Lestarikan Budaya Jawa, Perempuan Gunung Kawi Berkarya Lewat ‘Angenane Ati’

Foto: Aidha merilis Angenane Ati. (ist)

BACAMALANG.COM – Saat ini trend kebangkitan Budaya (Jawa) yang merupakan cerminan kearifan lokal semakin tumbuh pesat di tengah suasana pandemi seperti saat ini.

Selain seni Batik dan seni tari (flash mob tari Bapang), satu kebangkitan seni Jawa juga cukup terasa pada seni musik.

Tak hanya pada jenis iringan instrumen musik, namun juga pada menjamurnya kelahiran lagu-lagu dengan syair (lirik) berbahasa Jawa.

Publik sudah lama mengenal nama Didi Kempot, Via Valen, Cak Nan dan sederet penyanyi beraliran dangdut Jawa, dan campursari lainnya.

Namun kini nama-nama penyanyi Jawa tersebut bermunculan. Sebut saja nama Rendy Phurrba asal Tirtoyudo, dan Aidha Dhum asal Wonosari Kabupaten Malang.

Meski new comer ini tidak bersinergi dengan Label Major industri rekaman besar, namun mereka mempunyai cara tersendiri dalam mengekspresikan karya dan musikalitasnya.

Penyanyi-penyanyi ini melakukan sinergi dengan label musik independen yang mengenalkan hasil karya lewat media teknologi digital semacam YouTube.

Maka jika Kita ingin menikmati karya emas mereka, bisa melihat di YouTube, sembari menjadi subscriber dan turut mengelike serta memberikan komentar.

Salah satu yang layak mendapat apresiasi adalah Aidha Dhum, penyanyi multi talenta asal Gunung Kawi ini.

“Alhamdulillah saya hobi musik sejak kecil. Saya sekarang sudah merilis lagu ketiga yaitu Angenane Ati. Doakan sukses,” terang Aidha Dhum.

Tiga Single dan Easy Listening

Aidha menjelaskan hingga kini dia sudah merilis 3 singel. Yakni meliputi
Tak Enteni Lungamu ciptaan Sanjay Miralby. Kedua, Mak Comblang ciptaan Sertu Irvan, dan Angenane Ati ciptaan Wandie Charpet.

Aidha mengungkapkan, jenis musik bisa dibilang easy listening dan kebetulan rejekinya mendapatkan lagu jenis irama itu.

“Jenis musik bisa dibilang easy listening aja, dan kebetulan rejekinya dapet lagu itu. Jadi semacam sudah berjodoh. Nyawa lagu para penciptanya memang sudah klik dengan saya,” ujar Aidha.

Ia mengatakan, tantangan membawakan lagu lumayan berat. “Untuk membawa lagu baru yang Kita belum kenal tapi harus mengenakkan lagunya, latihannya benar-benar harus fokus. Dan mengenalkan ke publik juga harus penuh perjuangan, sambil mencari inovasi dan ide kreatif gimana supaya orang gak kenal lagunya mau nonton dan mendengarkan,” terang penghobi jurnalistik ini.

Aidha berharap karya-karya yang ia bawakan, bisa diterima masyarakat luas.

Talenta Ibu dan Idealisme-Aktualisasi

Aidha menceritakan jika almarhum ibunya suka pentas menyanyi bersama bapak (suaminya).

“Ibu suka pentas menyanyi bersama bapak saya. Jadi mereka pasangan menikah muda. Saya umur 5 tahun, ibu meninggal,” terang Aidha.

Aidha menguraikan neneknya kerapkali bercerita jika ibunya seringkali mengumplkan catatan lagu-lagu dan belajar bernyanyi.

“Jaman itu katanya ibu belajar lagu kenangan kayak lagunya Tommy J Pisa. Orang-orang (tetangga) juga cerita jika ibu pernah nyanyi duet di pentas 17-an sama bapakku,” ujar Aidha.

Dari situlah ia menyadari jika dirinya juga mempunyai bakat dan minat seni. “Aku baru sadar jika juga punya bakat disitu. Tapi kalau gak tak maksimalkan kayaknya sayang banget. Liat ibu sendiri bahkan belum kesampaian jadi penyanyi beneran keburu menghadapNYA. Dari cerita-cerita itu jadi termotivasi sendiri akhirnya,” papar Aidha.

Aidha mengatakan dirinya bertekad konsisten untuk terus bernyanyi. “Dan eksistensi dalam bidang ini buat nerusin cita-cita ibuku yang belum sampai terwujud sudah meninggal di usia muda,” papar Aidha.

Aidha mengungkapkan, meski easy listening, namun ia ingin tetap bersifat idealis. “Kalau aku easy listeningnya bukan yang ke pasaran jualnya. Tapi easylistening yang bersifat subyektif diriku sendiri. Karena aku terlalu berat menghafal kalau bagiku kurang sreg,” tukas Aidha.

Ia menilai tren musik saat ini selalu berubah (cepat berubah). “Jadi apapun yang saya bawakan dan karyakan saat ini minimal bisa buat bukti bahwa saya pernah berjuang dan eksis berkarya dengan hobi saya. Buat kepuasan aja, gak terlalu pingin yang cepet terkenal. Karena terkenal itu bonusnya,” imbuh Aidha.

Aidha mengatakan, saat ini minat generasi milleneal terhadap lagu Jawa meningkat. “Dan bisa jadi dikatakan semakin cepat beralih selera. Karena terlalu banyak lagu Jawa yang langsung cepat booming bisa jadi cepat bosan peminatnya. Jadi di lagu saya Angenane Ati, masih berbahasa Jawa tapi vokalnya saya bikin sedikit bernuansa rock, biar gak seperti lagu ambyar lainnya,” pungkas Aidha. (*/had)