Bertutur Dalam Teduh “Catatan Kecil” tentang Warta WA Doktor Aqua Dwipayana

Foto: Yunanto, wartawan senior Malang Raya Harian Sore "Surabaya Post" 1982 - 2002. (ist)

Oleh: Yunanto

Bagaikan aliran sungai. Narasi dalam gaya bertutur mengalirkan warta (informasi). Lancar dan lincah. Mulai dari hulu sampai tiba di hilir, warta mengalir lewat medium WhatsApp (WA).

Hal yang juga menarik, nilai kadar aktualitas warta (elemen when) sangat tinggi. Lengket dengan elemen what dan who. Elemen why dan how atas what dan who pun dihadirkan dalam warta. Dahaga komunikan ihwal detil warta menjadi tergenapi.

Itulah kesan saya setiap kali membaca warta yang dirilis Doktor Aqua Dwipayana lewat medium WA.

Tinggi-rendah bobot nilai warta (news value) ditentukan oleh seberapa banyak komunikan mendapatkan manfaat dari warta dimaksud. Pasti, semakin banyak komunikan memperoleh manfaat, semakin tinggi news value warta dimaksud.

Saya cermati, news value itu ada di dalam warta yang dirilis motivator kondang ini, lewat jejaring WA. Tidak sekadar aktual dan informatif. Ada nilai-nilai moral, etika, dan religi termuat di dalam satu item warta. Menjadi tidak jemu membacanya.

Hormat Senior
Kendati tidak satu atap, tapi saya pernah satu profesi dengan motivator familiar ini. Seprofesi, sama-sama jurnalis di Malang, Jawa Timur. Hanya beda media massa. Saya di koran sore terbesar di Jawa Timur. Aqua berkarya di koran pagi.

Tentu, kala itu, jauh sebelum Reformasi ’98, ia belum sarjana strata tiga. Seingat saya, sarjana strata satu pun belum. Namun ia memang sosok pemuda ulet. Kuliah “nyambi” bekerja sebagai wartawan. Enerjik dan tidak segan menimba ilmu pada para senior.

Sebagai jurnalis yang lebih tua usia dan masa kerja, saya sempat mencermati kinerjanya di jagat publisistik praktika (jurnalistik). Memori saya merekam, ia sosok jurnalis muda, cekatan. Satu hal lain tak terlupakan, ia selalu mendahuli menabur senyum. Terlebih saat jumpa senior. Sangat santun.

Setelah puluhan tahun berlalu, Aqua Dwipayana menyandang predikat Doktor Komunikasi. Sukses sebagai motivator sekaligus ternama. Kendati demikian ia ternyata tidak lupa pada saya. Demikian pula pada para seniornya di jagat jurnalistik, di Malang Raya.

Pada suatu senja, setahun silam, penulis buku super best seller berjudul “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi” ini bertandang ke gubuk saya. Di pelosok desa, di kawasan Malang Selatan. Lumayan jauh dari jantung Kota Malang.

Cuaca gerimis. Mantan jurnalis itu tidak sendiri. Turun dari Toyota Kijang Innova hitam, ia ditemani istrinya Mbak Retno Setiasih. Di belakangnya turun pula Mbak Ira, mantan jurnalis, istri almarhum M. Djupri, seniornya jurnalis Malang Raya. Satu lagi teman pekerja bidang usaha di sebuah koran pagi, turut menyertai.

Tentu, saya tidak menduga bakal disambangi rombongan tamu penuh empati itu. Maklum, sejak usia saya sudah beberapa tahun melewati “kepala enam”, saya memang bertekun di rumah saja. Bukan lantaran Covid-19. Semata karena faktor kesehatan fisik dan usia.

Seperti karakternya tatkala masih berprofesi sebagai wartawan, puluhan tahun silam. Aqua Dwipayana tidak berubah. Ia tetap bersahaja. Menunjukkan rasa hormatnya pada senior dengan sangat santun. Ia berkisah ihwal perjalanan kariernya di jagat motivasi. Tak lupa ihwal kisah suksesnya menulis sejumlah buku, termasuk buku super best seller tersebut.

Ada perasaan ikut bangga di benak saya. Sungguh saya tidak menyangka. Jurnalis muda yang enerjik dan murah seyum puluhan tahun lalu itu, kini telah “menjadi orang” dalam arti kata sebenarnya. Sukses dalam karier. Berhasil pula membangun rumah tangga yang baik dan bahagia. Pendidikan anak-anaknya pun bagus. Sukses semua.

Selepas magrib, rombongan tamu orang-orang baik itu mohon pamit. Motivator ulung itu menyerahkan dua buku karyanya pada saya. Buku-buku super best seller. Sungguh, tulus saya akui, ia juga ninggali amplop. Untuk beli jamu, katanya.

Warta Teduh
Waktu terus berlalu. Hingga sekarang pun saya tetap rajin mengikuti warta yang dirilis Doktor Aqua. Disalurkan lewat jejaring WA. Langsung menembus ke nomor saya via jaringan pribadi (japri).

Tidak jarang saya baca lebih dari sekali. Terutama pada paragraf tertentu yang saya nilai bermuatan filosofi tinggi. Konkretnya, paragraf yang bermuatan etos, etika, fatwa dan sarat nilai-nilai religius. Terasa teduh usai membacanya.

Saya menyimpulkan, karya tulisnya bagaikan Sang Begawan bertutur dalam keteduhan. Sarat muatan etos, etika dan religius. Keteduhan seolah jangan berkesudahan. Seperti cinta kasih kepada sesama yang tiada berkesudahan pula.

Di akhir “testimoni” ini, saya jadi ingat kata-kata mutiara peninggalan almarhum Pak Hoegeng (Jenderal Pol. Hoegeng Iman Santoso). Almarhum adalah Kapolri pada era pemerintahan Presiden Soeharto.

Pak Hoegeng mengatakan, “Memang baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting menjadi orang baik”.

Meneropong Doktor Aqua Dwipayana dengan kacamata kata mutiara Pak Hoegeng, saya berkesimpulan ia telah memilih menjadi orang baik. Bukan menjadi orang penting. Konklusi itu nampak kasat mata dari aktivitasnya, kini.

Semoga orang baik ini selalu dalam kondisi sehat dan bahagia, sekeluarga. Aamiin.

Catatan Redaksi: Yunanto, alumni Sekolah Tinggi Publisistik – Jakarta.