Laka Maut Sumberpucung, PBJ Tanggapi Terkait Pemutaran Gending Jawa Keras-keras

Foto: Laka maut Sumberpucung. (ist)

BACAMALANG.COM – Peristiwa tewasnya 3 penumpang mobil Daihatsu Xenia nopol N-1784-EU yang bertabrakan dengan KA Dhoho di perlintasan di Desa Ngebruk Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang selayaknya menjadi pelajaran untuk selalu meningkatkan kewaspadaan dalam berlalu-lintas.

Menariknya, adanya temuan jika pengendara memutar musik gamelan pada saat sebelum kecelakaan terjadi, menjadi sebuah pelajaran tersendiri.

Tidak hanya menjadi peringatan akan pentingnya konsentrasi dalam mengemudi, namun juga dibutuhkan kewaspadaan untuk selalu berhati-hati saat berada dimanapun.

Sekilas info, dari pemberitaan salah satu media online diketahui jika terdapat fakta baru dari hasil penyelidikan polisi, jika suara kencang yang menyerupai gending Jawa yang terdengar dari dalam mobil, saat proses evakuasi berlangsung tersebut, menyebabkan 7 orang rombongan terlibat kecelakaan maut.

Polisi mengatakan, lantaran ada suara musik gending Jawa itulah, diduga jika musik yang terdengar nyaring itu, membuat pengemudi tidak fokus saat berkendara.

Alhasil, saat melewati perlintasan kereta api, mobil yang berisi 7 orang rombongan arisan tersebut, disambar kereta api (KA) Penataran nomor lokomotif CC2017712.

Mengundang

Musik gamelan yang mengandung unsur gending dan instrumen kenong pada sebagian kalangan orang Jawa dipercaya bisa mengundang hadirnya makhluk astral alias makhluk ghaib.

“Memang ada alat gamelan yang punya frekuensi sama dengan frekuensi yang dimiliki oleh penghuni di dunia lain (makhluk astral). Musik ini istilahnya diduga menimbulkan aura negatif yang membuat sopir terlena saat melintas,” tutur Pecinta Budaya Jawa (PBJ) Supriyadi, Jumat (11/9/2020).

Pria yang juga jurnalis senior media kriminal ini menjelaskan lebih mendalam. Ia mengatakan, musik itu nadanya menggema jika ditabuh. Contohnya kenong yang dipukul berdurasi sama, dalam pentas Jaranan.

“Hal Itu diyakini bisa menghadirkan makhluk lain untuk masuk ke tubuh penari Jaranan yang dikehendaki pawang tari,” tandas pria asli Surabaya ini.

Pria yang akrab dipanggil Cak Pri ini lantas mengungkapkan pada seni Jaranan, instrumen Kenong misalnya, menjadi alat musik yang berperan vital dalam proses trance (kesurupan ) sang penari.

“Coba kalau ada pentas Jaranan. Nanti kalau waktunya memasuki penari trance, akan terdengar Kenong ditabuh beberapa kali dengan durasi waktu yang sama. Sedangkan sindennya melantunkan tembang berisi mantra mendatangkan roh gaib. Dan beberapa saat kemudian penari akhirnya kesurupan,” urai Supriyadi.

Karena itu dalam masyarakat Jawa, masih kental kepercayaan saat melewati daerah yang dianggap wingit, pengendara motor/mobil/truk disarankan membunyikan bel dan uluk salam sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.

“Hal ini sangat disarankan saat pengendara utamanya melintasi punden atau makam di tepi jalan. Namun semua itu bergantung kepada kepercayaan masing-masing,” pungkas Supriyadi. (had)