Pendapatan Kota Malang Menurun Selama Pandemi Covid-19

Foto: Koordinasi Pemkot Malang. (ist)

BACAMALANG.COM – Badai pandemi Covid-19 menimbulkan pengaruh yang sangat besar bagi sendi-sendi kehidupan. Salah satu dampaknya yakni perekonomian dan pendapatan di kota Malang. Pendapatan di kota Malang sendiri mengalami penurunan sebesar 20,78 persen selama pandemi Covid-19.

Penurunan ini disampaikan Walikota Malang Sutiaji, saat rapat koordinasi bersama pimpinan Perangkat Daerah Pemerintah Kota Malang yang digelar di ruang sidang Balaikota Malang pada Selasa, 9/6/2020.

“Relatif lebih baik dari asumsi yang kita perkirakan di awal pandemi Covid-19 menyasar kota Malang sejak Maret. Saat itu kita perkirakan turun hingga 50 persen”, terang Sutiaji.

Secara tegas, Sutiaji mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membangun pola hidup baru. Hal ini dilakukan guna memperbaiki perekonomian di kota Malang.

“Tidak bisa tidak, kita harus memutar roda ekonomi, dan membangun pola kehidupan baru. Yakni menyelaraskan langkah upaya memutus mata rantai Covid-19 dengan upaya menggerakkan simpul – simpul ekonomi yang ada di kota Malang”, tegas Sutiaji.

Menurutnya, ada dua sektor yang survive dan menunjukkan trend positif selama masa covid yakni sektor e commerce dan produk makanan segar.

Walikota Malang juga menekankan kepada seluruh perangkat daerah untuk memulai menggerakkan program kegiatan yang mulai melibatkan partisipasi publik.

“Pada masa adaptif kita sudah tidak lagi social distancing, yang kita tekankan adalah physical distancing. Sehingga OPD jangan gamang apabila menggelar kegiatan yang melibatkan berbagai elemen, seperti gelar produk UMKM dan giat lain yang mampu menstimulus ekonomi daerah”, ujar Sutiaji.

Namun Sutiaji tetap menekankan kepada masyarakat untuk tetap berpedoman pada kedisiplinan prinsip – prinsip dasar protokol Covid-19 seperti menggunakan masker, pengukuran suhu tubuh, seluruh peserta dalam kondisi sehat, serta mengatur jarak dengan benar.

“Harus tersedia hand sanitizer secara memadai, tempat giat tersedia wastafel yang memadai, dan kapasitas ruangan tidak boleh lebih dari 50 persen”, tutup Sutiaji. (Lis/Red)