Satukan Visi Indonesia Jaya, PIG Silaturahim di Pendopo Kembangkopi Wagir

Foto: Pietra Widiadi. (ist)

BACAMALANG.COM – Menciptakan Bumi Sorgawi dengan menjadikan tanah Nusantara kembali menjadi tanah yang Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kerta Raharja adalah sebuah impian seluruh rakyat Indonesia.

Pada 17 Januari 2021, 45 kader dan pendiri Perkumpulan Pusaka Indonesia Gemahripah (PIG) berkumpul di Pendopo Kembangkopi Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang untuk menyatukan rasa, dan pemikiran mengenai visi Indonesia yang jaya.

” Sebanyak 45 kader dan pendiri Perkumpulan Pusaka Indonesia Gemahripah berkumpul disini untuk menyatukan rasa, dan pemikiran mengenai visi Indonesia yang jaya,” tegas Founder Dial Foundation pemilik brand Pendopo Kembangkopi Wagir Pietra Widiadi, Rabu (3/2/2021).

Sekilas informasi, Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kerta Raharja mempunyai arti kekayaan alam yang melimpah dan kondisi yang aman tentram. Ujaran untuk menggapai kehidupan yang indah, yang membawa kepada bayangan tanah tumpah darah, rumah tempat lahir dan tumbuh menjadi dewasa ini sebagai tanah yang subur, kaya dengan segala sumber daya dan membawa kesejahteraan bagi rakyatnya, dan juga ketentraman.

Ujaran ini, adalah sebuah visi atau mimpi yang diangan setiap insan negeri ini. Negeri yang memiliki nilai luhur budaya bangsa. Mimpi ini hadir karena pada saat ini kenyataan yang ada, seperti tanah, air dan udara dikotori dan dihancurkan atas nama pembangunan.

Saat ini, Kita hidup di masa dimana banjir, longsor, polusi dan penyakit menjadi hal yang biasa. Tanah subur makin sempit dan para petani yang menanam padi, tak mampu lagi membeli beras, nelayan tak menikmati hasilnya, dan anak-anak muda desa enggan menggeluti lahannya yang bukan milik sendiri lagi.

Bekerja di kota, angan-angan yang harus digapai, meski menjadi pekerja kasar, buruh pabrik, atau kerja apa saja karena tak ada lagi membaui pekerjaan untuk mereka di desa.

Tanah air yang Gemah Ripah itu hanyalah mimpi. Tahun 2020, lahir sebuah gerakan yang diinisiasi oleh Guru Meditasi Setyo Hajar Dewantoro dan sekumpulan murid-muridnya, dengan nama Perkumpulan Pusaka Indonesia Gemahripah. Panggilan untuk mengembalikan kejayaan Nusantara itu sudah semakin kuat dan tak bisa ditunda lagi.

Sebagaimana layaknya hukum energi Semesta yang presisi, maka perkumpulan ini pun menarik mereka yang mempunyai misi dan visi yang sama. Energi jiwa-jiwa agung yang terpanggil ini berkumpul dan menjadi simpul kekuatan untuk mulai melakukan perubahan.

Ini bukan perkumpulan biasa, karena yang hadir dan terpanggil bukanlah mereka yang berlimpah harta atau orang-orang besar dan sering tampil di media. Bukan kontribusi materi ataupun jejak rekam di kancah perpolitikan yang diharapkan, cukup ketulusan untuk berkarya sepenuhnya bagi masyarakat dan Ibu Pertiwi.

Berkumpul di Pendopo Kembangkopi, sebuah tempat yang sangat asri, dengan kudapan khas pedesaan yang disediakan oleh masyarakat desa sekitar.

Berawal tahun 2015

Adalah Pietra Widiadi seorang aktivis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, yang membeli tanah seluas 3.600 m2 di kaki Gunung Kawi ini pada tahun 2015.

Pietra yang juga pendiri Dial Foundation merancang Pendopo Kembangkopi sebagai etalase hasil produksi dan usaha warga.

Disini tersedia juga layanan fasilitas belajar berupa ruang belajar, lahan pertanian atau pekarangan untuk praktek karangkitri dan karang kinten serta miniatur pengelolaan sanitasi yang sesuai dengan kondisi rumah tinggal.

20 Homestay

Untuk mendorong masyarakat membangun rumah sehat dengan sanitasi yang baik, Pendopo Kembangkopi bermitra dengan para tetangga untuk menyiapkan homestay bagi rumah warga dusun Ngemplak dan Glabahombo yang sudah disebut rumah sehat. Untuk tamu-tamu yang mengikuti pelatihan di Pendopo Kembangkopi dan memerlukan tempat menginap.

Saat ini, ada sekitar 20 rumah yang sudah berpartisipasi menjadi penyedia jasa penginapan. Rumah menginap ini, bukan di hotel atau penginapan biasa, dan ini merupakan hal yang baru bagi kebanyakan orang, termasuk untuk kader PIG yang datang dari luar kota.

Terkesan dan Kerasan

Nyoman Suwartha akademisi sebuah PTN yang datang dari Depok bersama istrinya ini termasuk yang merasakan pengalaman pertama yang tak terlupakan menginap di rumah warga, yang tidak dia kenal. Awalnya canggung dan sungkan.

Namun ternyata keramahan yang tulus dari Ibu Jumiatin dan Mbah Uti tuan rumah yang diinapi oleh Nyoman dan istri itu betul-betul memberikan kesan yang luar biasa.

Nyoman menyebutnya keberlimpahan dan kebahagiaan dalam kesederhanaan. “Pengalaman homestay yang sangat luar biasa. Saya sangat merasakan keramahtamahan, ketulusan dan kasih yang nyata dari sosok bu Jumiatin dan mbah Uti,” terangnya.

Ini seperti yang Piet sampaikan, hanya dengan biaya kurang dari 100 ribu, yang diterima penyewa kamar, tidak bisa mengukur dengan besaran harga yang diberikan, ini sangat keberlimpahan yang kami terima.

“Mulai dari udara yang sejuk bersih, suara kokok ayam membangunkan di pagi hari, air dingin yang menyegarkan, hidangan yang disajikan, hingga oleh-oleh krupuk singkong, kue, telor puyuh dan tanaman puring, semuanya tak ternilai,” urainya.

Pengalaman serupa juga dialami oleh Agus Paterson yang datang dengan berkendara mobil dari Jakarta, dan menginap di rumah Ibu Rupiah dan Bapak Supriadi. “Meski tiba sudah larut malam, saya disambut penuh sukacita dan keramahan yang tulus,” katanya.

Selain itu ia juga dibuat terkesan oleh fasilitas kamar yang bersih dan nyaman dengan perabot lengkap seperti hotel. Tak hanya itu, keesokan harinya lagi-lagi dibuat terkesan dengan sarapan mewah yang disajikan.

“Rasanya kalau dihitung dengan materi, tak sebanding dengan apa yang kita beri dengan yang disediakan, itu dari sisi materi, belum lagi yang tak ternilai harganya. Keramahan Ketulusan dan Sukacita dalam melayani,” tuturnya mengakhiri. (piet/had)