Pendidikan Non-Formal, Tambahan yang Utama

Foto: Ngopi Bareng Minggu Pagi di Pendopo Kembangkopi. (ist)

Oleh :Pietra Widiadi – Founder Pendopo Kembangkopi

BACAMALANG.COM – Tema diskusi “Ngopi Bareng Minggu Pagi” di Pendopo Kembangkopi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang 9 Agustus 2020 adalah Pendidikan Non-Formal, tambahan yang utama. Pendidikan seseorang dapat dipenuhi dari 3 pilar Pendidikan, yaitu Pendidikan formal, Pendidikan non-formal dan Pendidikan informal.

Dengan 3 pilar tersebut, mari Kita lihat secara lebih jauh apakah Pendidikan formal, yang menjadi tujuan utama adalah jalan utama dalam meningkatkan kualitas dari seseorang. 

Ngopi Bareng Minggu Pagi di Pendopo Kembangopi kali ini dibawakan oleh M Khoirul Fathihin, mahasiswa S2 Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Negeri Malang.

Pendidikan non-formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan dan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Meski pada sisi lain, Pendidikan non formal ternyata menjadi tumpuan utama bagi peserta didik yang tidak mendapat kursi di Pendidikan formal.

Gambaran contoh di Kabupaten Malang misalnya, dari data BPS th 2017-2019 menggambarkan bahwa ternyata terdapat kesenjangan sekitar 30% daya tampung sekolah, sebagai bentuk dari Pendidikan formal.

Gambaran tersebut nampak jelas, bahwa usia sekolah di atas 5 tahun ke atas tidak sekolah lagi berdasarkan data BPS Desember 2019, pada tahun 2018, 72,47% dan pada tahun 2019, 73,17%.

Dari sini jelas menunjukkan bahwa sekitar 30% warga tidak lagi melanjutkan Pendidikan karena keterbatasan daya tampung Pendidikan formal.

Dengan kondisi seperti itu, maka kekurangan itu setidaknya menjadi beban bagi Pendidikan non formal, seperti pelaksanaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat yang menyelenggarakan Pendidikan kesetaraan dalam kejar paket A-C.

Selain itu, juga mendorong perkembangan Pendidikan formal lainnya seperti diselenggarakan secara mandiri oleh warga masyarakat. Bentuknya beragam, bisa semacam pusat-pusat pelatihan dan Pendidikan ketrampilan dan life-skill. 

Kondisi ini, nampaknya sebuah peluang yang bukan hanya lebar tapi sangat luas sehingga Pendidikan non formal bisa menjadi tumpuan proses Pendidikan bagi warga negara yang tidak bisa menikmati Pendidikan yang diselenggarakan secara formal.

Kesempatan itu, sedang disiapkan oleh dial-foundation yang mewadahi pusat belajar masyarakat di Pendopo Kembangkopi. Dengan menangkap kesempatan ini, semoga yang diterima bukan kesulitan birokrasi, namun kemudahan dalam menyelenggarakan Pendidikan non formal bagi masyarakat.

Di Desa Sumbersuko saja, terdapat 2.238 orang yang tidak meneruskan Pendidikan dari SD ke SMP dan dari SMP ke SMA.

Dengan kesenjangan Pendidikan seperti itu, maka bukan hal yang sekedar patut disayangkan tetapi adalah sebuah kemandegan, dimana hak-hak sipil warga negara tidak bisa dipenuhi oleh negara.

Di sinilah, Pendopo Kembangkopi akan mengambil peran dalam melaksanakan Pendidikan non-formal sehingga kebutuhan Pendidikan warga negara bisa difasilitasi. Dimana ketrampilan dan wawasan hidup bagi warga negara dapat ditingkatkan. (had/red)