Musim Hajatan, Kenikmatan dalam Berdesa

Foto: Pietra Widiadi. (had)

Oleh : Pietra Widiadi (Praktisi pemberdayaan dan founder Dial Foundation)

Sudah menginjak tahun ke-6, saya tinggal di desa, benar-benar di desa. Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, desa di lereng Timur Gunung Kawi, dan dekat dengan Gunung Katu, tempat pendarmaannya penguasa Tumapel jaman dulu.

Meski cucu dari orang desa, saya nyaris tidak hidup sebagai orang desa karena harus menjadi orang kota karena orang tua.

Merasakan berdesa kalau saya sedang dalam perjalanan ke desa, desa pelosok pas menjalankan tugas.

Bahkan hampir 20 tahun menjadi pekerja NGOs dan selalu berkelidan dari desa ke desa. Belum pernah sekalipun menjadi bagian dari orang desa.

Desa Sumbersuko tidak jauh dari Kota Malang, hanya sekelebatan makan rawon Kacuk, atau rawon Sukun. Meski tidak sejauh seperti bakso Kudusan dan atau bakso Samut di seputaran Tidar.

Desa yang sehari-hari nampak seperti masyarakat agraris, pada dasarnya sebagian besar warga malah bekerja sektor perkotaan, seperti sebagai ahli tukang, banyak macam tukang seperti tukang batu, tukang kayu, tukang taman, tukang ledeng, tukang listrik dan tukang-tukang lainnya.

Selain sebagai pekerja pabrikan yang ada disekitar Malang dan juga sebagai pramuniaga di toko-toko di seputaran kota.

Biodo dan Sinoman

Hari-hari ini, di seputaran Malang, mungkin kota-kota kecil yang masih agraris Jawa, kegiatan biodo atau sinoman masih berlangsung, dan tidak pandang bulu.

Saat ini, di sekitar di mana saya tinggal, di desa Sumbersuko itu, hajatan adalah pusat dari keramaian melakukan kerja gotong royong.

Perempuan melakukan biodo, dan kaum laki-laki terlibat dalam sinoman. Kegiatan ini mendukung tetangga yang sedang hajatan, baik itu sunatan, nikahan atau sekedar selametan untuk kehidupan rumah tangganya.

Sejauh ini, dari para peneliti sosial, banyak yang menyatakan bahwa hajatan dalam masa Kita sudah tidak lagi menarik karena hajatan menguras kekayaan dan tabungan yang melakukan hajatan.

Sehingga ada upaya mendorong menghapuskan hajatan di pedesaan dilakukan secara rasional. Hal ini, nampaknya dilakukan dengan menggunakan cara berpikir kaum urban, dimana rasionalitas menggunakan dana dan berhemat dianggap jauh lebih penting.

Perputaran Uang dan Gotong-royong

Benarkah hajatan ini, memiskinkan? Menarik, dari hajatan sunatan tetangga, pak Slamet namanya, hajatan sunatan yang dilaksanakan ternyata mendorong perputaran uang yang kencang. Dalam waktu kurun 3 minggu semua dipersiapkan dengan cermat dan matang.

Mungkin hal ini kalah dengan EO yang katanya sangat professional. Bagaimana tidak, dengan menggerakkan tetangga dengan sebutan sinoman, bisa mengumpulkan pisang di dapur dengan ukuran 5×5 meter persegi, mengumpulkan beras, dan bahan makanan yang lain.

Pembelian dilakukan dengan seksama, pada hari hajatan. Para tentangga laki-laki perempuan bergantian melakukan dukungan dengan gotong-royong, dari membuat kue dan sampai memasak untuk para tamu dan para tetangga yang ikut biodo dan sinoman.

Hampir 1 ton beras dikonsumsi dan 1 sapi dan 2 kambing jadi santapan pokok dalam hajatan ini.

Tidak tanggung-tanggung ada sekitar 1.000 undangan disebarkan dan pada hari H, yang dilaksanakan selama 2 hari. 90% undangan hadir, untuk bersalaman ngobrol dengan yang punya hajat dan para kerabat, lalu makan dan menikmati hidangan dan tidak lupa juga meninggalkan amplop hajatan dan dicatat satu-persatu, atau ada yang membawa bahan makan dan apa saja, itu pun dicatat.

Semua ada maksudnya, yaitu melakukan perputaran untuk mengembalikan apa yang sudah diterima. Jadi hajatan ini, seperti arisan saja.

Sendi Sosial Kuat

Hajatan menjadi ajang pertemuan sosial yang disebut dengan modal sosial, maksudnya adalah bahwa dalam situasi eknomi hampir tidak bergerak, pada saat bulan besar dan hajatan berlangsung, perputaran uang yang ada begitu besar dan berputar cepat.

Bahwa ternyata di hajatan itu, bermakna arisan, pertukaran barang dan jasa serta terdapat bentuk repositas sosial, yaitu pertukaran sosial yang menghidupkan kekerabatan, kekeluargaan dan mendobrak kebuntuan ekonomi karena proses jual beli secara ekonomi dan sosial menjadi putaran yang tidak bisa ditolak.

Hajatan pada masa apapun, bahkan dalam masa pandemik yang hampir melumpuhkan interaksi sosial ternyata tidak mampu menggoyahkan sendi-sendi sosial yang sudah terbangun berabad-abad lamanya.

Menyejahterakan Tidak Memiskinkan

Biodo, sinoman, arisan, sumbangan, pertukaran sosial berkelidan jadi satu dan tidak memiskinkan tetapi menopang kehidupan sosial di pedesaan, artinya juga kehidupan ekonomi yang menyejahterakan.

Jadi kehidupan berdesa adalah sebuah rangkaian kehidupan sosial yang terus berputar dan terus bergerak untuk mencari celah kebuntuan interaksi sosial, meski dalam situasi jaman yang sulit seperti sekarang ini.

Kehidupan berdesa, itu adalah rangkaian putaran interaksi sosial yang saling menguntungkan dan berbagi untuk mendorong kesejahteraan bersama secara sosial dan ekonomi, dan nantinya salah satu upayanya adalah juga dalam hal ekologi.