Konser Melembutkan Batu Andang Bachtiar, Dihujani Pujian dan Atensi

Foto : Andang Bachtiar, konser Melembutkan Batu banjir atensi dan pujian. (ist)

BACAMALANG.COM – Konser Melembutkan Batu Andang Bachtiar beberapa hari lalu dihujani pujian dan atensi dari berbagai pihak.

Menariknya, bukan hanya atensi-pujian dari warga Malang saja, namun juga antar pulau. Tak kurang dari Musisi berjuluk sang pemburu bebunyian Rani Jambak yang berdomisili di Medan turut memberikan applaus dan sambutan positif.

“Menarik sekali filosofi pak Andang Bachtiar mengemas geologi dalam kekuatan sastra dan musik. Semoga dengan ini, perspektif masyarakat atas keterkaitan manusia dengan alamnya semakin dipahami dengan baik,” terang Musisi Rani Jambak.

Melebihi Ekspektasi, Naik 600 persen

Terkait konser Melembutkan Batu, Lintang selaku penyelaras konser mengatakan jika sambutan masyarakat mengagumkan dan mengesankan. Menurutnya antusiasme publik melebihi ekspektasi.

‘Sepanjang live streaming, angka penonton stabil di 140. Hingga saat ini sudah ada sekitar 2.800 views akumulasi yang menonton, masih bisa dilihat di YouTube,” terangnya.

Menariknya, Traffic website Andang Bachtiar naik 600%. “Traffic website Andang Bachtiar naik hingga sekitar 600%, kemarin siaran live YouTube juga bisa ditonton di sana. Jumlah ini menunjukkan antusiasme publik yang melebihi perkiraan kami sih mas,” imbuhnya.

Filosofi geologi dan kehidupan

Sementara itu, Bachtiar Djanan, pegiat pariwisata yang bergerak dalam pelestarian lingkungan hidup, konservasi budaya, dan pemberdayaan masyarakat, yang sekarang banyak beraktivitas melakukan pendampingan masyarakat di beberapa kota dan kabupaten di Sumatera Utara sampai Pulau Nias turut memberikan refleksi dan apresiasi.

‘Saya mengetahui Mas Andang sudah sangat lama, karena di Malang kami tinggal di satu kompleks perumahan yang sama, Perumahan Dosen IKIP Malang, orang tua Mas Andang dan orang tua saya bersahabat baik. Bahkan, cerita orang tua saya, almarhum Bapak saya memberi saya nama Bachtiar Djanan, karena terinspirasi oleh sosok Mas Andang Bachtiar kecil yang bandel tapi berprestasi,” papar Bachtiar Djanan.

Ia mengatakan, Mas Andang juga berkawan baik dengan kakak sulungnya. Jadi, walaupun beda usia cukup jauh, sejak dulu dirinya sudah banyak mendengar tentang “ke-seniman-an” dan “ke-petualangan” Mas Andang.

“Mulai kecil Mas Andang sudah suka berkesenian, khususnya dalam hal puisi dan musik, dan di SMA Mas Andang muda sudah aktif di kegiatan pencinta alam SMA, yaitu Bhawikarsu X-4 (BX-4) di SMAN 3 Malang. Saya kebetulan juga bersekolah di SMAN 3 Malang dan ikut juga di organisasi BX-4 itu,” tukasnya.

Ia menjelaskan, Andang muda juga bergabung di organisasi pencinta alam umum AMC, singkatan dari Adventurers & Mountain Climbers (“Petualang dan Pendaki Gunung”), salah satu organisasi pencinta alam tertua di kota Malang, yang berdiri sejak tahun 1969.

Ia menyebutkan, rupanya jiwa petualangan inilah yang “menuntun” Mas Andang untuk mengambil studi akademik di Geologi ITB. Sehingga klop, jiwa petualang dan studi kuliahnya, dalam satu ranah yang sama.

Ia dan Mas Andang aktif dalam komunitas Jaringan Kampung Nusantara (Japung Nusantara). Di situlah ia intens berkomunikasi. Ia banyak belajar dari Mas Andang tentang geologi, tentang peradaban yang silih berganti karena katastrofi (bencana alam besar).

Andang menurutnya sangat menguasai filosofi keilmuan-keilmuan yang dipelajarinya, dan sangat telaten untuk share pada berbagai komunitas dengan bahasa-bahasa yang sederhana yang sesuai dengan siapa yang ia ajak komunikasi.

“Album “Melembutkan Batu” bagi saya adalah sebuah perjalanan panjang seorang Andang Bachtiar. Album ini sebagai media Mas Andang untuk berbagi keilmuan yang ia miliki dengan cara yang unik dan indah. Menurut saya inilah sebuah perjalanan spiritual Mas Andang. Mas Andang menemukan korelasi yang nyata antara filosofi geologi dan filosofi kehidupan. Dengan belajar geologi akan belajar pula tentang kehidupan, melalui media lagu dan puisi,” urainya.

Dalam album ini Mas Andang berkolaborasi dengan Charles Djalu, Endri Wejoe, Redy Eko Prastyo, Almarhum Kak Aziz Franklin, dan beberapa kawannya seniman dari Kota Malang lainnya.

“Itulah saya membaca Mas Andang ingin menjahit gagasan besarnya dengan berbagai potensi yang dimiliki sahabat-sahabatnya dalam sebuah karya bersama. Dengan “ke-seniman-an” dan “ke-liar-an” eksplorasi Mas Andang, jangan heran bila suatu saat nanti Mas Andang akan kembali mengkolaborasikan filosofi geologi dalam bentuk karya yang lain, seperti teatrikal, sendra tari, performance art, dan berbagai bentuk lainnya. Selamat buat Mas Andang, tetaplah berkarya, berbagi, dan menjadi inspirator bagi semua orang,” pungkasnya. (had)