Program PM FISIP UB Sukses Tingkatkan Perekonomian Warga Desa Sidomulyo Blitar

Foto: Program PM UB dijalankan di Desa Sidomulyo Blitar. (ist)

BACAMALANG.COM – Dalam upaya meningkatkan perekonomian warga, program Pengabdian Masyarakat (PM) FISIP Universitas Brawijaya (UB) sukses melakukan pemberdayaan warga Desa Sidomulyo Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar baru-baru ini.

“Alhamdulillah Kami melakukan pengabdian masyarakat lewat program PM. Yaitu pengolahan sabut Kelapa dijadikan Coco viber dan sandal,” tandas Ketua PM Dhanny Septimawan Sutopo, S. Sos.M.Si, Rabu (9/9/2020).

Kelapa Melimpah

Sasaran daerah yang menerima pemberdayaan kali ini adalah Desa Sidomulyo, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar.

Desa ini memiliki modal sosial yang sangat bagus yang sangat mendukung program ini.

Desa Sidomulyo merupakan salah satu desa yang memiliki perbatasan laut dan dekat daerah hutan lindung Kabupaten Blitar.

Sehingga banyak potensi sumberdaya alam yang melimpah di daerah tersebut salah satunya pohon Kelapa.

Ironisnya, potensi pohon Kelapa yang melimpah di daerah tersebut, kurang dilihat sebagai sebuah peluang ekonomi yang dapat menopang kehidupan masyarakat.

Dalam program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Desa Sidomulyo ini terdapat beberapa program kegiatan yang telah dirancang dengan seksama oleh pihak tim dari UB, mitra beserta warga lokal Desa Sidomulyo.

“Tim Pengabdian UB bekerja sama dengan mitra dari Organisasi Sahabat Menanam di Kabupaten Blitar, bersama-sama memulai perencanaan kegiatan pengabdia setelah mendapatkan informasi mengenai berbagai macam potensi yang dimiliki desa tersebut,” terang Dhanny Septimawan.

Libatkan Pemuda

Setelah rencana program kegiatan dibentuk, maka dimulailah sosialisasi dan pemilihan pemuda Sidomulyo yang sekiranya mampu berkomitmen dalam kegiatan ini.

Kelompok Pemuda yang dipilih diajak berdiskusi mengenai objek kegiatan dan luaran apa saja yang diharapkan.

Terdapat dua luaran utama selain terbentuknya kelompok pemuda ini yaitu: pertama, kelompok pemuda ini diharapkan mampu membuat produk yang dapat dipasarkan dan menghasilkan income.

Kedua, dihasilkannya peta yang berisi informasi mengenai potensi alam yang dimiliki Desa Sidomulyo untuk membantu rencana pembangunan desa, sekaligus sebagai bagian dari mempromosikan potensi wisata alamnya.

Dalam upaya menghasilkan produk dari bahan limbah sepet (sabut) Kelapa, maka diberikan dua pelatihan yang terdiri dari pelatihan penyerutan Kelapa dan pelatihan pembuatan produk.

Pelatihan penyerutan Kelapa dilakukan dengan melakukan kunjungan di tempat penyerutan sekaligus kerajinan tangan di daerah Serang, Kabupaten Blitar.

“Dari pelatihan ini peserta akan mendapatkan pengetahuan mengenai jenis-jenis sabut Kelapa dan bagaimana cara membuat coco viber yang merupakan bahan utama untuk kerajinan tangan dari sabut Kelapa,” jelasnya.

Sandal Hotel

Kemudian pelatihan selanjutnya adalah pembuatan produk dari sabut Kelapa yang berupa sandal hotel.

Sandal hotel merupakan benda sekali pakai yang tidak ramah lingkungan. Dengan berinisiasi membuat sandal hotel dari bahan yang lebih ramah lingkungan ini, maka diharapkan menjadi ide produk yang menarik dan laku di pasaran.

” Kami membantu memasarkan dengan platform social media dan internet agar lebih efektif dan tepat sasaran,” imbuh Dhanny Septimawan.

Maksimalkan Google Earth

Sementara itu, anggota tim Anif Fatma Chawa mengatakan, Program PM kali juga menghasilkan luaran lain berupa pemetaan potensi desa menggunakan google earth.

Hal yang pertama dilakukan adalah survey lokasi-lokasi yang memiliki potensi di desa dan diambil gambarnya dan titik koordinasinya. Kemudian, pemetaan dilakukan dengan menpin-point nama lokasi sekaligus menambahkan informasi dan gambar di google earth.

Diharapkan peta ini nanti dapat membantu pemerintah desa dalam merencanakan arah pembangunan desa selanjutnya.

Selain itu dengan menambahkan foto dan informasi di google earth yang bisa diakses oleh siapa saja, diharapkan dapat menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung ke area-area wisata di Desa Sidomulyo.

Pemuda yang terlibat menunjukkan antusiasme pada kegiatan pengabdian. Akan tetapi dikarenakan kondisi pandemi Covid–19, menyebabkan beberapa kegiatan belum bisa dilakukan secara maksimal.

“Saya bersyukur karena komunikasi dan rapat yang dilakukan secara daring tidak menyurutkan semangat para pemuda yang terpilih dalam kegiatan untuk terus berkomitmen dalam kegiatan,” papar Anif.

Anif mengungkapkan, harapan lain adalah terbentuknya masyarakat yang tertarik dan mampu membuat produk limbah sabut Kelapa sebagai sumber ekonomi.

Selain itu diharapkan nanti ke depannya akan lebih banyak produk-produk yang dikembangkan dari pemanfaatan pohon Kelapa.

“Luaran hasil dari pemetaan di google earth akan membantu mengarahkan rencana pembangunan desa ke depannya dan mempromosikan potensi wisata alam Desa Sidomulyo,” kata Anif Fatma.

Lain Daerah

Program pelatihan pembuatan produk sepet ini bisa diterapkan di daerah yang menghasilkan limbah sepet dan belum dimanfaatkan dengan baik.

Misalnya daerah dengan geografis yang dekat dengan pantai. Sedangkan untuk pemetaan potensi bisa dilakukan dimana saja, asalkan mampu menggali potensi-potensi terpendam yang masih mampu dikembangkan. Program ini dimulai sejak Maret 2020 dan akan selesai September 2020.

Anif berharap program ini dapat terus tumbuh dan menjadi industri ekonomi kreatif yang mampu menopang ekonomi warga setempat ke depannya.

Sehingga nantinya kegiatan ini bisa menjadi inisiatif untuk munculnya kreatifitas-kreatifitas baru untuk perkembangan ekonomi Desa Sidomulyo, bahkan desa-desa lainnya agar menggali potensi yang mereka punya. ” Semoga program ini bisa bermanfaat lebih luas lagi dengan diterapkan di daerah lainnya,” pungkas Anif Fatma. (*/had)