Sukses Budidaya Jamur Tiram di Tengah Pandemi

Foto: Jamur Tiram Putih. (ist)

BACAMALANG.COM – Adanya pandemi menjadikan omset Petani Jamur Tiram Putih di Pujon Kabupaten Malang menurun. Menariknya, sebagian petani tetap eksis karena telaten menjalankan budidaya Jamur Tiram Putih.

“Pandemi membuat omset usaha turun. Namun Saya bersyukur karena usaha Jamur Tiram tetap bisa dijalankan,” tegas Petani Jamur Tiram Putih warga Dusun Lebo Desa Madiredo Kecamatan Pujon Kabupaten Malang, Dimas Aji Pamungkas, Senin (1/2/2021).

Ditanya sejak kapan usaha budidaya Jamur, ia mengatakan, sejak Januari 2018.

Terkait alasan menjalankan usaha Jamur Tiram, ia menjelaskan jika lebih suka dengan pekerjaan yang relatif leluasa mengatur jadwal kerja dan tidak terikat dengan sebuah instansi.

“Karena kepribadian saya yang tidak suka diatur (kerja terjadwal). Lalu dari segi penghasilan, mayoritas pengusaha lebih baik penghasilannya daripada bekerja sebagai pegawai. Faktor pendukung lain adalah kebetulan ada lahan yang akan sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan,” tutur Aji.

Ia menceritakan, modal awal dulu dana sekitar Rp 15-20 juta. “Tetapi hampir habis karena awal-awal rugi. Saya anggap sekolah. Dari situ bisa belajar berkembang pelan-pelan sampai dapat tambahan modal untuk mengembangkan usaha lagi,” papar Aji.

Ia mengatakan, awal mula mencari bibit tidak langsung menemukan bibit yang baik dan cocok. “Awal beli tidak langsung dapat bibit yang baik karena mati hampir setengahnya. Kami mencari produsen yang kualitas bibitnya baik. Dalam proses (perjalanan)usaha, akhirnya ketemu yang kualitas terbaik dan jadi langganan sampai sekarang,” tukas Aji

Ia menjelaskan, setelah berjalan ia memproduksi bibit sendiri. Sekarang ia tetap membeli bibit sambil membikin sendiri supaya bibit tidak sampai telat.

Ia menjelaskan tentang dari pertama menanam lalu dipanen, membutuhkan waktu sekitar 45 hari.

“Bibit beli kalau Miselium sudah 50% biasanya 4 minggu baru tumbuh. Semakin penuh Miselium semakin cepat. Bibit produksi sendiri tumbuh sekitar 40-45 hari setelah inokulasi,” tukasnya.

Hasilkan 3 Ton

Jamur tiram panen setiap hari. Banyak faktor yang mempengaruhi naik turunnya produksi. Sementara saat ini baru mampu memproduksi rata rata 2-3 ton per bulan.

Untuk hasil dijual mayoritas ke pasar tradisional karena kuantitas yang masuk paling banyak ( melalui pengepul). Ada yang ke warung yang menyediakan menu Jamur Tiram Putih. “Karena adanya pandemi menjadikan berkurang drastis,” imbuhnya.

Jamur Tiram Putih ini juga dikonsumsi karena jamur merupakan makanan sehat. “Kandungan nutrisi baik dan dari awal produksi sampai panen di tempat Kami tidak menyentuh bahan kimia sama sekali (organik),” urainya.

Ia mengatakan, juga memberdayakan warga untuk pengelolaan karena jumlah bibit yang banyak. “Kami juga tetap bertani pasti menggunakan fisik. Tidak mampu dikerjakan sendiri kecuali nanamnya masih sedikit,” jelasnya.

Pemberdayaan dan Berbagi Ilmu

Ia mengungkapkan, dirinya juga berbagi ilmu budidaya Jamur Tiram Putih. “Saya juga membagikan ilmu kepada siapa saja yang serius untuk mendalami budidaya Jamur Tiram Putih. Kita pasti bagi ilmu sesuai pengalaman yang telah dijalani
Karena kalau belajar cuma teori tanpa pernah mengalami, Kami kira tidak semudah itu,” terangnya.

Saat pandemi, berdampak pada permintaan berkurang. Terutama konsumen ( anak kuliahan, anak sekolah, warung-warung tidak seperti sebelum pandemi ).

Terkait omset, ia menjelaskan jika susah untuk menjawab karena angka selalu bergerak. Omset berbanding lurus dengan besar kecilnya usaha tersebut.

Ia berharap pandemi segera berakhir. “Kami kira semua pelaku usaha berharap pandemi cepat berakhir. Agar usaha kembali berkembang dan maju,” pungkas Aji. (had)