Terjebak Pandemi Covid-19, Keluarga Ini Survive dengan Bisnis Kaos Distro Corona

Foto: Bachtiar Djanan Machmoed. (ist)

BACAMALANG.COM – Terjebak dalam krisis ekonomi dan pangan saat pandemi Covid-19, pasangan Ulfah Hidayati Damamini dan Bachtiar Djanan Machmoed warga asal Kota Malang survive dengan menjalankan bisnis kaos distro berdesain tema Corona.

“Alhamdulillah Kami bisa eksis dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang. Kami menekuni usaha kaos bertema Corona,” tutur Ulfah, Kamis (7/5/2020).

Seperti diketahui, akibat pandemi Covid–19, menjadikan pemerintah mengeluarkan himbauan penerapan SD (social distancing), PD (physical distancing), dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Dampak kebijakan ini menjadikan berbagai usaha bisnis tiarap, terjadi krisis ekonomi yang membuat seseorang harus berjibaku dan berinovasi agar bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ulfah dulu pernah membuka usaha Warung Kelir yang berada di Jalan Panglima Sudirman Kota Malang.

Sejak tahun 2016 Ulfa dan keluarga hijrah ke Banyuwangi untuk gabung bersama tim backpaker dan tinggal selama beberapa tahun.

Selama di Banyuwangi ia sempat melaunching Backpacker Kawah Ijen, Homestay & Dormitory.

Hingga pada Januari 2020 Ulfa berpindah domisili lagi ke Slawi Tegal untuk menetap dan menjalankan usaha baru.

Ia sebetulnya mulai sudah menggarap bisnis kaos sejak tahun 2007 dengan desain bergambar Kartolo seniman ludruk kondang asal Surabaya.

Pada masa awal dulu ia memulai dengan 3 desain kaos bertema Cak Kartolo cs. Memilih gambar Kartolo karena dirinya memang penggemar berat Kartolo.

Ia sempat membuat beberapa desain lain, tapi kemudian sempat vakum karena berbagai aktivitas yang lain.

“Kami membayar royalti ke Cak Kartolo, kami kirimi mereka (Cak Kartolo dan Ning Kastini) dan mereka seneng banget,” tutur perempuan alumnus Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Ia menceritakan, saat mulai bisnis dengan berbekal Rp 0. Hal ini karena pola berjualan adalah pihaknya menawarkan desain, pembeli memesan dan membayar, kemudian kaos diproduksi dan dikirim ke pembeli.

Terkait pemasaran produk ia menjelaskan, produk nyentrik dan unik tersebut dipesan pembeli mulai dari Malang Raya, Jatim, Sumatra, Kalimantan, Jawa, Lombok, dan Sulawesi.

Ia mengungkapkan, untuk menjalani bisnis tanpa dibantu karyawan. Untuk
desain digarap sendiri, untuk kaosnya pesan ke mitra, sablonnya pesan ke mitra, marketing digarap sendiri, dan melibatkan reseller.

Ulfah menuturkan, kaos yang dijual diproduksi sendiri dengan brand: The Kaosk dan reseller (dengan brand Feel Good).

Ulfah mengungkapkan, dirinya sengaja memilih tema Corona karena saat ini banyak orang terkena dampak Corona, baik yang tertular Covid–19, maupun masyarakat luas yang tidak tertular tapi terkena dampak ekonomi dan dampak sosial.

“Pekerjaan terhenti, di PHK, bisnis terganggu, tidak bisa kerja ke kantor, tidak bisa kuliah, tidak bisa mudik, terjebak di kota lain tidak bisa pulang. Ya kayak saya ini,” terang Ulfah.

Ia menjelaskan, situasi Corona ini menjadi sesuatu yang membekas dan tak terlupakan (memorable).

“Situasi Corona ini menjadi sesuatu yang membekas tak terlupakan (memorable). Kaos menjadi salah satu alat pengingat, bahwa Kita pernah ada di situasi dan kondisi tersebut dan mudah-mudahan Kita bisa melewatinya dengan baik, selamat, sehat, dan survive,” jelas Ulfah.

Ia mengaku mendapatkan omset lumayan besar. Sampai sekarang pesanan masih terus berdatangan.

Foto: Ulfah Hidayati Damamini. (ist)

Timnya bernama (nama lembaga) adalah HIDORA/Hiduplah Indonesia Raya, berkantor pusat di Banyuwangi, berkantor cabang di Slawi, Kabupaten Tegal.

