Angka, Mimpi dan Feminisme Dari Obelisk dan Perempuan Dari Musim Hujan Karya Anwari

Foto: Salah satu adegan OBELISK DAN PEREMPUAN DARI MUSIM HUJAN, produksi Kamateatra Art Project, karya sutradara Anwari pada gelaran Parade Teater Saling Kunjung Dewan Kesenian Malang (DKM), Sabtu (3/4/2021). (ned)

BACAMALANG.COM – Ruangan putih itu penuh dengan angka-angka dan perbincangan antara dua obelisk. Satu obelisk tampak begitu optimistis, sementara lainnya penuh kebimbangan, bahkan kepada mimpi yang dirasa direnggut darinya. Mereka juga bernyanyi, lewat tembang populer anak-anak Nina Bobo dan Bintang Kecil. Perbincangan itu akhirnya terhenti oleh kehadiran obelisk lainnya di akhir cerita.

Sementara di tempat lain, ada tiga perempuan yang bersuara lantang, bahkan kepada batu yang terdiam. Mereka terus bersuara hingga larut dalam euforia.
Itulah pertunjukan OBELISK DAN PEREMPUAN DARI MUSIM HUJAN, produksi Kamateatra Art Project, karya sutradara Anwari pada gelaran Parade Teater Saling Kunjung Dewan Kesenian Malang (DKM), Sabtu (3/4/2021).

Dalam pentas yang dihadiri sekitar 30 penonton ini dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan Putra Yuda, sutradara Teater Gelanggang Jember, serta produser Elyda K. Rara dan diarahkan moderator Anang Brotoseno dari BPH Teater DKM.

Putra Yuda mengapreasiasi keberanian Anwari bereksperimen dalam pementasan kali ini.
“Anwari dengan teater antropologinya biasanya menampilkan olah tubuh, namun kali ini lebih menonjolkan ke tekstual,” ungkap aktor yang sempat beberapa kali tampil bersama sutradara dari Madura ini.

Bagi Putra Yuda, dialog dan angka-angka dalam Obelisk yang dimainkan aktor Widayat, Moenir Khan dan Anwari sendiri ini menggambarkan suasana pada masa Orde Baru. “Ketika masyarakat diberi harapan dengan lagu bintang kecil, angka-angka yang merupakan manifestasi uang agar bisa makan, hingga penembak misterius yang marak pada masa itu,” paparnya.

Namun perbincangan itu menjadi mentah, ketika obelisk yang sebenarnya muncul di akhir cerita.
Sedangkan Perempuan Dari Musim Hujan dinilai Putra Yuda sebagai upaya pengakuan eksistensi perempuan.
“Anwari mengangkat isu feminisme yang masih stereotip dari dulu hingga sekarang,” ungkapnya.

Ketiga aktor, Ma’rifatul Latifah, Cahyarani dan Amelda Siftia yang semula tampil feminin, sontak menjadi lebay saat larut dalam euforia setelah diakui eksistensinya. “Ketika perempuan sudah menjadi subjek, sebenanrya ia adalah laki-laki dalam bentuk lain,” terang Putra Yuda.

Di sisi lain, sebagai produser Kamateatra Art Project, Elyda K Rara merasa bersyukur DKM dapat mengaktifkan parade tater secara luring ini.
“Kami sebenarnya sudah bergerak secara daring di masa pandemi, karena kami merasa bahwa pandemi bukan untuk menunggu, namun tetap bergerak dan berkarya lebih dalam,” ujarnya.

Elyda berharap selanjutnya dapat berbagi dan membangun jejaring, baik dari sisi keproduseran maupun penyutradaraan. “Ayo bergerak bersama di masa pandemi ini, agar karya kita bisa lebih berkembang,” tandasnya. (ned)