Usai SMPN 16 Kota Malang, Perundungan Juga Dialami Anak SD Ini

Ilustrasi perundungan (Getty Images/Istockphoto)

BACAMALANG.COM – Perkara bullying alias perundungan tengah menyita perhatian masyarakat Kota Malang. Tidak hanya di SMPN 16 Kota Malang, perkara perundungan tersebut juga terjadi di SDN 1 Sawojajar Kota Malang.

Adalah buah hati dari TD, warga yang berdomisili di Kecamatan Kedungkandang, yang menjadi korban perundungan.

Menurut keterangan TD, anaknya menjadi korban perundungan yang diduga disebabkan oleh kepala sekolah serta salah satu oknum pengajar.

TD menerangkan, pihak sekolah diduga telah sengaja melakukan perundungan terhadap buah hatinya dengan cara melayangkan tuduhan bahwa yang bersangkutan telah melakukan pencurian. Tidak hanya itu, anak TD juga dituduh telah membuat surat yang berisikan tentang keinginan untuk bunuh diri.

Yang menjadi pertanyaan TD, saat buah hatinya disebut-sebut melakukan ‘pencurian’ dan membuat surat ingin bunuh diri, pihak sekolah tidak memanggilnya selaku wali murid yang bersangkutan. Padahal, jika memang benar anak TD melakukan hal tersebut, maka pihak sekolah seharusnya melaporkan terlebih dahulu ke wali murid yang bersangkutan.

Parahnya, pihak sekolah diduga sengaja menyebarkan informasi kepada para guru dan komite mengenai apa yang terjadi pada anak TD. Bahkan, hal itu terdengar hingga ke telinga wali murid yang lain.

TD sendiri mengaku baru mendengar apa yang dialami buah hatinya tersebut pada saat pengambilan buku rapor di sekolah pada Kamis (19/12/2019). Padahal, terkuak jika peristiwa yang dialami anaknya sudah berlangsung pada September 2019.

“Saya tahunya pas ambil rapor itu,” ucap bapak dua anak ini ketika dikonfirmasi, Jumat (7/2/2020).

Mengetahui anaknya dituduh yang bukan-bukan, TD pun mencoba mengklarifikasi ke pihak sekolah. Namun, tidak ada keterangan dari sekolah yang memuaskan TD.

Selanjutnya, TD melayangkan aduan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang. Harapannya, agar ada kejelasan atau setidaknya klarifikasi dari pihak sekolah mengenai apa yang dialami anaknya.

Upaya TD untuk mengadu ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ternyata berbuah pahit.

“Pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang seolah-olah mengabaikan dan lebih mempercayai pernyataan dari pihak sekolah, jika orangtua dan siswa tersebut yang bermasalah,” ungkapnya.

Tak patah arang, TD kemudian mengadukan apa yang dialami buah hatinya ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Malang. Disitu, TD bertemu dengan Ketua Komisi D, Wanedi. Pada kesempatan tersebut, Wanedi mengaku siap membantu menyelesaikan permasalahan yang dialami anak TD.

“Kami siap membantu, jika ada pihak yang menghambat, tolong sampaikan ke saya. Siapa saja,” ucap Wanedi.

Bukan hanya mendatangi dewan saja, TD juga mengambil langkah hukum terkait apa yang dialami buah hatinya. Dia telah melayangkan laporan ke Polresta Malang Kota. Pihak kepolisian sendiri telah bergerak melakukan penyelidikan.

Lebih jauh, TD mengungkapkan bahwa anaknya mengalami trauma akibat apa yang dialami. Anak TD bahkan enggan bersekolah lagi di SDN 1 Sawojajar. Akhirnya, TD memilih memindahkan anaknya ke sekolah lain.

Penulis: Dhimas Fikri