Pentas Teater di Masa Pandemi, Ini Harapan Sutradara Anwari

Foto: Sutradara Anwari (kanan depan), saat tampil dalam pentas teater bertajuk Obelisk di gedung Dewan Kesenian Malang (DKM), Sabtu (3/4/2021). (ned)

BACAMALANG.COM – Kamateatra Art Project mempersembahkan pertunjukan OBELISK DAN PEREMPUAN DARI MUSIM HUJAN, karya sutradara Anwari pada gelaran Parade Teater Saling Kunjung Dewan Kesenian Malang (DKM), Jalan Majapahit No. 3 Kauman, Malang, Sabtu (3/4/2021).

Pagelaran tersebut diapresiasi penikmat teater yang tetap bertahan hingga diskusi digelar seusai pentas.
Sebagai sutradara Anwari bersyukur telah dapat mengemas project ini dan menampilkan secara luring.
“Masa pandemi membuat kami menggunakan metode lain dalam mempersiapkan sebuah pementasan teater, seperti karantina aktor,” ungkapnya.

Bagi Anwari, hal ini menjadi tantangan, karena latihan-latihan sebelum masa pandemi selalu dilaksanakan di Kamateatra Art Space Singosari, yakni lahan, kebun dan sawah sebagai ruangnya. Bahkan beberapa tahun lalu ia menggelar teater bertajuk Tatenggun dan berkolaborasi dengan seniman asal Amerika Ari Rudenko di Singkong Art Space Sumenep, Madura, di pedesaan tempat kelahirannya yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. “Kali ini, saya mencoba alihkan ke ruang pertunjukan di gedung DKM,” terang sutradara yang sempat menimba ilmu teater di Jepang ini.

Anwari menyikapi pertunjukan daring di masa pandemi ini dari dua sisi, dimana secara daring, pentas teaternya dapat disaksikan banyak orang, bahkan tanpa mengenal jarak dan waktu.
Namun Anwari menilai, ada yang kurang di dalamnya.
“Ada rasa yang tertinggal,” akunya.

Anwari menambahkan, pentas teater bukan hanya komunikasi satu arah. Dialog, gerakan dari para aktor menjadi alat komunikasi dengan penonton.
“Sehingga menjadi kesempatan yang luar biasa akhirnya bisa tampil di Dewan Kesenian Malang (DKM), secara luring,” ungkapnya.

Anwari menegaskan, adanya penonton menjadi energi bagi para aktor saat tampil. Anwari juga berharap Pemerintah, khususnya di Malang bisa meningkatkan kuota pembatasan penonton. “Sesuai ketentuan mulai 23 Maret sampai 5 April, kapasitas pengunjung ibadah, mal, pasar, rata-rata bisa sampai 50 persen, tapi untuk pagelaran seni budaya, entah itu teater, jaranan masih dibatasi hanya 25 persen saja, ,” terangnya.

Anwari menginginkan paling tidak pembatasan yang sama untuk seni sosial budaya. “Pentas teater juga sebagai gerakan ekonomi kreatif,” pungkasnya. (ned)