Omset Turun 70 Persen, Minta Wisata Bowele Dibuka Dan Kasusnya Diselesaikan

Foto: Ketua Pokdarwis Mukhlis. (Had)

BACAMALANG.COM – Pasca tragedi tewasnya wisatawan di wisata Pantai Bowele (Bolu-bolu, Wedi Awu, Lenggoksono) pada pertengahan Januari 2020 destinasi wisata ini ditutup.

Adanya penutupan ini mengakibatkan omset pelaku usaha jasa di kawasan wisata desa Purwodadi Kecamatan Tirtoyudo Kabupaten Malang ini menurun 70% dan Pokdarwis minta masalah ini cepat diselesaikan.

Hal ini dikatakan Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Mukhlis kepada awak media, Minggu (1/3/2020).

“Pelaku usaha jasa di wisata Bowele pendapatannya menurun drastis. Kurang lebih 70 %. Hal ini karena adanya penutupan wisata Bowele oleh Perhutani,” tegas Mukhlis.

Penggiat wisata Bowele ini menceritakan jika sejak pertengahan Januari 2020 lalu salah satu destinasi wisata andalan Kab. Malang yang berada di desa Purwodadi Kecamatan Tirtoyudo ini ditutup.

Penutupan obyek wisata ini sangat merugikan masyarakat, karena cukup membantu dalam meningkatkan perekonomian warga ini, disebabkan adanya kelalaian pengelola yang mengakibatkan tewasnya satu wisatawan.

Wisatawan tersebut adalah Bagas Agung Mahendra (19), asal
Dusun Sumber, Desa Kembangan, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, ditemukan tewas setelah terhanyut ombak.

“Sejak pertengahan Januari lalu wisata Bowele ditutup karena adanya kelalaian dari pengelola yang berakibat tewasnya satu wisatawan asal Gresik. Bahkan ironisnya, salah satu pengelola (Ketua LMDH) menghilang dari desa,” terang Mukhlis.

Dikatakannya, pihak desa dalam waktu dekat akan melalukan koordinasi dengan pihak terkait (Perhutani) untuk menyelesaikan masalah ini.

“Kita dari pihak desa hanya bisa menjalani (melayani) dalam penjualan jasa saja. Seperti menyewakan perahu dan penitipan kendaraan bermotor. Kami tidak mematok tarif atau ongkos (retribusi) melainkan bersifat sukarela saja,” terang Mukhlis.

Pihak desa belum melaporkan ke pihak berwajib karena menilai kewenangan ini berada pada Perhutani.

Terkait dampak negatif, Muhklis mengatakan jumlah wisatawan menurun, warung banyak tutup, dan pengusaha jasa perahu menjerit karena pendapatan banyak berkurang.

“Jumlah pendapatan berkurang sangat jauh sekali dari rata-rata harian. Untuk kemarin kami hanya mendapat uang dari parkir 10 sepeda motor, penitipan 3 helm dan 5 mobil kecil,” imbuh Mukhlis.

Diungkapkannya, pendapatan menurun tersebut terjadi pada jumlah wisatawan berkurang dan pemasukan uang.

“Jika biasanya pada Sabtu-Minggu sehari bisa 10 perahu yang mengangkut wisatawan kemarin Sabtu dan Minggu cuma 2-3 perahu. Perahu wisata jumlah saat ini tinggal 25 buah. Warung banyak tutup, sekarang tinggal 3 warung saja yang masih buka,” urai Mukhlis.

Dijelaskannya, pihaknya berkeinginan agar carut marut ini segera tersolusikan.

“Jika dalam sengkarut ini kesalahannya dari pihak LMDH, kami tidak segan untuk melakukan perombakan pengurus. Hal ini karena dalam pengelolaan wisata Bowele juga ada kemitraan dari pihak desa. Karena belum segera dicarikan solusi kami juga was-was dan khawatir dalam menjalankan usaha,” pungkas Mukhlis. (Had)