SMS Spam Saat Pandemi Resahkan Masyarakat, Ini Tiga Solusinya

Foto: Contoh SMS spam. (ist)

BACAMALANG.COM – Saat ini di tengah pandemi, marak berdatangan SMS sampah yang masuk ke handphone Kita tanpa permisi.

Setidaknya ada tiga jenis SMS Sampah tersebut yakni SMS penawaran jasa pinjaman online (pinjol), SMS penipuan (semisal mendapat hadiah dan undian) dan jasa metafisika seperti pesugihan dan uang gaib.

Jenis SMS Sampah

Dari sekian jenis SMS spam tersebut, berdasar penelusuran dan oengalaman, yang paling sering atau banyak diterima adalah penawaran jasa pinjol.

Hampir dua hari sekali SMS sampah golongan ini (pinjol) masuk ke handphone Kita.

Rata-rata penyedia jasa pinjol menawarkan dana dengan bunga ringan, proses cepat dan kemudahan lainnya.

Ranking kedua terbanyak adalah SMS sampah berupa penipuan. Kategori spam inipun juga beragam.

Ada yang penipuan mengatasnamakan undian biasanya adalah undian Shoppee, Pertamina, BRI dan lainnya.

Pengirim mengatakan jika penerima menerima hadiah sekian juta rupiah. Namun untuk bisa mendapatkannya harus membuka link yang ditetapkan pengirim SMS.

Bagi warga yang sedang membutuhkan uang (apalagi kondisi krisis ekonomi seperti pandemi saat ini), maka terkadang SMS ini menggiurkan sehingga penerima SMS menuruti himbauan ini.

Spam penipuan yang tidak kalah menggelitik adalah kabar palsu anak dari sasaran SMS yang mengalami kecelakaan, terlibat kriminal (ditahan polisi) atau kontrakan sudah laku ingin perpanjangan.

Satu yang juga dinilai unik adalah SMS penipuan yang meminta kiriman pulsa. Untuk meyakinkan calon korban, pengirim mengatasnamakan teman atau saudara dekat Kita.

Biasanya mereka mempelajari dulu calon korban dengan browsing Facebook atau IG, utamanya akun yang turut mencantumkan nomor hape namun bisa terlihat umum (tidak diprivacy).

Spam SMS lainnya adalah penawaran jasa metafisika, semacam uang gaib, dan pesugihan.

Yang tak kalah unik adalah SMS yang menawarkan join dengan judi online, poker, Hongkong dan lainnya.

Pandai Manfaatkan Sikon

Menurut pengamat sosial Bachtiar Djanan, adanya fenomena SMS sampah yang marak ini merupakan bentuk pandainya pelaku memanfaatkan sikon yang sulit dan krisis di tengah pandemi ini.

“Ini fenomena pemanfaatan kondisi dimana masyarakat saat ini banyak yang mengalami kebuntuan, baik dalam mengatasi situasi ekonomi yamg sedang sulit, maupun dalam mencari solusi terhadap masalah+masalah lain dalam kehidupan mereka. Para penyedia jasa olah metafisika menawarkan solusi terhadap berbagai masalah ini membaca peluang bisnis dengan menawarkan jasa mereka pada masyarakat,” tutur Bachtiar.

Bachtiar menjelaskan, pada sisi lain banyak masyarakat sedang mengalami kebingungan terhadap keyakinannya sendiri. Mungkin bagi mereka agama saat ini belum bisa menjawab persoalan riil dalam kehidupan mereka. Maka mereka mencari alternatif-alternatif lain.

Pria alumnus Universitas Brawijaya ini mengungkapkan, sisi yang lain adalah masyarakat karena kurang memiliki skill ataupun kemampuan bisnis dan cari kerja susah, maka mencari cara yang instan. “Kurangnya pendidikan, kemalasan untuk belajar dan menambah skill, pinginnya gampang,” tukas Bachtiar.

Bachtiar menyatakan, sebetulnya fenomena ini sudah lama, bukan saja pada masa sekarang, tapi bentuk alat promonya saja berkembang mengikuti teknologi.

Dari jaman belum ada media digital, jasa seperti ini sudah ditawarkan (dulu melalui koran yang segmennya masyarakat middle-low, majalah-majalah yang memuat tulisan-tulosan fenomena alam lain, dan lain-lain). Saat mulai ada internet, jasa seperti ini juga sudah banyak bertebaran di dunia maya, yang sering masuk di kolom komentar-komentar di website..

Sementara para penyedia jasa olah metafisik melihat peluang besar untuk mendapatkan rejeki yang punya segmen yang luas.

Teknologi SMS Blasting

Bachtiar mengungkapkan, sarana SMS dipergunakan pelaku karena sekarang banyak software atau aplikasi blasting SMS.

Dengan sekali kirim langsung tersebar ke ratusan bahkan ribuan nomor HP. Software ini sekarang harganya semakin murah. Kartu perdana dengan bonus SMS juga murah, sekali dua kali pakai lalu dibuang.

Bachtiar menjelaskan, asal darimana pelaku memperoleh nomor-nomor hape. “Sekarang banyak orang yang jualan data nomor hape, yang didapat dari counter-counter hape, database orang ngisi pulsa, dan sejenisnya,” papar Bachtiar.

Terkait jasa pesugihan, Bachtiar menjelaskan, di FB, Twitter, dan IG banyak juga tersedia..”Browsing aja di sosmed dengan keywords “jasa pesugihan” pasti muncul banyak,” ungkap Bachtiar.

Nilai Agama, dan Pembinaan Usaha

Bachtiar mengatakan, solusi terkait kasus ini adalah melakukan upgrade skil, edukasi (pembinaan) nilai keagamaan, dan pembinaan usaha.

“Untuk solusinya? Ya bagaimana meningkatkan edukasi dan skill masyarakat. Dan bagaimana pemuka agama bisa memotivasi umatnya bukan hanya dari ceramah pemahaman keagamaan tapi juga mencari formulasi melakukan pembinaan terhadap usaha kecil menengah (UMKM), permodalan, pendampingan, dan lainnya,” pungkas Bachtiar Djanan. (had)