Perundungan di SMPN 16 Kota Malang, Nelly Yahya Akui Prihatin dan Apresiasi Kepolisian

Foto : Nelly Yahya, tokoh masyarakat. (ist)

BACAMALANG.COM – Salah satu tokoh masyarakat Kota Malang, Laily Fitria Liza Min Nelly mengakui prihatin mengenai viralnya siswa SMPN 16 Kota Malang yang menjadi korban perundungan alias bullying hingga mengalami luka luka baik di punggung, kaki dan jari kelingkingnya harus diamputasi.

“Bahwa sebagai seorang Ibu, saya prihatin tentunya. Dan yang lebih miris lagi saat melihat perkembangannya,” kata kata Nelly Yahya sapaan akrabnya, Rabu (5/2/2020).

Berdasarkan hasil pemeriksaan oleh Polresta Malang Kota, siswa berinisial MS (13) tersebut dianiaya oleh 7 temannya secara bersama sama dengan cara diangkat, kemudian dijatuhkan ke lantai paving. Tidak hanya itu, korban juga diangkat dan dijatuhkan di dekat pohon dan kemudian “distarter” alias bermain motor – motoran.

“Saya melihat ada korban perundungan yang mengalami dua kali perundungan,” terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala SMPN 16 Kota Malang Syamsul Arifin menyebut bahwa siswa-siswanya tersebut hanya sekadar bergurau saja. Secara pribadi, ia meyakini bahwa itu bukan kesengajaan karena 7 siswa yang melakukan bullying tersebut tidak memiliki record kenakalan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Malang, Zubaidah juga membantah adanya kekerasan. Kabar soal MS diamputasi, juga dianggap tidak sepenuhnya benar karena jarinya (lebam) itu dari seringnya kecepit gesper lalu keinjak temannya.

Menanggapi hal ini, Nelly melihat bahwa terkesan ada upaya menutupi fakta yang sebenarnya terjadi. Selain itu, korban tidak berani melapor karena masih ketakutan dan kurangnya empati. “Bahkan dengan alasan yang sangat tidak masuk akal. Hanya becandaan, terjepit gesper, sangat sulit diterima akal sehat,” pungkasnya.

Disisi lain, Nelly yang juga Ketua DPD Partai Perindo Kota Malang ini mengapresiasi langkah gerak cepat kepolisian yang mengecek langsung korban hingga mendapatkan fakta yang sebenarnya. Tidak hanya itu, bahkan kepolisian juga membantu pemulihan kondisi korban dengan pendampingan psikologis kepada MS.

Terkait penanganan perkara, Nelly juga melihat bahwa kepolisian telah mengambil langkah bijak dengan melakukan pendampingan kepada terduga pelaku dengan ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).

“Bahkan polisi tetap melanjutkan proses hukum dengan aturan hukum anak-anak. Yang terpenting bukan hukumannya, karena aturan jelas tentang perlindungan anak. Cuman perlu diketahui, bagaimana duduk persoalan, siapa melakukan apa kepada siapa, dan berakibat apa. Agar ini menjadi yang terakhir dan ada efek jera,” jelasnya. (yog)