Soroti Tudingan Suicie Bombing Makassar Rekayasa, Ken Paparkan 3 Point Penting

Foto : Ken Setiawan. (ist)

BACAMALANG.COM – Berita Polri menyatakan ada kelompok yang menuding jika Suicide Bombing Makassar adalah rekayasa menjadi viral.

Atas munculnya hal tersebut, maka Pendiri Negara Islam Indonesia Crisis Centre (NII Crisis Centre) menyatakan jika kelompok radikalisme dari dulu selalu menganggap terorisme sebagai rekayasa atau konspirasi.

“Kelompok Radikalisme dari dulu selalu menganggap terorisme sebagai rekayasa atau konspirasi,” terang Ken Setiawan, kepada BacaMalang, Senin (5/4/2021).

Radikalisme adalah suatu paham yang menginginkan sebuah perubahan atau pembaruan dengan cara drastis hingga ke titik paling akar.

Seperti diketahui, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono menyampaikan ada sekelompok orang yang menganggap insiden kasus bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan penyerangan terduga teroris di Mabes Polri adalah rekayasa, beberapa waktu lalu.

3 Gejala Sosiologis

Ken menyebutkan jika secara sosiologis, setidaknya ada tiga gejala yang dapat ditengarai dari paham radikalisme.

Pertama, merespons terhadap kondisi sosial-politik maupun ekonomi-yang sedang berlangsung dalam bentuk penolakan dan perlawanan.

Terutama aspek ide dan kelembagaan yang dianggap bertentangan dengan keyakinannya.

Kedua, dari penolakan berlanjut kepada pemaksaan kehendak untuk mengubah keadaan secara mendasar ke arah tatanan lain yang sesuai dengan cara pandang dan ciri berpikir yang berafiliasi kepada nilai-nilai tertentu, semisal agama maupun ideologi lainnya.

Ketiga, menguatkan sendi-sendi keyakinan tentang kebenaran ideologi yang diyakininya lebih unggul daripada yang lain.

“Pada gilirannya, sikap truth claim ini memuncak pada sikap penafian dan penegasian sistem lain,” urainya.

Ken melanjutkan, untuk mendorong upaya ini, perlu ada pelibatan massa yang dilabelisasi atas nama rakyat atau umat yang diekspresikan secara emosional-agresif.

Terlebih ketika era demokrasi memberikan kebebasan siapa pun untuk mengekspresikan pemikirannya.

“Ketiga gejala ini yang dimainkan penggerak paham radikalisme yang ironisnya sekarang ini kian mendapatkan panggung selebrasinya,” pungkasnya. (had)