyatannya kita tidak menelepon lagi dan memang tidak berniat menelepon lagi. Sedangkan pada kultur tertentu, hal tersebut adalah cara yang lebih sopan untuk secara implisit mengatakan saya tidak tertarik,” tukasnya.

Agwin kembali menegaskan, ukuran kesopanan seseorang tentu harus melihat juga dimensi sosial dan kultural tersebut, tidak dapat dipisahkan.

Nissa dan Dayana

Ia melihat responden warganet Indonesia yang hanya berhenti di angka 503. Angka ini kata dia dinilai tidak representatif untuk mengambil kesimpulan bahwa warganet Indonesia paling tidak sopan se Asia Tenggara.

Sebagai perbandingan saja, followers Dayana yang nyaris mencapai 2 juta, kompak melakukan eksodus dengan cara unfollow, sehingga tersisa sekitar 1,3 juta followers. Secara sekilas terdapat hampir 700 ribu warganet Indonesia yang ‘terlibat’ dalam persoalan Dayana dan Fiki Naki.

“Tentu jumlah responden yang hanya 503 itu tidak ada apa-apanya dibanding jumlah akun yang unfollow Dayana itu,” celetuk Agwin.

Satu contoh lagi soal kasus Nissa Sabyan yang dihajar warganet setelah adanya dugaan perselingkuhan dengan Ayus. Dijelaskan Agwin, warganet yang berkomentar membabi buta karena tidak kenal dengan yang bersangkutan (sesama warganet), tidak tahu apakah ia lebih muda atau lebih tua.

Secara umum, mereka mengganggap semua setara saat berinteraksi di media sosial, kecuali memang berteman di kehidupan nyata.

“Ditambah, munculnya akun-akun palsu atau anonim yang tidak menampilkan identitas asli. Tentu semakin sulit dijadikan acuan untuk mengukur tingkat kesopanan. Dan jangan-jangan, dari 503 responden DCI tersebut terdapat beberapa akun palsu atau anonim? Apalagi Indonesia banyak pekerjaan buzzer,” jelasnya.

Jadi Pelajaran Warganet

Kendati demikian, Agwin Degaf justru menjadikan laporan DCI itu sebagai bahan pelajaran bagi warganet Indonesia. Di dunia digital ini, ia mengajak pengguna internet lebih bijaksana dalam berbahasa di dunia maya.

“Kasus selebriti Korea yang memutuskan mengakhiri hidupnya setelah mendapatkan perundungan di media sosial tentu menjadi pelajaran bagi kita semua agar lebih bijak dan sehat lagi dalam menggunakan media sosial,” tuturnya.

Indonesia dikenal dengan bangsa yang ramah dan santun. Beberapa bahasa daerah di Indonesia memiliki tingkat tutur yang menjadi penanda pentingnya sopan santun dalam menjalin sistem hubungan perorangan pada suatu kelompok masyarakat.

“Yang menjadi masalah adalah tingkat tutur ini tidak berlaku di sosial media karena kebanyakan kita berinteraksi dengan orang-orang yang belum kita kenal,” tambahnya.

Ia mengajak masyarakat berpikir panjang ketika memposting atau berkomentar. Sebab, jejak digital akan sangat sulit dihilangkan. “Bukankah terdapat 3 hal yang wajib dijaga karena tidak akan mungkin kembali yaitu waktu, kepercayaan, dan ucapan. Kita bisa meminta maaf atau membuat klarifikasi, namun kata-kata yang sudah terlanjur kita ucapkan tidak akan mungkin ditarik kembali,” pungkasnya. (*/had)