Kontroversi Postingan dr Fika, Ini Penilaian Pakar Komunikasi UB

Foto: Rachmat Kriyantono, S.Sos., M.Si., Ph.D. (ist)

BACAMALANG.COM – Akademisi FISIP Universitas Brawijaya Malang Rachmat Kriyantono, S.Sos., M.Si., Ph.D menilai kontroversi postingan dr Fika asal Malang, dipicu karena kelupaan identitas (jati) diri, sehingga lepas kontrol.

“Itulah medsos. Karakter medsos yang virtual, bisa membuat orang lupa jati diri atau self-identitynya. Sehingga tindakannya lepas kontrol (out of control),” tandas Rachmat Kriyantono, Rabu (9/6/2020).

Seperti diketahui, meski telah dihapus oleh dr Fika, namun postingan tersebut menuai sorotan tajam dari netizen termasuk dr Tirta selaku tenaga medis Covid-19.

Dalam postingan tersebut, Dokter Fika mengunggah foto dirinya tengah berpose di samping mobil BMW berwarna hitam. Dalam keterangannya, Fika Kartika meminta netizen untuk memilih mobil mewahnya atau foto dirinya.

“Pilih mana mas, aku-nya apa mobilnya?,” kata dokter Fika lewat Twitter yang dibagikan pada 7 Juni 2020.

Meski telah minta maaf, jejak digital memang “kejam” karena cukup banyak netijen yang masih menyoal postingan tersebut.

Lupa Jati Diri

Rachmat Kriyantono mengatakan, karakter medsos yang virtual, bisa membuat orang lupa jati diri atau self-identitynya. Seakan-akan identitasnya ikut menjadi virtual. Komunikasi virtual membuat tidak ada lagi ada sekat-sekat geografis, budaya, bahkan akhirnya identitas sosial.

Karena komunikasi virtual, tidak secara langsung melibatkan simbol-simbol fisik sehingga orang menjadi lupa rasa malu, ewuh pakewuh, dan tepo sliro.

“Dulu ghibah (seperti ngrasani, fitnah, mengolok-olok) lebih terbatas antar-individu jika bertemu, sekarang sifatnya berjamaah lewat FB, Twitter atau WA, dengan memunculkan istilah baru, yakni Hoaks,” jelas pria yang juga dosen FISIP UB ini.

Rachmat menjelaskan, ketika orang berkomunikasi, orang membutuhkan feedback sebagai kontrol sosial terhadap pesan dan cara komunikasinya.

“Feedback ini lebih nampak jelas ketika komunikasi face to face langsung, baik itu feedback fisik maupun emosional dari lawan bicara,” imbuh alumnus Komunikasi & Public Relations, School of Communication, Edith Cowan University, Western Australia tersebut.

Rachmat mengungkapkan, semua ini hilang ketika komunikasi dilakukan menggunakan medsos karena lawan bicaranya cenderung virtual.

“Komunikasi virtual lebih mudah mendorong orang memiliki jati diri baru. Expression given on di media sosial menjadi berbeda daripada expression given on di dunia nyata, karena minim feedback langsung dari lawan bicara,” tukas pria alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas tersebut.

Rachmat menjelaskan, seperti lagunya Godbless, Panggung Sandiwara, media sosial memunculkan panggung baru yang berbeda dengan panggung di kehidupan nyata sehari-hari. Bisa dengan sengaja atau direncanakan dengan sengaja.

“Dokter Fika tampaknya mengalami kelupaan identitas sosial, sehingga berkomunikasinyapun out of control. Seakan-akan dia memiliki identitas baru di media sosial. Expression given on yang ditampilkan di media sosial pun menjadi aneh dan bertentangan dengan identitas sosialnya sebagai dokter, yakni identitas kelompok intelektual yang mestinya taat hukum, tidak mengesankan diri sombong, dan punya empati sosial tinggi,” terang pria alumnus SMAN 5 Surabaya ini.

Sense of Crisis Hilang

Rachmat menguraikan, empati sosial (sambung roso sosial) ini dibutuhkan juga karena profesi dia sangat terkait dengan keprihatinan nasional, yakni pandemi Covid-19 sekarang ini. Dengan bahasa lain, kelupaan identitas diri di dunia virtual menyebabkan hilangnya sense of crisis.

“Kelupaan identitas diri di dunia virtual menyebabkan hilangnya sense of crisis,” ujar Rachmat.

Rachmat memaparkan, peristiwa ini juga makin mengukuhkan bahwa komunikasi bersifat irreversible, yakni twit dan foto yang sudah menyebar tetap akan memiliki dampak pada orang lain meskipun twit dan fotonya dihapus. Komunikasi juga bersifat mana suka dalam memaknai pesan. Jadi, tidak salah ketika orang memaknai rambu dilarang parkir sebagai bentuk pelanggaran.

“Saya kira, peristiwa ini bisa dijadikan renungan bagi semua orang untuk lebih bijak dalam bermedsos. Rambu-rambu etika komunikasi tetap sama meskipun media komunikasinya berbeda. Etika komunikasi ini terbangun dari nilai-nilai budaya kemasyarakatan dan agama. Jika lupa etika komunikasi ini maka yang terjadi adalah kelupaan identitas diri,” jelas Rachmat.

Rachmat mengatakan, karena itu, sebuah isu lebih mudah ramai
di media sosial, karena lebih mudah manipulasi simbol dan lebih mudah mempengaruhi orang karena bersifat virtual itu.

“Peristiwa ini mendapat perhatian netijen karena menyangkut public figure, yang diharapkan menjadi teladan masyarakat,” terang Rachmat mengakhiri. (Had/Red)