Intens memulai ide berjualan kaos fokus bertema Corona sejak 2-3 minggu yang lalu (dimulai pada saat situasi Covid-19 marak). Sampai saat ini total pemesanan kaos sudah hampir 200-an potong kaos.

Ulfah mengatakan, harapannya adalah dalam situasi ini, semua dapat menjadi sebuah pembelajaran bersama tentang bagaimana survive, bagaimana bertahan hidup, dan bagimana tetap berpikir positif dan bagaimana tetap produktif dalam kondisi apapun. Harapannya banyak orang terinspirasi dan muncul geliat-geliat berbagai gagasan baru yang positif.

Ia menuturkan, Corona akan membuat banyak perubahan dalam kehidupan ekonomi dan kehidupan sosial, dan bukan tidak mungkin akan menjadi sebuah peradaban baru (new normal).

“Dimana tidak ada gunanya Kita mengeluh, atau menuntut. Kitalah yang harus menemukan cara untuk survive. Kami menyebutnya sebagai “Survival innovation” bagaimana berinovasi untuk bisa survive bertahan hidup dan bisa melihat peluang-peluang dalam kondisi apapun,” urai Ulfah.

Dikatakannya, berdagang (dalam bentuk apapun) adalah salah satu jalan, yang kata hadist Rasulullah disebutkan bahwa 9 dari 10 pintu rejeki ada dalam sektor perdagangan.

“Sebetulnya yang Kami kembangkan disini bukan hanya berdagang produk-produk sendiri, tapi Kami menyiapkan media berbasis digital untuk siapapun kawan maupun rekanan yang ingin menitipkan dagangan melalui media Kami (produk apapun), dan Kami juga menyediakan media ini untuk kawan-kawan yang tidak punya produk namun ingin berdagang, sebagai reseller,” ujar Ulfah.

Ia menamakan media tersebut dengan “multiviralmedia”, yaitu media berupa file pdf berukuran kecil, dengan desain menarik, dimana gambar-gambar di file multiviralmedia tersebut bila disentuh/di-klik akan masuk pada link-link database online (bisa google drive, sosial media, website, google form, atau telpon). “Multiviralmedia inilah gagasan original inovasi dari tim Kami,” papar Ulfah.

Sebetulnya gagasan utamanya bukanlah di kaosnya, tapi justru di multiviralmedia ini. Kaos sendiri hanyalah salah satu produk jualannya.

Diungkapkannya, saat ini sudah ada beberapa kawan dan rekanan yang sudah menitipkan dagangannya melalui media ini (nitip jual madu, jual APD, jual masker, produsen kaos lain), dan mulai banyak kawan atau rekanan atau kawannya kawan yang menjadi reseller dengan memanfaatkan multiviralmedia yang ia buat.

Hidup dengan LDR

Sementara itu, Bachtiar (suami Ulfah) kini berada di Medan dalam rangka menjalankan pekerjaan di Universitas Pembangunan Panca Budi (perguruan tinggi swasta di bawah naungan Yayasan Prof DR H Kadirun Yahya).

“Saya dan Tri Andri Marjanto, senior saya, diminta untuk mensupport Universitas Pembangunan Panca Budi untuk mengembangkan program Desa Binaan dan Pusat Inkubator, yang melibatkan dosen-dosen dan mahasiswa serta lembaga yang ada di kampus,” terang pria alumnus Mesin Universitas Brawijaya (UB) Malang ini.

Bachtiar mengungkapkan program ini mencakup pada sektor pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, yang diaplikasikan di desa binaan.

“Gara-gara situasi Covid-19 ini pekerjaan di lapangan terhambat karena tidak boleh ada kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang, dan kemudian berlanjut Kami tidak bisa pulang ke Jawa karena penerbangan tidak beroperasi terkait PSBB di berbagai kota,” papar Bachtiar.

Hal ini otomatis kehidupan mereka berjalan “long distance relation”. Karena sudah 2 bulan ini Ulfah dan Bachtiar menetap di dua tempat yang berbeda dan terjebak pandemi Covid-19.

“Sejak marak pandemi Covid-19, otomatis Kami terpisah selama sekitar 2 bulan ini. Kami berharap semuanya segera menjadi normal kembali. Sehingga kehidupan sosial dan ekonomi rakyat kembali pulih,” ujar Bachtiar. (had)