Bertema Sirkulasi, PAMAFEST #11 digelar di DKM

Foto: Art performer Iwan Wijono dari Jogjakarta saat memberi materi dalam PAMAFEST #11 di gedung DKM Kota Malang, Sabtu (5/12/2020). (ned)

BACAMALANG.COM – PAMAFEST atau Performance Art Malang Festival kembali digelar meski di tengah pandemi. Mengambil tema Sirkulasi, festival yang ke-11 ini dihelat di gedung Dewan Kesenian Malang (DKM), Jl Majapahit 3 Kota Malang, pada 5-6 Desember 2020.

Festival ini melibatkan sedikitnya 25 performance artist dari Malang dan maupun luar kota Malang , bahkan salah satunya dari mancanegara, yakni Polandia. Salah satu performance artist, Iwan Wijono membuka dengan materi tentang Sirkulasi itu sendiri.

Iwan mengatakan, kondisi new normal disikapi masyarakat justru dengan kerinduan utk kembali ke masa sebelum pandemi. “Padahal masa sebelum pandemi justru abnormal, karena banyak terjadi sifat penjajahan, baik itu terkait mekanisme pasar hingga kerusakan alam,” terangnya, Sabtu (5/12/2020).

Seniman kontemporer asal Jogjakarta ini menambahkan, jika peradaban pasca pandemi itu hanya untuk kembali ke masa sebelumnya, maka peradaban itu sama saja dengan peradaban bunuh diri.

Menurut Iwan, masa pandemi ini ada pesan alam dari masa laluyang bisa dipelajari lewat seni budaya. “Adanya wabah covid-19 ini harusnya disikapi dengan suatu harapan agar manusia kembali ke dalam dirinya, introspeksi, sehingga dunia menjadi lebih baik,” tegas pelaku seni yang telah tampil di sejumlah negara ini.

Ketua panitia PAMAFEST #11 Dapeng Gembiras mengatakan, festival ini lebih mengedepankan seni tubuh sebagai media ekspresi. “Arahnya cenderung teatrikal, walaupun cakupannya sebenarnya lebih luas daripada itu,” ujarnya.

Dapeng menjelaskan, sirkulasi menjadi suatu sebutan, bergerak dari suatu tempat ke sebuah tempat lain yang berbeda. “Sehingga fungsi dari sirkulasi adalah untuk menghubungkan ruangan yang satu dengan ruangan lainnya yang pada akhirnya kembali ke titik ruang yang pertama,” urainya.

Dapeng menuturkan, sebagai tema pada PAMAFEST kali ini, ruang seperti yang telah disebutkan bisa diartikan secara bebas oleh para performer. “Apalagi jika dikaitkan dengan keadaan yang sekarang, maka ruang menjadi sebuah hal yang luas dan telah berubah pada aspek yang ada seperti ekonomi, sosial, pendidikan, politik dan budaya,” imbuhnya.

Ia mengaku bagaimanapun harus melakukan sejumlah penyesuaian di masa new normal ini. “Salah satunya prokes ketat, khususnya bagi para art performer dari luar kota Malang,” terangnya. (ned)