Eksis di Tengah Pandemi, Petani Dampit Kembangkan Salak Semi Organik

Foto: Edi petani salak Dampit. (ist)

BACAMALANG.COM – Eksis di tengah pandemi, Petani di Desa Sukodono Kecamatan Dampit Kabupaten Malang mengembangkan tanaman salak jenis Pondoh Lumut dengan sistem Semi Organik.

“Alhamdulillah kami bisa bertahan di tengah pandemi, dengan mengembangkan tanaman salak Pondoh Lumut sistem Semi Organik,” tandas Edi, Sabtu (3/9/2020).

Salak Unggulan

Edi menuturkan, dirinya menanam salak jenis ini karena mempunyai beberapa keunggulan. Diantaranya yaitu tidak mudah rontok dan cocok untuk iklim setempat.

Edi menceritakan dirinya mulai menanam Salak sejak tahun 2002 pada lahan 1,5 hektar area. Dari pertama ditanam, Salak membutuhkan waktu selama 4 tahun baru bisa dipanen.

Setelah panen, maka Salak bisa dipanen selama 15 hari sekali. Terkait hasil, maka hasil panen tidak sama setiap masa panen.

“Alhamdulillah Kami bersama sekitar 250 petani disini saling membantu. Hasil panen bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” terang Edi.

Untuk sistem pemasaran, Edi mengungkapkan jika buah Salak selain dijual di grosir juga melayani pengiriman.

“Kami juga melayani permintaan sistem deliveri. Alhamdulillah ada juga peminat dan pembeli di luar Malang Raya,” papar Edi.

Kurang Air

Edi mengatakan, hasil dalam satu kali panen bisa memperoleh sebanyak Rp 1-3 juta. Untuk panen, hasilnya dijual di agen grosir di Gondanglegi.

Edi mengeluh saat menanam Salak menemui kendala saat musim kemarau yaitu pengairan kurang lancar.

Sehubungan dengan hal itu, maka Edi minta diupayakan pengadaan mesin untuk memompa air yang akan dipergunakan mengairi tanaman Salak.

“Kalau musim kemarau agak susah. Utamanya soal pengairan jadi tidak maksimal,” papar Edi.

Nilai Tambah

Edi menjelaskan jika pihaknya terkendala modal untuk bisa menjalankan inovasi guna meningkatkan hasil Salak.

Semisal jika berinovasi menjadikan Salak sebagai keripik, maka alat untuk proses pembuatan keripik dinilai masih terlalu mahal dan tidak bisa dijangkau petani rakyat.

“Sebenarnya pingin juga sih untuk mengolah hasil panen Salak biar punya nilai tambah pada harga jual. Sebagai contoh dijadikan keripik. Tapi kami tidak punya modal,” ujar Edi.

Potensi dan Pupuk Organik

Edi menjelaskan potensi pasar tanaman Salak sangat besar, namun membutuhkan upaya untuk bisa mengoptimalkan hasil panen.

Edi mengatakan, pihaknya membutuhkan terobosan untuk pemaksimalan penyediaan pupuk organik.

Selama ini petani Salak secara mandiri dan swadaya membuat pupuk organik dengan bahan baku dari kotoran kambing secara sederhana.

“Kami ingin ada semacam pelatihan dan bantuan lainnya agar bisa memperbanyak pengadaan pupuk organik. Hal ini karena pupuk kimia agak sulit didapat. Inshallah jika pupuk organik banyak, akan meningkatkan hasil panen,” pungkas Edi. (had)