Gus Wahid Mangkat, Arek Malang Merasa Kehilangan

Foto : Gus Wahid (baju putih) berbaur bersama Komunitas d'Kross dan Frontman d'Kross Sam Ade (baju biru) di Balaikota. (ist)

BACAMALANG.COM – Kabar duka masih menyelimuti Bhumi Arema. Sosok ulama kharismatik KH. Abdul Wachid Ghozali atau yang akrab disapa Gus Wachid Arema, menghembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu (4/6/2020).

Seperti diketahui, Gus Wahid merupakan ulama sangat akrab dengan arek-arek Malang seperti Ade Herawanto atau yang akrab disapa Sam Ade d’Kross. Ia pun merasa sangat kehilangan pengasuh Ponpes As Salam Singosari ini. Bagi Ade, Gus Wahid merupakan sosok yang sangat humble, lucu dan bijak.

Sam Ade d’Kross bahkan menyebut jika Gus Wahid juga merupakan musisi. Ia pun memgaku sangat terkesan dengan kepiawaian Gus Wahid saat memainkan gitar.

“Saya sangat terkesan dan dulu beliau memang gitaris lagu slow rock di band beliau kuliah saat itu. Sebagai sesama musisi, saya juga terkesan dengan gaya komunikasi verbal beliau yang humble dan kocak di panggung,” tandas Sam Ade d’Kross yang juga Kepala Bapenda Kota Malang.

Sam Ade d’Kross mencerahkan, dirinya memang ingat betul akan kenangannya dengan ulama yang identik dengan Arema dan bahasa walikan itu. Baik sebagai guru maupun sahabat dan teman diskusi bagi adik-adik di komunitas. Sebagai sesama penyuka seni, Sam Ade mengenal Gus Wahid sebagai gitaris band kampus pada jaman beliau kuliah dulu.

“Tentu yang paling kami ingat adalah saat itu Gus Wahid membawakan lagu-lagu Scorpions seperti When the smoke is going down, Always somewhere dan lainnya.

Bahkan pernah pada suatu saat d’Kross nge-jam session sepanggung bersama beliau membawakan aransemen sholawat Asyghil dan shalawat Bani Hasyim yang dikemas dalam genre hard rock di lapangan Rampal.

“Bayangkan, mungkin tak pernah terbesit seorang Gus kharismatik yang kini disegani dulunya lihai memainkan lagu dari band yang digawangi Klaus Maine dan jadi lineup utama JogjaROCKarta #4 tahun ini,” tuturnya.

Foto: Gus Wahid saat memainkan gitar. (ist)

Selain musik, Gus asal Singosari itu juga pemerhati cabang olahraga tinju. Dulu di jaman awal berdirinya komunitas d’Kross sekitar tahun 2005, mendirikan sasana tinju d’Kross Boxing Camp.

Gus Wahid salah satu penggemar tinju dan kadang memberi saran-saran seputar tinju, khususnya tinju amatir di d’Kross boxing camp, tentu saja dengan style yang kocak dan menyenangkan bagi adik-adik atlit.

“Dan beliau ini salah satu orang pertama yang mengucapkan selamat kepada kami saat petinju d’Kross yaitu Hero Tito meraih gelar juara dunia versi World Professional Boxing Federation (WPBF) di Los Palos, Timor Leste, beberpa tahun lalu,” tambahnya.

Simpelnya, Gus Wahid adalah seorang guru sekaligus sahabat terbaik bagi Aremania. Dari ilmu agama pun, Gus Wahid tak pernah pelit berbagi. Ia dikenal jadi guru agama bagi arek-arek, yang bisa membawa suasana riang dan kenyamanan bagi mereka sehingga akhirnya tertarik mempelajari dan melaksanakan kewajiban-kewajiban sesuai syariat Islam.

“Karena hanya beliau satu-satunya ustadz yang berkomunikasi intens dengan umat memakai bahasa walikan, yang mana itu merupakan bahasa khas Malangan, dan mudah masuk ke kalangan Aremania,” tukas Ade.

Sinergitas Gus Wahid dengan guru-guru d’Kross-Aremania yang lain pun terjalin dengan indah. Sebut saja dengan almarhum Gus Luqman (KH Luqman Al-Karim), pengasuh ponpes Bahrul Maghfiroh yang juga pernah ikut membidani kelahiran band d’Kross.

Begitu juga kedekatan beliau dengan Almarhum Gus Rohim dari Majelis Riyadul Jannah, serta dengan panutan arek-arek d’Kross selama ini yakni KH Moh Ali Hanafiah Akbar sesepuh ponpes Thoriqot Qoidiriyah Naqsabandiah Suryalaya Indonesia Timur.

“Dari sekian banyak guru-guru dari arek arek komunitas d’Kross- Aremania, beliau ini memang paling kocak dan asyik, meminjam istilah arek-arek. Gus Wahid pintar mencairkan suasana, sehingga para guru Kami tersebut menjadi sangat harmonis dan saling melengkapi pada saat membimbing adik-adik di kegiatan ibadah rutin maupun insidentil, seperti contoh Arema Berdzikir yang digelar rutinan secara periodik,” tutup Sam Ade. (Hum/Had)