Selamatan Bersih Desa Ngantru, Ini Pesan Kapolsek Ngantang

Foto: Kapolsek Ngantang AKP Suyatno, S.Sos (kedua dari kanan), saat menghadiri kegiatan acara Bersih Desa Ngantang. (hum)

BACAMALANG.COM – Bersih desa adalah salah satu contoh dari sekian banyak upacara yang ada pada masyarakat. Bersih desa seringkali digunakan untuk memperingati hari lahirnya desa, selain itu yang terpenting digunakan sebagai upacara mendoakan desa tersebut agar tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan bagi masyarakat desa yang bersangkutan.

Hal-hal yang tidak diinginkan atau disebut dengan bencana atau ‘’balak’’ tersebut diantaranya banjir, wabah, pencurian, kebakaran, gagal panen dan sebagainya, Bersih desa atau dapat disebut pula dengan Selamatan desa, adalah acara rutin tiap tahun yang diselenggarakan oleh warga masyarakat Ngantru.

Adapun tempat dibersihkan meliputi makam leluhur yang membedah Desa Ngantru (Bedah Krawang), balai desa, selokan-selokan, jalan-jalan, tandon dan saluran air, dan sepanjang aliran Kali Talang.

Desa Ngantru adalah salah satu desa yang ada di Kabupaten Malang, dimana terdapat 33 RT dan 16 RW. Desa ini setiap kali melaksanakan Bersih desa selalu menampilkan keunikan tersendiri. Keunikan tersebut dapat dilihat saat sebelum upacara dilaksanakan.

Diadakan penampilan kesenian antar RT, Pagelaran Tayub selama 2 hari, dan upacara inti yang dilaksanakan di kali talang. Selamatan Desa Ngantru ini dilaksanakan selama 2 hari, dimana hari tersebut diyakini sebagai hari yang sakral oleh warga desa setempat.

Bertempat di Desa Ngantru, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Ngantang, telah di laksanakan rangkaian kegiatan bersih desa mulai pukul 06.00 sampai dengan 20.00 WIB, Selasa (9/3/2020).

Kegiatan acara itu juga dihadiri oleh Kapolsek Ngantang AKP Suyatno, S.Sos, Serka Nanang yang mewakili Danramil, Perangkat Desa, Kepala Desa Ngantru Setyo Budi, Kepala Desa Se Kecamatan Ngantang, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, Tokoh Adat, Ketua RT/RW Desa Ngantru beserta Masyarakat Desa Ngantru dan sekitarnya.

Tokoh Masyarakat, Suritno dalam sambutanya mengatakan, bahwa Desa Ngantru adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Ngantang dimana Desa ini terhitung sebagai desa kuno yang dibuka awal berasal dari hutan belantara dan nama Ngantru sendiri artinya adalah menunggu atau beristirahat.

“Ada salah satu versi asal muasal desa tersebut yakni keberadaan Ki Demang Radi Kupo, yang dianggap sebagai orang yang pertama kali membuka dan membabat hutan belantara di wilayah tersebut. Ki Demang sendiri adalah penggawa dari Kerajaan Mataram. Wilayah hutan yang berada di lereng Gunung Amping tersebut memang terbilang menyeramkan, Karena selain sangat jauh dari permukiman penduduk, di sana juga masih terdapat banyak sekali hewan buas sehingga sering dikatakan jika ke hutan Ngantru akan seperti ‘Jalmo moro, Jalmo mati’, artinya tiap manusia yang datang pasti akan mati karena banyak nya binatang buas yang tinggal disana,” kata dia.

Saat Ki Demang membuka hutan, lanjut Suritno, dia tidak tersebut tidak, namun dibantu oleh pengikut atau pengawalnya yaitu Ki Rajekwesi, Ki Joko Untung, Ki Jalijarang, Ki Tedjo Sadewo, Ki Jenggot Samber Nyowo, Ki Sunan Muliono, dan Ki Kartubi. Dikisahkan, dalam perjalanan menuju hutan tersebut mereka berhenti di sebuah tempat yang bernama Brukan. Saat ini Brukan yang dimaksud adalah perbatasan Desa Ngantru dengan Banturejo.

“Pesona alam di wilayah Ngantru yang dekat dengan pegunungan membuat Ki Demang yang beristirahat tadi memutuskan untuk membuka hutan, di sisi lain, tanah hutan yang sangat subur membuat mereka bisa bercocok tanam dengan baik akhirnya Ki Demang berikut kerabat dan juga pengikutnya disebut sebagai bedah kerrawang Desa Ngantru atau orang yang pertama kali tinggal. Sampai beliau wafat kemudian tampuk kepimpinan di pegang oleh Ki Rajek Wesi, tapi pada waktu itu belum tertata sistem pemerintahan seperti saat ini, baru setelah sampai pada sosok pemimpin yang bernama Yung Darinah, dirinyalah yang mengawali adanya sistem pemerintahan di wilayah tersebut dan akhirnya memberi nama Ngantru yang berasal dari kata Antru yang artinya menunggu,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Camat Kecamatan Ngantang yang di wakili Sekcam, Imam Budiono juga menyampaikan ucapan rasa syukur kepada Allah SWT, atas limpahan karunianya pada hari ini dapat hadir dalam rangkaian kegiatan bersih desa.

“Terimakasih kepada seluruh masyarakat Desa Ngantru yang masih memegang teguh adat istiadat, dimana masyarakat Ngantru masih mengakui kelestarian alam dari yang maha kuasa yang telah di berikan kepada kita semua. Dengan berlangsungnya kegiatan Bersih Desa atau dapat disebut pula dengan Selamatan Desa,” ungkap dia.

Ditambahkan Imam, dimana kegiatan ini dilaksanakan secara rutin tiap tahun yang diselenggarakan oleh masyarakat. Khususnya saat ini, Desa Ngantru masyarakat akan lebih dapat bersyukur dan menambah nilai kepercayaan dengan menjunjung nilai adat istiadat serta memegang teguh nilai budaya yang selama ini sudah terjaga puluhan tahun silam.

“Ya, dengan harapan semakin mempererat hubungan antara manusia dengan sang pencipta, artinya manusia dengan manusia manusia dengan alam manusia dengan sekitar,” tukas dia.

Sementara itu, Kapolsek Ngantang AKP Suyatno, S.Sos mengaku sangat mengapresiasi terkait dengan kegiatan acara bersih desa tersebut.

“Ya, kami (Polsek Ngantang) mengapreasi atas dilaksanakannya kegiatan ini. Karena giat ini sebagai dalah satu wujud syukur yang dilakukan warga. Selain itu, kegiatan ini memang telah menjadi budaya dan telah turun temurun dari nenek moyang leluhur,” pungkasnya.

Kegiatan di lanjutkan dengan Kenduri yang di ikuti oleh seluruh undangan dan masyarakat yang hadir. (Eko)