Mengisi WFH, Kegiatan Dosen Komunikasi UB Ini Patut Diapresiasi

Foto : Maulina Pia Wulandari, Ph.D. (ist)

BACAMALANG.COM – Lahirnya kebijakan Social Distancing, Physical Distancing dan WFH (Work From Home) akibat maraknya Virus Covid-19 menjadikan salah satu akademisi Universitas Brawijaya Malang ini semakin produktif, kreatif melakukan berbagi kegiatan sosial yang layak mendapat apresiasi.

“Alhamdulillah saya bisa sedikit berbagi dengan sesama dengan membagikan sembako bagi warga terdampak Covid–19,” tutur Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UB Maulina Pia Wulandari, Ph.D, Minggu (5/4/2020).

Perempuan alumnus SMP 3 dan SMU 3 Kota Malang ini menuturkan, saat WFH, kegiatannya seperti hari-hari normal. Yakni berkegiatan sebagai ibu rumah tangga, akademisi dan entreprenuer.

Perempuan yang juga berprofesi sebagai Size Fashion Designer Curvil├Čnea by Pia Haryono ini memaparkan, meski lebih banyak di rumah, dirinya tetap mengerjakan pekerjaan sebagai dosen dengan menggunakan sistem online.

Selain itu masih juga mengerjakan project-project fashion dan menghadiri undangan sebagai narasumber di berbagai media radio FM dan Televisi.

Ia menjelaskan, dirinya juga membuat program sosialisasi dan edukasi ke masyarakat tentang social distancing dan pelaksanaan program physical distancing sebagai upaya pencegahan Virus Covid-19.

Sesekali ia sibuk juga di kegiatan sosial membantu warga masyarakat yang terdampak secara ekonomi.

Hampir semuanya dikerjakan di rumah. Ia baru berkegiatan diluar rumah jika penting dan urgent, semisal belanja dan menjadi Narsum talkshow di stasiun radio.

Ia kadang-kadang membikin video vlog dengan menyanyi untuk menghibur teman-temannya di medsos yang sedang susah, galau, atau stress karena kebijakan berdiam diri di rumah akibat Corona merebak.

Ia menceritakan, dirinya merasa prihatin dengar kondisi suami dan 12 karyawan yang harus berhenti kegiatan usahanya di bidang rental kendaraan dan pariwisata.

Hal ini karena 12 karyawan yang bekerja, terpaksa harus tinggal di rumahh karena semua order dibatalkan.

Sementara karyawan harus tetap menafkahi keluarganya. Ia mengaku tetap merasa lebih beruntung karena mempunyai penghasilan rutin bulanan.

Ia tak segan untuk berbagi dan mensupport suami dan para karyawannya. Ia juga biasa membantu teman-teman atau tetangga sekitar yang terdampak Covid-19.

Dipaparkannya, kegiatan charity itu murni inisiatif darinya pribadi. Awalnya dia mempunyai sedikit beras, telur, dan mie instan yang rencananya dibagi-bagi ke tetangga dan teman dekat.

Karena merasa masih sedikit isi paket sembako tersebut, selanjutnya ia mengajak sinergi mahasiswa S1 dan S2 bimbingannya, kolega di jurusan ilmu komunikasi dan teman-teman dari sekolah anaknya.

Hingga akhirnya terkumpulah bahan-bahan untuk paket sembako, seperti beras, telur, mie instant, minyak goreng dan gula.

Ia mengatakan tidak menerima dana uang, namun hanya mau menerima barang berupa sembako.

“Nah dari aneka sembako itu, alhamdulillah bisa terkumpul 105 paket sembako yang kita bagikan ke buruh harian, manula, ojek online, dan masyarakat lain yang terdampak ekonominya karena wabah ini,” tutur perempuan alumnus Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga ini.

Ia menjelaskan, dalam kegiatan sosial ini melibatkan mahasiswa program S2 Ilmu Komunikasi FISIP UB yang menjadi bimbingannya membantu melakukan packing dan sebagian lagi mengirim ke rumah warga.

Sisa paket sembako dibagikan ke beberapa lembaga yang biasa menyalurkan bantuan seperti ACT, D’Busa, Jatim For Indonesia, dan Sedekah Habit.

Ia menuturkan, untuk pembuatan masker, dirinya dan karyawan fashion label menggarap bersama teman yang berprofesi sebagai penjahit dibantu mahasiswa, saling bergotong royong.

Selanjutnya, membagikan masker ke masyarakat yang tidak mampu untuk membeli masker.

Ia mengatakan, kegiatan yang dilakukan adalah berupaya menghapus stigma dan imej kalau ibu-ibu (wanita) kalau menganggur biasanya suka ngerumpi.

Dikatakannya, meski di rumah, ibu-ibu sebenarnya bisa berbuat sesuatu yang luar biasa bagi sesama.

“Sebagai seorang ibu, masa ini adalah masa yang berat. Karena Ibu harus sehat dan kuat demi keluarga. Apalagi bagi ibu-ibu yang suaminya untuk sementara terhenti mata pencarian karena pandemi Covid-19.

“Bagi ibu-ibu yang ekonominya berkecukupan, mari bergotong royong sesuai kemampuan kita membantu sesama yang sedang membutuhkan dan ikut mensukseskan pelaksanaan physical distancing,” ujar Pia.

Dikatakannya, tinggal di rumah tidak akan menghambat kreatifitas dan kemampuan untuk berbuat sesuatu yang positif.

Ia mengajak warga patuh dan melaksanakan program physical distancing agar diri sendiri, keluarga dan orang lain terhindar dari wabah Virus Covid-19.

Ia mengatakan, selayaknya bagi siapa saja yang harus bekerja, semestinya menjaga diri dengan mengikuti protokol kesehatan dan keselamatan.

” Tanpa pamrih apapun saya ikhlas menjalankan aksi sosial ini. Semoga kisah saya sedikit banyak memotivasi orang lain berbuat baik menolong sesama yang membutuhkan,” pungkas Pia. (had)