Purwacaraka Berharap SOB Jadi Starting Point Gerakan Sinergi Kedaulatan Bangsa Berbudaya dan Berperadaban Luhur

Foto: Purwacaraka. (ist)

BACAMALANG.COM – Musisi Kondang Indonesia, Purwacaraka berharap event spesial Sound of Borobudur (SoB) yang akan diadakan pada 8 April 2021 – 9 April 2021 nanti bisa menjadi starting point gerakan sinergi bangkitkan kemandirian bangsa.

“Harapan Saya, dengan adanya seminar ini merupakan kick off atau starting point dari suatu gerakan yang Kita namakan Sound of Borobudur Movement. Yang berawal dari temuan alat musik pada relief, akan menarik gerbong-gerbong lain di belakangnya,”
urainya kepada BacaMalang, Senin (5/4/2021).

Ia mengatakan, untuk selanjutnya SoB diharapkan bisa menjadi daya tarik baru dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar Borobudur untuk meningkatkan ekonomi melalui sinergitas yang ditimbulkan (UMKM secara sistemik).

Sebagai daya tarik baru di bidang pariwisata yang mempunyai identitas kuat dan unik. Gerakan ini juga diharapkan dapat memperlihatkan jati diri bangsa, dan perlawanan terhadap intoleransi.

Purwacaraka mengungkapkan, Seminar ini diharapkan dapat menghasilkan jurnal ilmiah yang melegitimasi klaim Borobudur sebagai pusat musik dunia berdasarkan temuan konkrit pada relief Candi.

“Sebagai bukti tak terbantahkan, ini menunjukkan betapa tingginya peradaban dan budaya Borobudur pada abad ke-7, dan sekaligus menggambarkan peradaban bangsa dimana Borobudur Itu berada,” jelasnya.

Seminar – Lokakarya: Borobudur Pusat Musik Dunia

Seperti diketahui-Borobudur mempunyai potensi ekonomi berantai ketika Indonesia menjadi bukan saja Pusat Musik Dunia, tetapi juga Pusat Tradisi Dunia.

Terkait hal tersebut maka digelar Seminar dan Lokakarya: Borobudur Pusat Musik Dunia pada 8 April 2021 – 9 April 2021 berlokasi di Omah Mbudur, Jowahan, Wanurejo Borobudur.

Kegiatan yang diselenggarakan secara hybrid (on line dan off line) ini menghadirkan narasumber Prof. Melani Budianta, Ph.D. (Cultural Studies), Universitas Indonesia, Komisi Kebudayaan, AIPI, Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum (Sejarawan), Universitas Negeri Malang, Dr. Pande Made Kutanegara, M.Si (Antropolog), Universitas Gajah Mada, Drs. Haryanto Taliwangsa M.Ed. (Etnomusikolog), Universitas Negeri Yogyakarta, dan Nurkotimah, M.A (Nur Kesawa) (Arkeolog). (had)