IG Talk Live Hari AIDS, Ketua WPA Turen Sampaikan Pentingnya 3 Zero

Foto: Webinar. (ist)

BACAMALANG.COM – Salah satu target dalam Sustainable Development Goals (SDGs) adalah mengakhiri epidemi AIDS yang diwujudkan dalam program 3 Zero yaitu bebas dari infeksi HIV baru, bebas dari diskriminasi dan stigma terhadap pengidap HIV/AIDS, serta bebas kasus kematian akibat AIDS.

Hal ini disampaikan Ketua WPA (Warga Peduli AIDS) Turen Tri Nurhudi Sasono, M.Kep dalam IG Talk Live bertema “Merangkul Sobat ODHA Why Not” baru-baru ini.

“Salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) mengakhiri AIDS adalah menjalankan program 3 Zero yaitu bebas dari infeksi HIV baru, bebas dari diskriminasi dan stigma terhadap pengidap HIV/AIDS, serta bebas kasus kematian akibat AIDS,” tutur Tri yang juga dosen STIKes Kepanjen.

Seperti diketahui, dalam giat posotive talk digelar IG Talk Live dengan melibatkan Ketua WPA (Warga Peduli AIDS) Turen Tri Nurhudi Sasono ,M.Kep yang juga relawan dan pemerhati AIDS.

Tampil sebagai host di giat edukatif ini Rei Fida Zamzawiyatna mahasiswa UM jurusan Bahasa Jerman yang juga admin di Instagram Malang Media.

Dalam IG Talk Live yang berlangsung hangat tersebut, Tri banyak memaparkan kisah pengalaman selama melakukan pendampingan terhadap ODHA.

Pria asli Turen ini menceritakan sebuah pengalaman mengesankan yang layak dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya.

Saat itu ia turut mendampingi seorang pria ODHA yang merasa depresi berat dan merasakan kekosongan jiwa.

ODHA tersebut merasa frustasi berat, merasa menyesal dan sudah tidak mempunyai harapan hidup.

Pria ODHA yang dulunya bekerja di Kalimantan ini kerapkali melakukan hubungan intim usai menerima gaji (gajian) dengan bergonta-ganti pasangan.

Merespon curhatan tersebut, Tri berjibaku dengan memberikan advise bahwa pria tersebut tidaklah sendirian dalam menghadapi hal ini.

Tri dengan sekuat tenaga menguatkan diri pasien tersebut, namun karena penderita tersebut terlalu drop dan down, hingga akhirnya meninggal di tahun 2018.

“Karena terlalu drop dan down, sampai akhirnya ia meninggal tahun 2018. Padahal saya sudah banyak memberikan penguatan dan nasihat. Namun karena jiwanya lemah maka mempercepat datangnya kematian,” papar Tri.

Tri mengungkapkan, sebenarnya apabila pasien tersebut secara terbuka menceritakan kondisinya dan dilakukan treatment pada 5 tahun sebelumnya, maks ada kemungkinan kondisinya bisa diperbaiki.

Dalam momen memperingati hari Aids sedunia ini Tri menekankan pentingnya masyarakat agar tanpa stigma, yakni tetap memberikan perhatian yang baik kepada ODHA dan mengajak menguatkan psikologis dan spiritual agar keadaan ODHA nyaman dan produktif.

“Semoga Kita semua bisa mewujudkan anti stigma kepada ODHA karena mereka bisa menjadi kawan dan produktif berkarya,” tutup Tri. (had)