Kebangkitan Ekonomi Desa

Foto: Pietra Widiadi. (ist)

Oleh: Pietra Widiadi

Pada masa pandemi ini, kegiatan ekonomi seperti mandeg dan sulit untuk bergerak. Sektor ekonomi kreatif seperti tiba-tiba nyaris berhenti.

Pada kondisi seperti ini ternyata pada sisi lain, menggambarkan sebuah kesempatan untuk mengingatkan kembali bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya digerakkan dari kota, tetapi justru dapat bergerak dari desa.

Jadi ini kesempatan mawas diri bagi kaum agrarian petani, baik itu yang besar dan kecil, utamanya bagi petani pemilik lahan kecil pedesaan di Jawa.

Malang Raya misalnya. Terutama Kabupaten Malang dan Kota Batu, adalah daerah yang menunjukkan wajah agraris. Keagrarisan ini merupakan aset besar bagi warga kabupaten Malang.

Bukan lagi sebuah potensi, yang hanya dipandang indah, namun tak bisa dikelola sebagai sebuah aset milik seseorang.

Contoh gampang, bahwa di desa umumnya lahan pertanian, dan atau perkebunan masih relatif terbuka, meski ancaman semakin besar.

Terbuka artinya bahwa lahan-lahan yang ada dengan peruntukan pertanian kecil, ataupun besar adalah aset untuk bercocok tanam apa saja yang merupakan komoditi pertanian.

Cabai yang pada dasarnya cukup memiliki daya tahan cukup lama, yaitu bisa berproduksi merupakan aset yang tak bernilai.

Dalam lahan kecil sebesar 100 m² saja bisa memberikan nilai ekonomi yang cukup, meski tanpa dijual ke pasar secara langsung.

Tetangga kiri-kanan, tetangga desa bahkan kerabat dan handai taulan di kota adalah pasar terbuka. Catatan penting, bahwa kontak yang tersimpan di memori HP adalah jaringan yang bisa membeli produk usaha pertanian kecil.

Tidak hanya Cabai, Terong, Sawi, Pakcoy, Bawang prei dan tanaman hortikultura lainnya. Komoditi lain yang usianya panjang seperti Kopi, Cengkeh dan buah-buahan musiman desa juga aset yang bisa ditawarkan kepada jaringan yang merupakan pasar terbuka.

Umumnya kontak dan jaringan di memori HP adalah orang yang Kita kenal, atau orang yang sudah mengenal Kita yang dapat menjadi pasar potensial.

Contah lain yang sudah ada, seperti komoditi kopi yang tidak asing di kawasan lereng Gunung Kawi. Komoditi ini perlu dikelola dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman, di mana ngopi adalah sebuah gaya hidup yang umum di kota maupun di desa.

Kawasan Desa Sumbersuko adalah penghasil kopi Robusta, dan tidak perlu menjual kopi secara besar-besaran, tetapi buah kopi cukup dipetik yang merah secara berkala sesuai dengan waktu memerah.

Setelah dijemur dan kering kemudian menjadi oc kopi (istilah lokal di Gunung Kawi untuk green bean) adalah aset utama dan kalau ingin menjual dalam bentuk matang yang sudah digongso (roasting), dengan meroasting di Desa Babatan, jadi petani Sumbersuko tidak perlu punya penggorengan.

Hubungan dengan pasar pengguna akhir kopi, cukup dikelola oleh desa lain sebagai pintu akhir pada pasar. Dengan cara ini akan terjadi perputaran duit, di desa sekitar Desa Sumbersuko.

Cara-cara ini kalau dikembangkan dan dikelola akan sangat membantu geliat ekonomi desa. Apa yang dilakukan dial-foundation, melalui Pendopo Kembangkopi sebagai hub atau business development services atau disebut pula sebagai pemberi jasa layanan pengembangan usaha petani kecil merupakan gerbang menuju kebangkitan tersebut.

Apa yang dikembangkan dan dihubungkan dengan pasar oleh Pendopo Kembangkopi adalah berbagai produk usaha petani kecil di desa. Ini dipaparkan dalam acara Forum Pojok Desa yang dilakukan bersama dengan TVDesa yang dimiliki oleh Kementrian Daerah Tertinggal, Transmigrasi dan Desa.

Sebuah kiat sederhana yang sudah dikenal namun kurang dikembangkan karena umumnya lembaga yang melakukan kegiatan BDS lebih tergiur untuk mendapatkan keuntungan besar. Sedang dalam pengembangan BDS keuntungan yang diperoleh adalah kelestarian, dalam bahasa kerennya disebut berkelanjutan.

Penulis : Pietra Widiadi Founder Dial – Pendopo Kembangkopi