Karya SM Rani Mengandung JJK, Budayawan Ini Beri Penjelasan

Foto: Rani Jambak. (ist)

BACAMALANG.COM – Musisi pemburu bebunyian Rani Jambak merilis komposisi unik Suara Minangkabau (SM) yang menuai apresiasi positif berbagai kalangan. Salah satunya dari Juhendri Chaniago, Budayawan dari Medan yang mengatakan jika karya unik ini bernuansa religius-filosofis kental mengandung JJK.

“Saya menilai karya Rani ini religius dan filosofis. Kental mengandung JJK. Apa JJK itu? JJK tidak lain adalah Jelal, Jemal dan Kemal,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, ada tiga ciri suara di Minangkabau, yaitu yang pertama “jelal” atau kuat, bagaimana karya ini memiliki kekuatan dalam menampilkan Minangkabau, yang kedua adalah “jemal” atau indah, bagaimana keindahan karya audio visual ini bisa menampilkan Minangkabau yang indah, yang ketiga adalah “kemal”, atau arif, dimana dalam karya Rani mengandung kearifan Minangkabau.

Alam Minangkabau adalah orang dan alamnya. Falsafah utama yang dianut masyarakat Minangkabau adalah: adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Artinya bahwa adat masyarakat Minangkabau harus “bersendikan” syariat Islam, yang pada gilirannya didasarkan pada al-Quran dan Sunnah (syarak basandi Kitabullah).

“Dan filosofi ini bisa saya rasakan dalam karya Rani Jambak. Terutama dalam bagian akhir karya yang menampilkan suara adzan dengan langgam khas Minangkabau, yang membuat karya Rani Jambak tetap kuat tidak terlepas dari rel filosofi Minangkabau tersebut. Begitu pula kejelian Rani dalam merekam tradisi masyarakat anjing berburu babi hutan,” urainya.

Evi Ovtiana (videografer):

“Karya Suara Minangkabau pada bagian visual (video)nya secara proses mengikuti hasil komposisi suara yang dibuat oleh Rani. Gambar mengikuti suara. Kesulitan yang saya alami di lapangan adalah, saya bukan orang Minangkabau, dan terlebih lagi saya tidak berdarah Minangkabau, namun tantangannya saya harus bisa masuk dalam ke atmosfer Minangkabau. Sebelum turun ke lapangan untuk pengambilan suara dan pengambilan video, sebulan lebih saya berusaha mempelajari dan merasakan atmosfer Minangkabau, dan saat di lapangan sampai-sampai saya merasa hampir menjadi orang Minangkabau,” jelasnya.

Suwarsono, koreografer, penari dan pemilik Sanggar Bale Marojahan :

“Saya adalah tipe orang yang auditori, lebih banyak menyerap, mengingat, belajar, melalui audio. Dalam menikmati karya Suara Minangkabau Saya tadi sengaja memejamkan mata, untuk benar-benar bisa mendapatkan atmosfer audio, dan saya merasa bahwa karya Rani Jambak cukup berhasil saya nikmati secara audio, walaupun ada beberapa bebunyian ritmik elektronik yang mungkin saya belum familiar. Tapi secara keseluruhan karya Rani saya anggap bisa merepresentasikan bunyi-bunyian khas Minangkabau, walaupun sebetulnya masih banyak bunyi-bunyian lain yang mungkin belum dieksplorasi, tapi itu semua sah-sah saja, karena karya adalah sepenuhnya bentuk ekspresi subyektif dari si penciptanya,” ungkapnya.

Bachtiar Djanan, pegiat pariwisata dan budaya dari pergerakan HIDORA (Hiduplah Indonesia Raya), Banyuwangi :

“Saya seorang keturunan Minang yang lahir di Jawa Timur dan belum terlalu mengenal Minangkabau, saya menilai karya Rani Jambak ini cukup berhasil “menggelitik jiwa ke-Minangkabau-an”, khususnya bagi orang-orang Minang tidak lahir di tanah Minang, yang sedang mencari jejak-jejak leluhurnya. Metode merekam suara-suara khas merupakan salah satu pendokumentasian ke-khas-an suatu daerah, yang bisa jadi akan sangat berharga di kemudian hari, ketika bunyi-bunyian khas daerah suatu saat hilang, karena berubahnya aktivitas budaya masyarakatnya. Maka pola-pola me-record suara asli yang khas, kemudian mengolahnya kembali menjadi sebuah komposisi dengan bantuan teknologi digital, menjadi sebuah langkah penting dan strategis untuk “membangun sebuah gambaran utuh” tentang suatu daerah. Semoga ke depan karya Rani ini bisa menginspirasi untuk lahirnya banyak karya “suara-suara indah dan khas dari berbagai penjuru nusantara,” katanya.

Drs. Penyabar Nakhe, anggota Komisi E DPRD Provinsi Sumatera Utara :

“Saya sebagai anggota komisi E DPRD Provinsi Sumatera Utara yang salah satunya membidangi budaya dan pariwisata, menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya pada Rani Jambak dengan karyanya Suara Minangkabau. Karya audio visual ini merupakan karya kreatif dari putri Sumatera Utara keturunan Minangkabau yang bisa membawa audiens memasuki atmosfer budaya yang ingin diceritakan Rani kepada khalayak tentang tanah leluhurnya, baik dari alam maupun manusianya. Saya sangat mendukung, seharusnya setiap kota dan kabupaten di Sumatera Utara bisa melahirkan dokumentasi bunyi-bunyian khas daerah yang diolah menjadi karya musik seperti yang telah dilakukan Rani Jambak. Ke depan, saya berencana akan mengajak Rani Jambak untuk “merekam” suara-suara indah di Kepulaan Nias, dalam Sound of Nias,” tuturnya. (bach/had)