Perempuan dalam Pusaran Terorisme, Begini Pengamatan Ken Setiawan

Caption : Ken Setiawan. (ist)

BACAMALANG.COM – Meski bukan tergolong trend baru, namun fenomena perempuan menjadi eksekutor Lone wolf Suicide Bombing (pelaku tunggal bom bunuh diri) daripada laki-laki, menarik untuk dicermati.

Hal ini karena selama ini perempuan dinilai mempunyai sifat yang halus, lembut, jauh dari sikap dan perilaku yang sadis serta kejam.

“Saya menilai hal ini bukan trend baru. Namun akhir-akhir ini secara kuantitas kasusnya banyak ditemukan eksekutor lone wolf Suicide Bombing perempuan. Mereka ini dinilai handal dan jago,” terang mantan rekruter Negara Islam Indonesia (NII), Ken Setiawan, Jumat (2/4/2021).

Seperti diketahui, dua orang perempuan pelaku teror, tewas dalam aksi teror di Gereja Katedral Makassar dan Mabes Polri Jakarta beberapa waktu lalu.

Sejumlah perempuan juga telah diamankan karena diduga terlibat kegiatan kelompok radikal. Sebagian dari mereka tewas saat melakukan menjalankan kejahatan Extra ordinary tersebut di Surabaya pada 2018 lalu.

Jago Pengumpulan dana

Menurut Ken, fenomena keikutsertaan perempuan dalam kelompok radikal merupakan sesuatu yang menarik diamati. “Banyak alasan perempuan seringkali diikutsertakan dalam gerakan radikal. Anggota kelompok radikal tersebut paling banyak perempuan ketika dulu saya baru bergabung,” terangnya.

Pendiri NII Crisis Center itu mengatakan perempuan menjadi andalan dalam aktivitas kelompok radikal karena jago dalam pengumpulan dana. “Ada keunikan mencermati radikalisme di kalangan perempuan. Sewaktu saya ikut dulu mayoritas adalah perempuan.
perempuan itu cukup menjadi andalan untuk amaliyah semisal penggalangan dana,” urainya.

1 hari, 5 pelaku, 1 milyar

Ken menjelaskan dulu pihaknya mengerahkan perempuan untuk pengumpulan dana. Hanya dengan mengandalkan lima orang perempuan, dalam satu hari mereka bisa meraih Rp 1 miliar. “Cuma butuh waktu 1 hari, dengan 5 pelaku, kami mendapatkan Rp 1 miliar uang,” paparnya.

Kelima orang tersebut kemudian dipalsukan KTP, ijazah, dan Kartu Keluarganya di kawasan Jatinegara dalam satu jam. Selanjutnya, setelah dokumen beres, ia pun membeli koran yang memiliki banyak lowongan pembantu rumah tangga.

Lowongan pembantu rumah tangga di kawasan elit di Jakarta misalnya Pondok Indah, Permata Hijau, dan Kalibata menjadi sasaran bagi mereka.

Ketika itu, ia dan komplotannya menjadikan Pondok Indah sebagai target. Ketika itu ia harus membawa mobil untuk mengambil harta majikan-majikan korban tersebut.

“Saya menggambarkan situasi saat itu seperti orang pindah rumah. Kami mengambil mulai dari emas asli sampai emas palsu. Emas-emas tersebut, kemudian dijual dengan harga murah karena tidak memiliki dokumen resmi. Satu hari lima orang (perempuan) di tempat yang berbeda itu pernah di atas Rp 1 miliar,” kata Ken.

Bagi mereka yang sudah terpapar radikalisme, kata dia, harta orang yang berada di luar kelompoknya halal untuk diambil. Mereka menganggap harta tersebut adalah harta rampasan perang.

” Namanya ghanimah atau harta rampasan perang. Harta musuh kita ambil untuk perjuangan. Kita curi, kita ambil itu tidak apa-apa. Karena kita menganggap harta diluar kelompok kita itu boleh diambil,” kata Ken. (had)