Pakar Komunikasi UB Minta Industri Pariwisata Tidak Terburu-buru Beroperasi, Sebelum Jalankan 2 Poin Ini

Foto: Maulina Pia Wulandari, S.Sos.,M.Kom.,Ph.D. (ist)

BACAMALANG.COM – Seiring berjalannya kebijakan New Normal dari Presiden Jokowi, Pakar komunikasi dan Management Krisis Universitas Brawijaya (UB) Maulina Pia Wulandari, S.Sos.,M.Kom.,Ph.D minta industri pariwisata tidak terburu-buru beroperasi sebelum jalankan 2 poin.

“Industri pariwisata jangan buru-buru beroperasional sebelum menjalankan 2 poin. Yaitu menggunakan waktu untuk masa persiapan, masa transisi dan edukasi. Kedua, menyusun strategi komunikasi pemasaran yang lebih disesuaikan dalam masa transisi,” tegas Maulina Pia Wulandari, S.Sos.,M.Kom.,Ph.D.

Seperti diketahui, kebijakan pemerintah untuk melakukan “new normal life” yang akan dimulai di beberapa daerah membawa angin segar bagi beberapa sektor industri yang sangat terdampak seperti industri pariwisata.

Namun pakar komunikasi dan managemen krisis Universitas Brawijaya (UB), Maulina Pia Wulandari, Ph.D menyarankan agar industri pariwisata jangan tergesa-gesa untuk beroperasi kembali di masa pemberlakuan new normal life.

“Industri Pariwisata jangan buru-buru untuk beroperasional. Gunakan waktu 1 – 3 bulan di awal New Normal Life ini sebagai masa persiapan, masa transisi, dan masa edukasi. Industri Pariwisata harus menghitung dan mempertimbangkan dengan cermat resiko, biaya, dan keuntungan dengan dibukanya kembali dunia bisnis pariwisata”, kata perempuan yang juga dosen Ilmu Komunikasi Fisip UB ini.

Perempuan alumnus SMP 3 dan SMU 3 Kota Malang ini menuturkan, yang harus dilakukan oleh pelaku industri pariwisata saat masa transisi adalah mempersiapkan tempat bisnisnya sesuai standar protokol kesehatan yang telah dikeluarkan panduannya oleh Kementrian Ekonomi Kreatif dan Pariwisata RI.

Bukan hanya sekedar Clean atau bersih saja, tapi pelaku wisata harus benar-benar menerapkan tiga prinsip yaitu Clean (Bersih), Healthy (Sehat), Safe (Aman).

“Pelaku industri pariwisata juga harus melakukan proses latihan atau simulasi penerapan protokol kesehatan di tempat bisnis pariwisatanya sehingga protokol kesehatan menjadi sebuah kebiasaan bagi pelaku industri pariwisata beserta karyawannya,” kata perempuan alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga Surabaya ini.

Selain itu, pelaku industri pariwisata juga membutuhkan waktu untuk mengedukasi dirinya, karyawan, para wisatawan dan masyarakat di sekitar industri pariwisata untuk disiplin pada protokol kesehatan. Dan ini tidaklah mudah untuk mengajak orang lain untuk merubah perilaku masyarakat.

Perempuan yang juga berprofesi sebagai Size Fashion Designer Curvilìnea by Pia Haryono ini menegaskan, bahwa pelaku industri pariwisata harus benar-benar memperhatikan kebersihan, kesehatan, dan keselamatan semua komponen di industri ini

Mulai dari proses pemesanan, keberangkatan, kedatangan, aktifitas berwisata, hingga proses kepulangannya. Jika ada hal yang terlewat, bisa jadi industri pariwisata malah bisa menjadi pemicu terjadinya second wave pandemic Covid–19. 

Menurut alumni program doctoral University of Newcastle ini, pelaku industri pariwisata harus mulai menyusun strategi komunikasi pemasaran yang lebih disesuaikan dalam masa transisi.

Strategi komunikasi pemasaran saat ini bagi industri pariwisata bukan berorentasi pada penjualan tapi justru lebih fokus pada kampanye yang bertujuan edukasi kepada semua komponen dalam industri ini terutama pada wisatawan tentang protokol kesehatan di tempat-tempat dan bisnis pariwisata. 

“Kampanyenya harus menyampaikan pesan bahwa tempat wisata, hotel, transportasi, dan pusat oleh-oleh yang akan didatangi wisatawan bersih, sehat dan aman. Karena masalah inilah yang menjadi kekhawatiran bagi wisatawan untuk melakukan kunjungan wisata ke sebuah tempat,” kata Pia.  

Pesan-pesan dalam kampanye itu bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana seperti mengunggah foto-foto kegiatan bersih-bersih di tempat wisata di sosial media, membuat video sederhana yang menunjukkan kesiapan fisik tempat wisata sesuai protokol kesehatan, mengunggah berbagai poster dan video yang menarik tentang protokol kesehatan yang harus ditaati selama mengunjungi tempat wisata.

“Dari setiap pesan yang disampaikan secara terus-menerus di berbagai saluran komunikasi seperti sosial media dan media massa, InshaAllah wisatawan dan pelaku industri pariwisata akan merasa yakin bahwa industri pariwisata Kita bersih, sehat, dan aman untuk dikunjungi,” pungkas Pia. (had)