Jabal Tarik, Guru Besar yang Memiliki Hobi Sebar Virus Bercocok Tanam

Foto : Guru Besar UMM, Prof Dr Ir Jabal Tarik Ibrahim MSi hobi bercocok tanam. (hum)

BACAMALANG.COM – Di sela kesibukannya mengajar, meneliti dan mengabdi, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Ir. H. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si memiliki hobi yang tak pernah ditinggalkan, yakni menanam. Bersama warga di sekitar rumahnya, di kawasan RT 04/ RW 09 Kelurahan Tulusrejo, Lowokwaru, Kota Malang, Jabal menggerakan warga untuk menanam. ‘Virus’ ini ia sebar sejak hijrah ke Malang beberapa dekade silam.

Jabal yang lahir dari keluarga petani di daerah Probolinggo itu, sangat tertarik untuk mengembangkan pertanian di Indonesia. Dimulai dari lingkup terkecil di sekitar kediamannya, Jabal menebar misi khusus pertanian disamping menyalurkan hobi.

“Sejak kecil saya punya kebiasaan bertanam. Ketika punya rumah di Malang, saya kehilangan tempat untuk bertanam, maksudnya sawah dan tegalan. Akhirnya saya menanam di depan teras rumah, ada tanah sedikit ukuran tiga kali lima belas meter, melebar ke kavling sebelah yang kebetulan saya beli juga selebar 150 meter persegi,” kata Guru Besar bidang Sosiologi Pertanian, Jumat (5/6).

Adapun tumbuhan jenis sayuran yang ia tanam sangat beragam, seperti cabai, terong, sawi, kacang panjang dan ketela pohon, bahkan pohon kelor.

Tak hanya itu, tanaman-tanaman tahunan juga ditanam di samping rumah, seperti belimbing, belimbing wuluh, sirsak dan lain sebagainya. Meski letaknya di luar rumah, namun Jabal memberikan kesempatan kepada warga di wilayah kediamannya yang ingin mengambil buahnya.

Tak berhenti di situ, Jabal sangat pintar memanfaatkan lahan untuk dijadikan lahan pertanian. Bahkan lahan kosong di belakang juga dimanfaatkan bersama warga untuk hidroponik yang bekerja sama dengan ketua RT.

Dalam proses hidroponik itu, Jabal bersama warga membuat lima ribu lubang yang dibiayai oleh ketua RT dan pengurus RT lainnya.

Guru Besar itu menambahkan, bahwa ada beberapa warga di wilayahnya yang juga memiliki hobi bertanam.

“Total ada lima orang yang hobi menanam kemudian merealisasikan ide untuk membuat pertanian hidroponik yang dikelola oleh pengurus RT setempat. Hasilnya akan dijual kepada warga atau pihak yang bisa membeli produk hidroponik non pestisida”, katanya.

Lebih jauh Prof. Jabal menjelaskan bahwa menguatkan ketahanan pangan di saat pandemi Covid-19 sangatlah penting.

“Tujuannya adalah mendorong masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri, serta meningkatkan produktifitas masyarakat di rumah. Misalnya dengan berkebun sistem aquaponik dan hidroponik di rumah dan lahan terbatas”, pungkas Jabal Tarik. (Hum/Lis/Red)